Home

Ecw- 02

 Edisi Selasa, 26 Juli 2011

 MedanBisnis Medan

 

 

 

Menyoal isu pluralisme, pemberitaan media dinilai masih belum Berimbang. Padahal jika menilik kepada salah satu fungsi media yakni sebagai media pen­didikan, pemberitaan yang berimbang dan tidak hanya menggunakan narasumber dari satu pihak menjadi mutlak untuk memberi pencerahan bagi pembacanya.

 

Hal tersebut terungkap dalam seminar Jurnalisme Narrative Intolerance dalam Isu Pluralisme yang digelar atas kerjasamaYayasan Kippas, Aliansi Sumut Bersatu (ASB) dan Yayasan Tifa di Koki Sunda Senin, 25 Juli. Seminar tersebut mengangkat kasus penu­runan patung Budha Amithaba Vihara Tri Ratna di Kota Tanjungbalai pada 30 Mei setahun rang lalu.

Menurut pendapat Pemilianna Pardede selaku me­dia analys Kippas mengatakan, hingga saat ini masih ada media yang belum berimbang dalam memberitakan suatu kasus.

Dia mencontohkan dalam kasus penurunan patung di Tanjungbalai, ada lima media yang diteliti menunjukkan ketidakberimbangan. “Ketidakberim­bangan tersebut bisa dilihat dari narasumber yang tidak cover both side, misalnya hanya mengambil narasumber dari orang yang dianggap tokoh, kemudian para elit, sementara dari unsur masyarakat tidak ada,” katanya kepada MedanBisnis (25/7).

 

Sementara itu, Wismi Aufrida Warastri, salah seorang pembicara dan jurnalis Kompas mengatakan, dalam pemberitaan, editor sangat berpengaruh dalam menentukan layak atau tidaknya berita. Maka, ketika wartawan dan editor “belum selesai” dalam problem pluralisme dan multikulturalisme yang dihadapi oleh bangsa ini, mereka akan kerepotan menyajikan berita yang berimbang. “Selain itu dengan kejaran waktu deadline, hampir sulit bagi wartawan untuk lebih menaikkan pemahamannya tentang isu yang lebih progres,”ujarnya.

Menurut Budi Agustono, salah seorang pembicara yang juga staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Uni­versitas Sumatera Utara (FIB USU) mengatakan, terjadi perebutan ruang publik untuk menonjolkan suatu identitas etnis tertentu. “Permasalahannya adalah bagaimana perumusan identitas itu dan kepentingan siapa, kita harus ingat bahwa Tanjung Balai adalah wilayah dengan budaya yang dinamis,”ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s