Home

wednesday, 06 april 2011 06:58

Hingga kini media tak tuntas menindaklanjuti pemberitaan dugaan korupsi mantan Sekdakab Tapsel, Rahudman Harahap. Setidaknya begitu kesimpulan

Seminar Hasil Riset KIPPAS yang diikuti ratusan mahasiswa dan akademisi di Aula Fakultas Hukum USU, Selasa (5/4). Seminar ini bertujuan menyosialisasikan hasil temuan tentang etika dan hati nurani yang terkikis dalam pemberitan kasus dugaan korupsi Rahudman Harahap di berbagai surat kabar.

Andri Taringan (20), mahasisa fakultas sastra USU yang juga aktivis Kelompok Diskusi dan Aksi Sosial dalam kegelisahannya mempertanyakan fungsi media. “Media sudah menjadi peliharaan atau main-mainan, fungsi kontrol sosialnya sudah lumpuh,” katanya dalam seminar itu.

Sementara Muhammad Arifin Mpd, staf pengajar di FKIP UMSU menyebutkan dalam memerangi korupsi, media mempunyai 4 fungsi yang harus dijalankan, yaitu menyampaikan dan menyebarkan informasi, pendidikan, kontrol sosial dan penetapan agenda. Kata dia, seorang wartawan harus diperbolehkan mengikuti hati nurani mereka. Dalam hal dugaan korupsi Rahudman Harahap, menurutnya, media tetap menghargai asas praduga tak bersalah.

Namun dia menilai, Kejatisu (Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara) agak lemah. “Kan, dia sudah dijadikan tersangka, kenapa sampai sekarang Kejatisu belum tindaklanjuti. Ada apa ini? Kalau tak sanggup serahkan saja ke KPK,” katanya kepada Jurnal Medan.

Sementara itu, staf pengajar Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, Syafruddin Pohan mengatakan dalam hal pemberitaan dugaan korupsi Rahudman Harahap, menurutnya sangat tergantung pada kepentingan pemilik media.

Media memunculkan atau menghilangkan kasus dugaan korupsi ketika ada negosiasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

J Anto yang bertindak sebagai mediator dalam diskusi mengungkapkan dalam penelitiannya tentang pemberitaan media periode Januari-Februari media seolah-olah meng¬hilangkan pemberitaan dugaan korupsi Rahudman Harahap.

 “Media tidak mengusut kasus kasus yang menimpa walikota Medan ini,” katanya.

Kata J Anto, hasil riset itu memperlihatkan intensifitas media dalam pemberitaan korupsi pejabat publik ternyata sangat kecil dibanding pemberitaan tentang pencitraan pejabat publik. Dikatakannya, penelitian ini menjadi masukan kepada semua media supaya mengintensifkan pemberitaan pemberantasan korupsi terhadap pejabat publik. “Karena korupsi sudah menjadi musuh utama bangsa, yang memiskinkan masyarakat Indonesia dan membunuh generasi kita,” pungkasnya.

Karmel Simatupang | Medan | Jurnal Medan

One thought on “Seminar Dugaan Korupsi Rahudman Harahap – Berita Media tak Tuntas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s