Home

Pengantar Kode etik merupakan panduan moral yang perlu ditaati oleh para wartawan professional. Kode etik jurnalistik menempati posisi yang sangat pentng bagi wartawan. Kode etik dijadikan panduan tentang bagaimana berperilaku serta supaya tidak merugikan orang lain. Kode Etik Jurnalistik itu sendiri telah ditetapkan oleh Dewan Pers dan terdiri atas 11 pasal.

Dengan berpedoman pada kode etik jurnalistik, wartawan diharapkan memiliki kesadaran moral untuk menjalankan kerja jurnalistik sehingga dapat tercapai fungsi jurnalisme yaitu untuk menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya bagi masyarakat, yang menjadi “mata dan telinga” masyarakat untuk mengetahui hal-hal yang terjadi di luar wilayah mereka.

Tetapi, wartawan memang bukan juga seorang tanpa kesalahan dan kekhilafan. Walau sudah menjalani pelatihan menjadi wartawan, namun wartawan, bahkan juga redaktur kerap terlupa atau melupakan akan kode etik. Akibatnya berita yang ditampilkan bias yang pada akhirnya merugikan pihak yang diberitakan dan juga menunjukkan ketidakprofesional media dan wartawan yang bersangkutan.

Selama periode Oktober 2010 – Januari 2011, Yayasan Kippas melakukan kajian dan penelitian tentang kode etik jurnalistik yang dilanggar pada sejumlah berita di Harian Sumut Pos.

Kajian ini untuk memberikan masukan masukan bagi media yang bersangkutan agar dapat menghidari pelanggaran-pelanggaran kode etik dalam penulisan berita di masa mendatang. Nama Korban Asusila Dituliskan Pers perlu melindungi identitas korban pelecehan atau perundungan seksual agar mereka tidak mengalami “trauma kedua” atau seperti kata pepatah “sudah jatuh, tertimpa tangga pula.”

Namun dalam berita Sumut Pos masih ditemukan berita yang menulis identitas korban seksual, bahkan lengkap dengan usia maupun alamatnya, seperti dalam dua berita di bawah ini. Hamil 4 bulan, Nyaris Tewas Dianiaya Pacar. (Sumut Pos, 14 Januari 2011, hal 4). Isi berita: Oktavia br Simangungsong (18), siswa kelas II salah satu SMAN di Kecamatan Sigumpar, Toba Samosir (Tobasa), nyaris tewas dianiaya pacar bernama Herman Sitorus (21), mahasiswa tingkat satu PTS di Tobasa. Diduga rencana untuk menghabisi nyawa wanita yang sedang hamil empat bulan ini telah disiapkan sebelumnya.

Pada berita tersebut, wartawan telah melanggar kode etik jurnalistik pada pasal 5.

Pada pasal 5 dikatakan, wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan. Dengan menyebutkan identitas korban asusila, wartawan secara tidak langsung telah ikut menyebarluaskan informasi yang merusak nama baik korban dan secara tidak langsung telah merusak masa depan korban asusila itu sendiri.

Kesalahan serupa juga ditemukan pada berita Sumut Pos tanggal 27 Oktober 2010, halaman 5 dengan judul: Calon Tentara Cabuli Anak Berusia 3 tahun, Isi berita: Eddi Syahputra Sagala (19), warga Kampung Banggal, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, tega mencabuli Sandra Aulia Balqis, bocah berusia 3 tahun 10 bulan, di kamar kostnya di Jalan Bangau, kelurahan Sipingot-Pinggol, Siantar Barat. Lagi-lagi di sini, wartawan maupun redaktur langsung menulis nama korban perbutaan asusila lengkap dengan usia dan alamatnya. Dengan menuliskan nama korban pencabulan, media telah ikut merusak nama korban bahkan ikut menghancurkan masa depan korban. Atmakusumah menyatakan, penggunaan inisial nama dalam pemberitaan pers sebaiknya digunakan hanya untuk inisial nama anak-anak dan korban asusila. Menurut dia, khusus untuk subjek berita anak-anak dan korban asusila, penggunaan nama harus ditulis dengan inisial. Media juga dilarang memuat foto, alamat, dan nama keluarga korban. Kata-Kata Sadis Sebuah berita adalah gabungan dari banyak kayata yang dirangkai hingga menjadi potongan-potongan kalimat. Pemilihan kata yang baik dan tepat akan memberi jaminan lahirnya sebuah berita yang berkualitas, bisa dibaca oleh semua orang, memberikan rasa damai, menentramkan serta tidak melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Tetapi, berita Sumut Pos masih mengadung kata-kata yang sadis yang melanggar kode etik jurnalistik, seperti dua berita di bawah ini: Leher Digorok, Wanita Hamil Ditemukan Tewas (Sumut Pos, 21 Januari 2011) Isi berita: Warga Dusun II, Desa Patumbak II, Kabupaten Deli Serdang dibuat heboh dengan penemuan jenazah wanita hamil tanpa identitas (Mrs x) dengan leher hampir putus. Jenazah ini terlihat tergeletak di lahan garapan PTPN II Jalan Pertahanan, Gang Saudara, Dusun II, Pasar V, Desa Patumbak II, Kabupaten Deli Serdang, Kamis (20/1) sekitar pukul 17.00 WIB. Pada berita tersebut wartawan telah melanggar kode etik jurnalistik pasal 4 yang berbunyi: Wartawan Indonesia tidak membuat berita sadis. Pada judul, wartawan memilih kata “digorok.” Kata digorok merupakan kata yang tergolong sadis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata digorok berarti menyembelih atau memotong yang biasanya digunakan untuk hewan. Jadi, jelas kata digorok tidak tepat digunakan untuk korban yang merupakan manusia. Pihak keluarga korban bila membaca judul tersebut pasti akan merasa sangat terpukul dan sedih, jika kerabatnya dituliskan dibunuh dengan cara yang sangat sadis. Kata digorok juga masih tergolong opini si wartawan, pasalnya, bila berita dikaji, wartawan telah sampai pada kesimpulan bahwa korban digorok, padahal wartawan belum mengadakan konfirmasi dengan pihak kepolisian dan dokter forensik, apakah korban tersebut tewas dengan cara digorok ataupun cara lain. Berita Sumut Pos tanggal 19 Januari 2011 juga memuat judul yang tergolong sadis yaitu: Ibu Tidak sempat Selamatkan nyawa anaknya, Dua Bocah Tewas Terpanggang. Isi berita: Di Tapanuli Tengah, dua bocah tewas terpanggang ketika sebuah rumah kontrakan di lingkungan V, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan terbakar pukul 22.00 WIB, Senin (17/1). Keduanya Johan Pangaribuan (7) dan Halamoan Pangaribuan (6), anak seorang janda bernama Anelia br Rajagukguk (45). Saat ditemukan di kamar tidur, bagian tubuh Johan dan Halamoan dalam keadaan setengah gosong dan tidak utuh lagi. Lengan dan kedua kakinya hangus, sedangkan wajahnya tidak dikenali lagi. Berita ini mengandung kata sadis yakni kata “terpangang.” Kata “pangang” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya dipanaskan (dimasak) di atas bara api. Apabila ditambahkan awalan ter- yang berarti tidak sengaja, maka berarti kedua korban secara tidak sengaja dimasukan ke dalam bara api. Jelas, kata terpanggang telah mengalami penyalahaan arti, karena tidak ada manusia yang secara sengaja ingin dimasukan ke atas bara api. Dalam musibah kebakaran, sebaiknya wartawan menulis tentang penderitaan ibu korban atas kehilangan anakya dan bukan justru sebaliknya menuliskan judul sadis yang seolah-oleh mengambarkan keteledoran ibu korban. Prasangka Agama Pada pasal 8 kode etik dikatakan, wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamain, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat, jiwa atau cacat jasmani. Pasal ini belum sepenuhnya diterapkan oleh Sumut Pos. Seperti pada berita mimbar minggu tanggal 10 Oktober 2010, terdapat sejumlah judul yang cenderung ditulis yang secara tidak langsung merendahkan martabat umat Kristen. Seperti pada judul berita: Hai Pelayan Tuhan, Jangan Abaikan Keluargamu! Bila berita ini dikaji, tidak jelas apakah ini merupakan kutipan ataupun opini. Sumut Pos tidak membuat kejelasan sumber berita. Isi berita juga tidak jelas mengambarkan judul. Isi berita tidak dapat menjelaskan peran pelayan Tuhan dan juga keluarga. Penggunaan kata judul juga terkesan melecehkan sejumlah pendeta dalam pelayanannya. Sebab dari isi berita tidak ada fakta dan data yang dapat sampai pada kesimpulan bahwa pendeta yang sibuk dengan pelayanan, maka keluarga mereka menjadi berantakan. Pasal 8 kode etik jurnalistik mengatakan, wartawan tidak boleh berprasangka. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas. Jadi, dalam mimbar minggu Sumut Pos, wartawan atau redakturn belum mengetahui hubungan antara Pelayan Tuhan dan kehidupan keluarganya. Tetapi mereka telah membuat judul sensasional yang menyinggug umat Kristiani. Pada tanggal 24 Oktober 2010, dalam renungan mimbar minggu, Sumut Pos kembali memuat renungan dengan judul yang sensasional yakni: Gereja Tempat orang Munafik? Walaupun judul ditulis dengan menggunakan kata tanya dibelakang, tetapi judul ini dapat menyinggung umat Kristen. Soalnya, isi renungan ini juga bukan kajian dari Al kitab, tetapi kutipan berita. Isi pendapat nara sumber dalam berita itu juga tidak membahas antara orang yang pergi ke gereja dengan kemunafikan yang dimaksud. Hal yang paling fatal adalah walaupun ini berita, tetapi wartawan memasukan opini di akhir berita yang dikutip. Pada paragraf akhir dituliskan: Cara kreatif Pastor Powell ini sepertinya bisa menjadi inspirasi bagi gereja-gereja di Indonesia. Jika anda mulai melihat spanduk-spanduk yang menyatakan penolakan atas berdirinya gereja, mengapa gereja tidak membuat iklan yang kontroversi dan mengajak semua orang yang melihatnya bertanya dan berpikir tentang:”Kekristenan yang sejati.” Kode etik wartawan Indonesia jelas melarang pencampuran antara fakta dan opini. Opini yang dibuat wartawan pada akhir tulisan juga tidak dapat dipahami antara penolakan berdirinya gereja dengan berita yang dikutip. Penerbitan berita model tersebut telah melanggar kode etik pasal 1 yang menyatakan, wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikat buruk. Dapat dikaji bahwa penerbitan berita tersebut tidak akurat, tidak jelas apakah ini merupakan opini ataupun berita. Berita tersebut juga mempunyai itikat buruk yakni secara sengaja menimbulkan kesan yang buruk terhadap umat Kristen yang rajin ke gereja. Pencampurkan Fakta dan Opini Dalam pasal 3 kode etik dikatakan, wartawan Indonesia selalu menguji informasi secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan azas praduga tidak bersalah. Tetapi, dalam berita Sumut Pos tanggal 24 November 2010, hal 1, dengan judul berita: Penjaga Rumah Anggota DPRD Tewas, Pria Gemulai itu Ditusuk dengan 40 Liang. Isi berita: Jumanto alias Anto, penjaga rumah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR) Kota Medan, ditemukan sekarat di kamar penjagaan rumah dini hari, pukul 00,10 WIB. Pada judul terdapat jargon yang menyatakan bahwa korban adalah seorang pria yang gemulai. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kedua yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, gemulai berarti lemah lembut (gerak anggota tubuh). Jika keseluruhan berita dibaca, kata gemulai hana terdapat pada paragraf terakhir. Selama ini warga yakin pria gemulai yang jarang bergaul…’ Tidak ada nara sumber yang jelas mengyatakan bahwa korban adalah pria yang gemulai. Pasal 3 kode etik mengatakan, wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan azas praduga tidak bersalah. Bila berita ini dikaji, wartawan telah beropini dengan membuat gambaran bahwa korban adalah gemulai. Penutup Kode etik merupakan salah satu bentuk pertanggunjawaban pers kepada masyarakat kode karena kode etiklah yang akan membimbing mereka untuk memenuhi tanggung jawab sosialnya. Kode etik merupakan salah satu usaha untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memelihara harkat dan martabat pers. Dapat dikatakan, kepatuhan terhadap kode etik menjadi salah satu ukuran kedewasaan seorang jurnalis. Bila media melanggar kode etik sama saja mencoreng muka mereka sendiri. Wartawan yang tidak memahami dan menaati kode etik urnalistik akan kehilangan harkat dan martabatnys sebagai seorang wartawan, apalagi jika informasi yang diberitakan tidak jelas dan tidak dapat dipercaya, maka masyarakat akan kehilangan kepercayaannya pada media itu sendiri. Jadi sekali lagi, kode etik, kode etik, dan kode etik. ****

2 thoughts on “Kode Etik yang terlupakan oleh Sumut Pos

  1. Numpang promo ya gan..:D

    LOWONGAN KERJA SAMPINGAN GAJI 3 JUTA /MINGGU

    Kerja Management dari program kerja online (Online Based Data Assignment Program / O.D.A.P) MEMBUTUHKAN 200 KARYAWAN diseluruh indonesia yang mau kerja sampingan online dengan potensi penghasilan 3 JUTA/MINGGU+GAJI POKOK 2 JUTA/BULAN, Tugasnya hanya ENTRY DATA, per entry @10rb, Misal hari ini ada kiriman 200 data dari O.D.A.P yang harus di ENTRY berarti kita dapat hari ini @10Rb x 200 = 2 JUTA. Lebih Jelasnya kirimkan Nama LENGKAP & EMAIL ANDA.

    Buka http://www.penasaran.net/?ref=cdizbb

  2. Saya tidak heran kalau Sumut Pos banyak melakukan pelanggaran Kode Etik Wartawan, menurut pengalaman selama saya tinggal di Medan sekitar tahun 2007 memang harian ini yang paling buruk pemberitaannya dan sepertinya seluruh Pasal 1 sampai Pasal 11 Kode Etik Wartawan semuanya dilanggarnya. Kelihatannya wartawannya punya qualifikasi yang buruk dan punya interest pribadi kelihatan dari cara penulisannya. Sebaiknya pihak management Sumut Pos memperbaiki situasi ini dan wartawan yang tidak punya qualifikasi yang baik jangan dipakai lagi dari pada nama perusahaan yang dipertaruhkan. Beritanya cendrung menyerang dan menulis berita kebanyakan berdasarkan prasangka dan opini pribadi. Cara wawancara pasti dengan menggunakan kalimat kalimat yang selalu meminta konfirmasi Ya atau Tidak dan tentu saja ini jadinya mengedepankan pendapat wartawan nya saja, dapat dibayangkan apa jadinya sebuah berita yang ditulis oleh seorang wartawan dengan qualifikasi yang tidak sesuai. Tidak banyak sih yang mau membaca surat kabar ini kalaupun ada itu hanya terpaksa saja guna membangun hubungan baik tapi bukan sebagai sumber informasi ini terbukti hampir semua jajaran kantor pemerintah berlangganan. Cara penulisannya masih jauh dibandingkan koran Analisa dan Waspada yang lebih professional dan terkadang Sumut Pos tidak memiliki etika penulisan. Saya kira surat kabar ini tidak akan bertahan lama sebaiknya juga tidak dibaca karena akan membuat pembacanya juga tidak mendapat kan gambaran yang jelas tentang apa apa yang diberitakan bahkan dapat memperburuk cara seorang pembaca melihat sesuatu hal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s