Home

Riset Berita Disharmoni Syamsul-Gatot

Di Harian Analisa, Waspada, SIB, Sumut Pos,

Seputar Indonesia dan Tribun Medan

Edisi 08 Februari-15 Maret 2011

Oleh: Pemilianna Pardede, Analis Media KIPPAS

 

Frame Waspada: Gatot Tutup Komunikasi Dengan Syamsul                       

           Harian Waspada memberitakan isu disharmoni Syamsul-Gatot pada edisi 1 Februari  2, 4, dan 5 Maret 2011. Masing-masing berjudul, “Isu disharmoni pojokkan Wagubsu, ini adalah hasil wawancara Waspada dengan Ketua DPP PKS Sumut, Hidayatullah. Menurut Hidayatullah, isu disharmoni dihembuskan media untuk memojokkan Gatot. Berita “Calon Sekda Provsu Mengambang” adalah wawancara Waspada dengan Gubsu Syamsul Arifin tentang status calon Sekda yang tidak jelas.Sedangkan berita”Gubsu Masih Berwenang Tentukan Sekda Defenitif”, ini berita tentang Syamsul Arifin yang masih berhak menentukan Sekda Defenitif walaupun masih dalam tahanan. Satu lagi berita berjudul ”Posisi Wagub Mulai diperebutkan adalah berita tentang munculnya isu-isu pencalonan Wakil Gubernur untuk mendampingi Gatot. Kita akan melihat bagaimana isu disharmoni ini dibingkai Harian Waspada.

 

 

Problem Identification, Menurut Frame Waspada, isu disharmoni merupakan bentuk wujud ketidak patuhan Gatot Pada Syamsul. Setelah isu  disharmoni dihembuskan media, Waspada satu-satunya media yang melakukan wawancara dengan Gubernur Syamsul Arifin tentang hubungannya dengan Gatot Pudjonugroho.Dalam berita berjudul “Calon Sekda Provsu Mengambang, Waspada menemui Syamsul di Rutan Salemba dan melakukan wawancara terkait pencalonan Sekdaprovsu dan hubungannya dengan Wagubsu Gatot Pudjonugroho.Dalam wawancara tersebut,Wagubsu, mengaku bahwa untuk memutuskan siapa calon Sekdaprov harus lebih dahulu berdiskui dengan Gatot Pudjo Nugroho.Selaku Gubernur, dirinya bisa saja memutuskan dan mengajukan tiga nama pengganti Sekda Pemprovsu, namun dia lebih mengedepankan masukan dan musyawarah dengan Wagubsu Gatot Pudjonugroho untuk membangun komunikasi sehingga calon sekda yang diajukan tidak terjadi tarik ulur. Namun Gubsu mengakui, komunikasi dirinya dengan Gatot tidak jalan, begitupun dia masih optimis Gatot dapat membuka komunikasi dengannya agar bisa cepat memutuskan dan mengajukan calon sekda Pemprovsu. Dalam hal ini Waspada menekankan bahwa Syamsul Arifin sudah berusaha untuk melibatkan Gatot dalam berbagai kebijakan, termasuk menentukan calon Sekda di Pemprovsu. Tapi menurut Pandangan Waspada, Gatot sama sekali tidak merespon Syamsul Arifin. Hal ini bisa dilihat dari  bagaimana berita ini dimuat dan narasumber yang dipilih, seperti terlihat dalam kutipan berikut:

No Judul Berita Isi Berita/Wawancara Sumber Berita
1 Isu Disharmoni Pojokkan Wagubsu Wawancara Waspada dengan Hidayatullah tentang isu disharmoni yang muncul di media Ketua DPP PKS Sumut, Hidayatullah, Gatot Pudjonugroho,
 2 Calon Sekda Provsu Mengambang, “Gubsu: Wagub tutup Komunikasi Wawancara Waspada dengan Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin tentang Calon Sekda yang masih tetap mengambang Gubernur SumateraUtara Syamsul Arifin

3

Gubsu Masih Berwenang Tentukan Sekda Defenitif Wawancara Waspada dengan sejumlah elit partai dan anggota DPRDSU tentang sejauhmana Gubsu berwewenang dalam pengambilan kebijakan di pemprovsu Wakil Ketua DPD Partai Hanura Medan Abdul Muluk Siregar, Mantan Anggota DPRDSU, Efendi Naibaho, Anggota DPRD Sumut Zulkifli Efendy dan Sekretaris Partai Golkar Mulkan Ritonga
4 Posisi Wagub Mulai Diperebutkan   Ketua PW GP Ansor Sumatera Utara , H. Fadly Yasir SAg

 

 

Causal Interpretation. Dari keseluruhan berita Waspada, Gatot diposisikan sebagai aktor (penyebab masalah). Sebaliknya Syamsul Arifin dipandang sebagai korban ketidak patuhan Gatot. Berita Waspada misalnya mengungkap pengakuan Gubernur Sumut yang mengatakan Wagubsu Gatot Pudjo Nugroho sudah menutup komunikasi dengannya sejak dirinya berada di Rutan Salemba.Walaupun begitu, Gubsu sangat berharap, Gatot mau membangun komunikasi dengan dirinya seperti kutipan berikut:

 

“Gubsu berharap, wakilnya dapat membangun komunikasi dengan dirinya, agar permasalahan yang stagnasi di pemprovsu mencair dan dapat berjalan sebagaimana harapan masyarakat Sumut yakni reformasi birokrasi. Tentu reformasi birokrasi atau birokrasi yang tidak bertele-tele menjadi harapan masyarakat Sumut“

 

Tapi sangat disayangkan, Wagubsu tidak  koperatif membangun komunikasi dengan Syamsul.Padahal sebagai wakil, Gatot seharusnya lebih banyak bertanya kepada Syamsul yang tentu lebih senior daripada Gatot. Disamping itu Syamsul adalah  sudah “berjasa“ membawa dia sampai bisa menduduki jabatan Gubsu.Namun pengakuan Syamsul, selama berkantor di Gubernuran, Wagubsu tetap kurang hormat pada Syamsul. Namun demikian Syamsul tetap mengalah dan  berinisiatif mengujungi Wagubsu di ruang kerjanya.

“Pengalaman tentulah saya dibanding dia (Gatot Red)tapi sebagai orang muda, saya concern dan sampai saya bawa dia ke jenjang pimpinan di pemprovsu. Kan mestinya dia lebih koperatif lagi”

“Sewaktu saya masih berkantor di Kegubernuran, malah saya yang datang keruangan wagubsu, coba saja anda bayangkan. Begitulah saya membawa orang muda seperti Wagubsu untuk membangun Sumut”

Hal diatas menegaskan sikap baik Gubsu ini tidak pernah dihargai  Gatot, bahkan Gatot seakan tidak punya waktu untuk menemui Syamsul yang notabene adalah atasannya di pemprovsu bahkan menjadi orang nomor satu di Sumut. Segala hal yang dilakukan Syamsul itu adalah untuk kepentingan masyarakat Sumatera Utara sendiri. Sebaga berikut:

“Tapi dia sibuk dan tak punya waktu. Inikan menjadi heran, dia (Gatot) sendiri tidak datang ke saya untuk membicarakan itu. Kok malah saya kirim utusan juga ditolaknya. Tidak ada kepentinga apa-apa selain kepentingan kelangsungan pembangunan Sumut, agar dapat dirasakan segenap lapisan masyarakat tegas Gubsu.

“Walaupun nantinya Gubsu harus memutuskan dan mengajukan calon Sekdaprovsu, tapi pertimbangan kedepan lebih baik menjadi putusan bersama dengan Wagubsu, pertimbangan bersama lebih baiklah karena itu saya perlu masukan dari Wagubsu agar semua berjalan dengan baik.Kanini kepentingan semua masyarakat kita”

Komunikasi ini untuk membangun Sumut. Jadi siapa yang menghalangi atau menutup komunikasi berarti dia orang yang tidak ingin Sumut Maju, kata Gubsu

Beberapa kutipan yang ditampilkan Waspada diatas, adalah gambaran bahwa Gubsu Syamsul Arifin tetap ingin menjalin komunikasi dengan Wagubsu Gatot Pudjo Nugroho khususnya terkait dengan calon Sekdaprovsu. Bahkan Syamsul sebagai Gubernur bersikap mengalah kepada Gatot dengan tetap sabar menunggu Sikap Gatot berubah terhadap dirinya. Namun Gatot Sendiri bersikeras tidak mau berkomunikasi dengannya tanpa alasan yang jelas. Bahkan  wagubsu juga tidak mau menemui Syamsul dan berani menolak utusan Gubsu yang dikirimkan kepadanya.Dengan pemuatan berita ini, Waspada hendak menyampaikan kepada pembaca bahwa Gatotlah yang keras kepala  dan membuat permusuhan dengan Syamsul Arifin. Jadi isu disharmoni itu berawal dari sikap Gatot. Dalam penilain Gubsu, Gatot adalah orang yang tidak mau melihat Sumut maju.

Keesokan harinya, setelah wawancara dengan Syamsul, Waspada memuat berita  bahwa Gubsu masih berwenang menentukan Sekda Defenitif. Wakil ketua DPD Partai Hanura, Abdul Muluk mengatakan, Syamsul Arifin masih berwewenang memutuskan segala yang menyangkut tugas pokok dan pemerintahan. Proses hukum yang sedang dijalani Syamsul harus dihormati  dan segala persoalan jangan dipolitisasi. Seperti beberapa kutipan berikut:

“Status Syamsul Arifin yang menjadi tersangka di Komisi Pemberantasan Korupsi“ (KPK) merupakan persoalan hukum yang harus dihormati“ (Abdul Muluk)”

“Wagubsu tidak memiliki kewenangan memilih dan mengangkat satu pejabatpun di pemprovsu tanpa persetujuan Gubsu. Saya katakan ini bukan karena adanya kepentingan politik, tetapi meluruskan kekeliruan yang dibungkus  oleh kepentingan politik praktis

”Sebelum statusnya terdakwa, Syamsul Arifin masih tetap menjabat Gubsu dan berwenang melantik Sekda” (Efendi Naibaho.

Dari kutipan tersebut, Waspada menjelaskan bahwa kewenangan Gubernur Syamsul Arifin tidak bisa diganggu gugat sebelum statusnya resmi jadi terdakwa termasuk Wagubsu Gatot Pudjo Nugroho. Karena itu Wagubsu harus membuka diri dan kembali menjalin komunikasi dengan Syamsul Arifin. Pihak Gatot dan Syamsul jangan menutup-nutupi bahwa hubungan keduanya masih harmonis. Pernyataan Syamsul di harian Waspada telah menjelaskan bahwa hubungan keduanya beberapa waktu ini tidak harmonis. Hal ini disampaikan anggota DPRD Sumut seperti berikut:

“Syamsul Arifin jelas menyebutkan, komunikasi dengan wakilnya tertutup. Kita respon keterusterangan Gubsu ini, sebagai wakilGubernur, Gatot seharusnya lebih bersikap menahan diri dan tetap menjalin komunikasi dengan dengan Syamsul Arifin. Dengan kondisi Gubsu tidak bisa masuk kantor, seharusnya wagublah yang aktif melakukan komunikasi. Karena Gubsu berhalangan, harusnya Wagub mengakomodir seluruh hal dan mengkomunikasikannya kepada Gubsu.  Zulkipli Efendi Suregar

“Akibat putusnya komunikasi Gubsu, sejumlah agenda dewanpun sempat tertunda akibat disharmoni ini. Beberapa kali rapat dewan gagal dilaksanakan karena Wagubsu tidak mau menghadirinya. Kalau ini terus terjadi, disharmoni mungkin juga bisa  terjadi antara eksekutif dan legislatif” Zulkipli Siregar.

“ Wagubsu perlu mengubah cara berpikirnya. Bahwa saat ini dia telah menjadi milik rakyat Suamtera Utara. Bukan lagi sebatas milik satu partai politik. Gatot seharusnya berpikir bahwa dia bukannya Wagub PKS, tetapi wakil Gubernur Sumatera Utara, milik Rakyat Sumatera Utara.

Dalam kutipan tersebut, Waspada meminta Gatot memperbaiki pola pikirnya tentang posisinya sebagai wakil Gubernur Sumatera Utara. Sebagai wakil, Gatot harus bertindak aktif menjalin komunikasi dengan Gubernur yang sedang menjalani penahanan. Dari keseluruhan berita ini, Gatot ditempatkan sebagai pihak yang bersalah. Karena dialah yang menjadi sumber disharmoni dengan cara menutup komunikasi dengan Gubsu. Akibat sikap Gatot ini, bukan hanya pemprovsu yang bermasalah tetapi sikap Gatot juga mengganggu  kinerja dewan.Karena itu, Ketua PW GP Ansor juga meminta Gatot untuk memperbaiki sikap. Gatot harus memahami tugasnya sebagai wakil Gubernur.

“Isu keretakan Syamsul-Gatot  sudah terdengar sejak lama, Namun sejak tersandung masalah hukum, isu ini semakin kencang. Bahkan belakangan disebut-sebut, Gatot sudah tidak loyal lagi kepada Gubsu. Sebelum melangkah terlalu jauh, Agar Gatot paham tupoksinya sebagai Wagubsu” H. Fadli Yasir Sag

Selain Gatot sejumlah pihak juga diperingatkan agar tidak terlalu berambisi merebut posisi wakil Gubernur untuk mendampingi Gatot. Posisi Gubsu dan Wagubsu masih ditempati Syamsul dan Gatot karena itu, orang yang berusaha merebut posisi wagubsu dinilai sebagai sikap yang kurang beretika sebagai berikut:

“Tindakan sejumlah pihak yang saat ini sudah mengambil ancang-ancang  menduduki posisi Wakil Gubernur  dan menunjukkan sikap kontra, dinilai kurang beretika. Harusnya yang dilakukan saat ini adalah bagaimana berbuat yang terbaik untuk masyarakat Sumut, bukan mengincar posisi yang sampai hari ini masih ada yang menduduki.” H. Fadli Yasir Sag

Moral Evaluation: frame Gatot sebagai sebagi aktor penyebab dan Syamsul sebagai korban ini didukung oleh klaim-klaim Syamsul Arifin yang sudah berusaha keras menghubungi Gatot dan berusaha menjalin komunikasi dengan Gatot. Syamsul misalnya mengungkapkan selama berkantor di Gubernuran, dirinya lebih sering datang untuk menemui Gatot ke ruang kerjanya. Hal ini sulit dibayangkan seorang Gubernur yang harus menemui bawahannya.

Selain itu Syamsul juga mengungkapkan kalau calon Sekda akan ditetapkan setelah berdiskusi dengan Gatot.Pengakuan Syamsul yang dimuat Waspada ini menegaskan, bahwa dirinya sudah cukup sabar menghadapi sikap Gatot selama ini. Selain itu waspada juga mengungkapkan sikap Gatot yang sudah tidak loyal lagi kepada Gubernur.

Sebelum melangkah terlau jauh, Gatot harus diperingatkan tentang tugas pokok dan fungsinya sebagai wakil gubernur. Hal lain yang ditekankan Waspada terkait dengan sikap Gatot adalah, bahwa Wagubsu harus menyadari bahwa dirinya bukan Wakil Gubernur PKS tetapi adalah wakil masyarakat dan milik masyarakat Sumut.

Treatmen Recommedation: Secara terus terang, Waspada meminta  dan merekomendasikan agar Gatot mulai menyadari siapa dirinya dan mulai memahami tugas pokok dan fungsinya sebagai wakil Gubernur Sumatera Utara.

 

Problem Identification Ketidakpatuhan Gatot Pada  Syamsul
Causal Interpretation Gatot Aktor penyebab masalah, Syamsul sebagai korban. Syamsul  mengalah dan berusaha menjalin komunikasi dengan Gatot.

 

 

Moral Evaluation Gatot tidak perduli perintah   Syamsul

 

Treatmen Recommendation Sebelum melangkah jauh, Gatot harus kembali paham tugas pokok dan Fungsinya sebagai Wagubsu

 

 

bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s