Home

Medan, (Analisa), 27 Juli 2011

Dalam memberitakan isu pluralisme, media diharapkan menjadi wadah perbedaan pendapat yang sehat, artinya peSeminar Riset Pemberitaan Penurunan Patung Buddha Amitahbamberitaan media tidak bertendensi memojokkan kelompok yang saling berseberangan.

Hal ini dikatakan Pemilianna Pardede, analis media KIPPAS, dalam Seminar Analisis Isi pemberitaan Isu Penurunan Patung Budha Amithaba yang diadakan Yayasan KIPPAS – Alinsi Sumut Bersatu dan Yayasan TIFA Jakarta di Medan, Senin (25/7).

Menurut Pemilianna Pardede, keberadaan Patung Amithaba di Vihara Tri Ratna, Tanjungbalai sejak Juni 2010 telah dipermasalahkan sebuah organisasi yang menilainya sebagai berhala serta tidak mencerminkan nilai Islami Kota Tanjung Balai. Sejumlah media massa, memberitakan kasus tersebut.

Hasil kajian yang dilakukannya memperlihatkan bahwa pemberitaan media terhadap isu yang bernuansa SARA itu tidak ketat dalam menerapkan asas cover both side. Pemilianna mengatakan bahwa pihak Vihara tak diberi ruang yang cukup untuk memberikan pembelaan mereka dalam pemberitaan media. Akibatnya pemberitaan media jadi berat sebelah.

Menurutnya, cover both side saja sebenarnya tak cukup diterapkan media dalam meliput kasus tersebut.

Narrative Tolerance

“Media harus cover all sides. Media seharusnya melakukan wawancara dengan stake holder lain seperti suara umat Kristen, Hindu, Khonghucu atau aliran kepercayaan lainnya. Pihak-pihak lain ini memang berada di luar pusaran konflik, namun mereka adalah pihak yang akan terimbas jika konflik tersebut tak diselesaikan secara arif dan merugikan satu pihak.

Sebagai agen demokrasi, media juga dituntut untuk berupaya menciptakan hubungan antar suku bangsa, agama dan budaya dalam suasana damai, penuh kemengertian dan persahabatan. Itu sebabnya pemberitaan kasus tuntutan penurunan Patung Buddha di Tanjungbalai sebaiknya diarahkan agar bersifat narrative tolerance.

Namun yang terjadi sebaliknya, yang menguat adalah narrativ intolerance, di mana pemberitaan media berkesan seolah-olah masyarakat tak mungkin hidup berdampingan, pelit toleransi secara rukun dan damai.

Subyektivitas

Sementara itu Aufrida Wismi Warastri, jurnalis Kompas yang tampil bersama Budi Agustono, MA pengajar pada Fakultas Ilmu Budaya USU USU Medan sebagai pembahas mengatakan bahwa subjektivitas jurnalis sudah mulai terjadi ketika seorang jurnalis berdiri di lokasi kejadian dan dalam memilih angle yang akan dilaporkan kepada pembaca.

“Perspektif jurnalis akan sangat memengaruhi berita yang ditulis jurnalis,”katanya. Ia juga menilai tentang peran editor yang sangat penting. Surat kabar tempatnya bekerja, menurutnya sangat berhati-hati ketika menurunkan berita yang menyinggung soal SARA. Para editor mempunyai visi yang maju tentang pluralisme, sehingga bisa memberi wawasan pada jurnalis muda yang ada di lapangan.

“Karena itu jurnalis tahu tentang apa yang sebaiknya yang disajikan kepada pembaca. Kalau naskahnya masih salah dikembalikan untuk diperbaiki lagi,”katanya.

Sedangkan Budi Agustono menyoroti tentang hilangnya informasi latar dalam pemberitaan tersebut. Jika berita kehilangan latar atau konteks, maka pemahaman pembaca menjadi tidak komplit. (rrs)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s