Home

Studi Kasus : Berita  Penurunan Patung Amithaba Tanjungbalai 

Resolusi Konflik dengan  Jurnalisme Damai
Pemberitaan demokratis selalu memuat nilai-nilai kebebasan beragama, hak atas penghidupan yang layak, hak atas pendidikan, penyelesaian konflik secara damai dan melembaga (institutionalized peaceful  settlement of conflict), kesetaraan gender, penghargaan pluralitas (mengakui dan menghargai keanekaragaman masyarakat, pendapat, kepentingan, tingkah laku, suku, agama dan etnis. Tidak memaksakan pendapat dan kehendak melalui tindakan intimidasi maupun kekerasan fisik, dan tidak ada diskriminasi dalam hal apapun.

Namun ini bukan persoalan mudah bagi media. Sudah terlalu lama media dijadikan alat propaganda. Selama beberapa dekade melalui dua perang dunia, tak terbilang konflik ditingkat regional, media massadunia—termasuk Indonesia—telah dijadikan senjata paling efektif dalam perang. Tak terbilang jurnalis yang mengabaikan profesionalitas dan bersalah karena mendorong kebencian komunitas, penghasut perang. Setiap jurnalis dihadapkan pada tantangan professional untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat yang untuk menentukan kedamaian dan demokrasi  harus menggantungkan diri pada sistim tak bermoral.[1]

Sehingga ketika memberitakan kasus-kasus pluralisme, media jadi terbiasa memproduksi  rasisme dan diskriminasi  dalam bentuk yang tersamar, penuh prasangka, tidak langsung dan implisit. Ini terbukti dimana mediamassa  menggambarkan kelompok lain sebagai ancaman dan para pendatang didefinisikan sebagai pelanggar hukum, tatanana budaya, aturan dan nilai.  Hal inilah yang masih nampak dalam pemberitaan kasus penurunan Patung Budha Amithaba di Tanjungbalai. Keberadaan Patung Amithaba masih dinilai sebagai ancaman  dan merusak nilai-nilai tatanan yang ada.

Sehingga untuk kasus ini media sebaiknya melakukan resolusi konflik dengan menerapkan yang namanya jurnalisme  damai. Persfektif jurnalisme yang dirumuskan Annabel McGoldrick dan Jake Lynch ini diarahkan untuk menyelesaikan konflik, bukan meningkatkan skala konflik. Tuntutan seperti ini membuat jurnalis ekstra hati-hati  ketika merenkontruksi pernyataan narasumber, terutama pada tahap penulisan berita.Dengan jurnalisme damai, penyelesaian kasus patung Budha  Amithaba tidak harus dikotomis :Turunkan atau pindahkan ke tempat lain. Model seperti ini adalah jurnalisme kalah-menang (perang). Yang menjadi focus berita /liputan  jurnalis adalah bagaimana pihak-pihak dapat berbicara bahwa keberadaan Patung Budha di Atap Vihara Tri Ratna itu adalah bagian dari harmonisasi keberagaman Agama dikota Tanjungbalai. (Selesai)


[1] Diskriminasi Rasial: Panduan bagi Jurnalis, LSPP, tahun 2000 halaman 83.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s