Home

Riset Berita Disharmoni Syamsul-Gatot Di Harian Analisa, Waspada, SIB, Sumut Pos, Seputar Indonesia dan Tribun Medan Edisi 08 Februari-15 Maret 2011

Oleh:

Pemilianna Pardede, Analis Media KIPPAS

Isu tentang ketidakharmonisan antara Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin dan Wakil Gubsu, Gatot Pujonugroho,ST,berawal dari kunjungan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumatera Utara, Budiman Nadapdap Ke Rumah Tahanan Salemba Jakarta dimana Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin sedang ditahan dalam Kasus Dugaan Korupsi APBD Langkat Senilai Rp.102,7 Milyar. Dalam kunjungan tersebut, Syamsul Arifin “curhat“ Kepada Budiman bahwa sejak dirinya ditahan, Wagubsu H. Gatot Pujonugroho, ST, tidak mau lagi berkomunikasi dengannya, ditelepon tidak diangkat, di-sms juga tidak dibalas. “Curhat” Syamsul ini disampaikan Budiman Nadapdap dihadapan para anggota dewan usai rapat paripurna DPRD membahas Pansus Pengendalian Pencemaran Udara di gedung DPRD Sumut pada tanggal 7 Februari 2011.

Menurut Budiman, banyak SK (surat keputusan) yang sudah ditandatangani Gubsu Syamsul Arifin, termasuk SK pelantikan sejumlah pejabat defenitif dan sejumlah pejabat Plt (pelaksanan tugas) tapi mereka tak kunjung dilantik Wagubsu Gatot Pudjo Nugroho tanpa alasan jelas. Keesokan harinya informasi yang disampaikan Budiman Nadapdap ini terbit diberbagai surat kabar dan ditafsirkan oleh sejumlah media sebagai adanya ketidakharmonisan (disharmoni) antara Syamsul-Gatot.

Isu disharmoni ini oleh media dikembangkan dan dikaitkan dengan berbagai kebijakan Syamsul di Pemprovsu yang tidak melibatkan Gatot Pudjo Nugroho. Misalnya pelantikan pejabat eselon II dan sejumlah pejabat BUMD.Beberapa elit politik dilingkungan Gatot terutama dari PKS membantah adanya disharmoni Syamsul-Gatot, hanya Syamsul kurang melibatkan Gatot dalam berbagai kebijakan.Isu keretakan/disharmoni ini dibuat untuk memojokkan Gatot . Sedangkan beberapa politikus dari dilingkungan Gubsu terutama Partai Golkar menilai isu disharmoni justru untuk memojokkan Syamsul Arifin selaku Gubernur Sumut yang saat ini sedang tersandung kasus korupsi dan ditahan di Rutan Salemba Jakarta.

Ketua Fraksi PKS DPRD Sumatera Utara Hidayatullah membantah keras adanya disharmoni Gubsu-Wagubsu. Sementara Wakil sekretaris DPD Partai Golkar, Riza Fakhrumi Tahir, isu disharmoni itu jelas-jelas memojokkan Syamsul Arifin dan sudah diperlihatkan PKS jauh sebelum isu ini diungkap PDI Perjuangan. Menurut Riza Fahrumi, ada dua isu yang dibawa PKS untuk memojokkan Syamsul Arifin melalui Media, pertama Syamsul membagi-bagi jabatan BUMD kepada kolega-kolega dekatnya, dan kedua Syamsul Arifin tidak melibatkan Wagubsu dalam pengangkatan sejumlah pejabat eselon dua pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Media massa sangat berperan untuk mendorong penyelesaian kasus disharmoni ini. Apalagi pihak yang “berkonflik” adalah dua pemimpin tertinggi di Sumut yaitu Syamsul-Gatot. Isu seperti ini umumnya mendorong kalangan media untuk menghadirkan suatu diskusi dimana semua pihak dapat menyuarakan pendapat dan penafsirannya tentang kasus itu sendiri dan masalah sosial yang terkandung didalamnya.Tidak heran jika media massapun menjadi arena perang retorika atau perang simbolik antara elit Politik, elit Partai politik, kalangan DPRD, Pengamat Sosial, pengamat pemerintahan, LSM, dan pihak lain yang berkepentingan dan tertarik dengan kasus ini.

Pertanyaan, bagaimana peran media massa melakukan fungsinya sebagai kontrol sosial (pengawas) dalam memberikan pencerahan kepada pihak yang berkonflik dan membantu menyelesaikan disharmoni Syamsul-Gatot ini.

Bagaimana media memaknakan kasus ini dan seperti apa frame media ketika memberitakan kasus disharmoni ini. Untuk melihat bagaimana media di Medan memaknai kasus disharmoni dan Solusi yang ditemukan Kippas meneliti 6 media sebagai sampel yaitu Analisa, Waspada, Sumut Pos, SIB, Seputar Indonesia dan Tribun Medan edisi 8 Februari sampai 15 Maret 2011.

Ke-enam surat kabar dipilih dengan asumsi Analisa, Waspada, SIB dianggap sangat representatif untuk mewakili media yang terbit di Sumut, sedangkan Sumut Pos adalah media yang lahir era reformasi dan masih eksis sampai sekarang. Harian Tribun Medan dan Seputar Indonesia sebagai surat kabar pendatang baru yang juga punya segmen pembaca di Sumut.

Sampel Penelitian adalah semua berita yang tentang disharmoni Syamsul –Gatot pada 08 Februari-15 Maret 2011. Batasan edisi 8 Februari dipilih karena isu disharmoni muncul pertamakali di Media sedangkan Tanggal 15 Maret 2011, Saat Syamsul Arifin resmi sebagai terdakwa dan sudah menjalani Sidang pertamanya pada 14 Maret di Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta.

Sepanjang periode riset diperoleh 23 berita disharmoni Syamsul-Gatot.Tribun Medan 8 berita, Sumut Pos 5 berita, Waspada dan Seputar Indonesia masing-masing 4 berita sedangkan Analisa dan Sinar Indonesia Baru masing-masing 1 berita, seperti tabel berikut :

Tabel Jumlah Berita Disharmoni Syamsul-Gatot No Nama Surat Kabar

Jumlah Berita Persentasi

1. Analisa 1  (4,34%)

2. Waspada 4 ( 17,3%)

3. SIB 1  (4,34%)

4. Sumut Pos 5  (21,7%)

5. Seputar Indonesia 4 17,3%

6. Tribun Medan 8 34,7%

Jumlah Berita 23 100%

Metode Penelitian

Untuk melihat bagaimana media memandang kasus disharomoni Syamsul-Gatot ini, dipakai analisis framing suatu pendekatan analisis untuk mengetahui bagaimana persfektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menseleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau persfektif ini pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang lebih ditonjolkan dan dihilangkan, dan hendak dibawa kemana berita tersebut.

Pendekatan analisis yang digunakan adalah konsep Entman, yang merujuk pada empat struktur besar yaitu pemberian defenisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam satu wacana untuk menekankan kerangka berpikir tertentu terhadap peristiwa yang diwacanakan.

Defenisi (define problems) adalah elemen yang pertamakali dapat dilihat mengenai framing. Elemen ini adalah master frame/bingkai utama yang menekankan bagaimana peristiwa dipahami jurnalis.

Penjelasan (Diagnose causes) merupakan elemen framing untuk membingkai siapa saja yang dianggap sebagai aktor dari suatu peristiwa.

Evaluasi (Make Moral Judgement) adalah elemen framing yang dipakai untuk membenarkan/memberi argumentasi pada pendefinisian masalah yang sudah dibuat. Sedangkan elemen terakhir dari konsep Entman ini adalah penyelesaian

(Treatmen Recommendation) yaitu elemen yang dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan dan jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah.

 Framing  Dan Media

Media massapada dasarnya adalah ruang diskusi publik tentang suatu masalah yang melibatkan tiga pihak, yaitu wartawan, sumber berita,dan khalayak. Ketiga pihak itu berdasarkan keterlibatannya pada peran sosial masing-masing dan hubungan diantara mereka terbentuk melalui operasionalisasi teks yang mereka konstruksi.

Pendekatan framing memandang wacana berita sebagai arena perang simbolik antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan pokok-pokok persoalan wacana. Setiap pihak menggunakan bahasa simbolik atau retorika dengan konotasi tertentu untuk menonjolkan klaim, kontruksi sosial, dan defenisi masing-masing tentang peristiwa atau masalah itu, dan kecenderungan media juga dipengaruhi oleh oleh sumber elit yang diwawancarai.

Perang simbolik ini akan menghasilkan efek mendukung atau menentang suatu isu.George Junus Aditjondro pernah menulis, dalam wacana berita, pihak-pihak yang bersengketa dalam kasus tersebut masing-masing berusaha menampilkan sisi-sisi informasi yang ingin ditonjolkan (sambil menyembunyikan sisi-sisi yang lain), sambil mengaksentuasikan kesahihan pandangannya dengan mengacu pada pengetahuan, ketidaktahuan, serta perasaan pembaca.[1] Lalu bagaimana Analisa, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Sumut Pos,Seputar Indonesia dan  Tribun Medan membingkai kasus disharmoni Syamsul-Gatot ini?. Sisi informasi manakah yang lebih ditonjolkan dan sisi mana yang disembunyikan akan kita lihat dari analisis berikut.


[1] Ibid, halaman 196

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s