Home

BlogAda ungkapan mengatakan, bahwa pers adalah pelayan yang sangat baik, namun sekaligus ‘majikan’ yang mengerikan. Sebagai pelayan yang baik, pers berusaha melayani dan atau menyediakan segala ‘kebutuhan’ yang diinginkan pembaca.

Namun pada situasi tertentu, pers dapat menjadi majikan yang ‘kejam’, yaitu ketika pemberitaan pers tidak lagi memberikan informasi yang benar kepada pembaca. Ketika fakta yang diliput di lapangan oleh wartawan, tidak sebangun dengan fakta berita yang disajikan.

Karenanya diingatkan, pengasuh media harus sadar semua pemberitaan yang disajikan di hadapan publik kini mendapat ‘penilaian’ dari pembaca. “Masyarakat jangan dijadikan bingung karena pemberitaan,” kata Dewan Pengurus Yayasan Kippas , HM Yazid dalam acara diskusi Sosialisasi Hasil Pemantauan Pemberitaan Media oleh Kelompok Masyarakat, Rabu (28/10) di Hotel Garuda Plaza Medan.

Disebutkan Yazid, dalam Pasal 17 ayat 1 dan 2 Undang-Undang (UU) Pers Nomor 40 Tahun 1999 menyebutkan, “masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi, antara lain dengan memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, etika, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers”.

Dalam diskusi yang dipandu J Anto, hasil tujuh kelompok masyarakat dari enam kabupaten/kota yang dilibatkan memonitoring media yakni, BPRPI Langkat, Hapsari Deliserdang, KSPPM Tapanuli Utara, CBR dan Spartan Pematang Siantar, Pesada Dairi dan Elsaka Labuhan Batu.

Hasil analisis monitoring kelompok masyarakat terhadap pemberitaan media cetak terbitan Medan periode Mei-September 2009 disampaikan oleh Edward HP Sinaga dari Yayasan Kippas Medan.

Analisis Monitoring

Analisis monitoring yang dilakukan oleh kelompok masyarakat terkait kesalahan pemberitaan yang tak sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yakni, pencampuran fakta dan opini, tidak melakukan verifikasi, menyebutkan identitas anak korabn kejahatan susila, mencantumkan foto secara sembarangan dan pemberitaan sadisme, judul dan isi berita yang tak sesuai, penyebutan identitas pelaku kejahatan yang belum berkekuatan hukum tetap. Pemberitaan media yang dimonitoring dan dianalisis adalah Harian Analisa, Waspada, SIB, Medan Bisnis, dan Sumut Pos.

Dalam diskusi itu juga menghadirkan anggota Dewan Pers Abdullah Alamudi, membahas “kenapa terjadi pelanggaran etika jurnalistik: sebuah gambaran kasar”.

Dipaparkan Alamudi, penyebab pelanggaran KEJ disebabkan oleh berbagai faktor, yakni oleh pers sendiri, dan akibat campur tangan pihak lain. Pelanggaran oleh pers sendiri karena mengabaikan akurasi, atribusi, verifikasi, berimbang dan adil, objektifitas, singkat, pilahan, kejelasan, human interest, dan tanggungjawab.

Karenanya, untuk menghindari delik pers dan kebingungan masyarakat, penyajian berita haruslah akurat, diberi atribusi yang tepat, berimbang dan adil, objektif dan singkat, katanya. Diskusi itu melibatkan redaktur media cetak dan kelompok masyarakat yang melakukan monitoring pemberitaan media. (sug)

Sumber: Analisa, 29 Oktober 2009

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s