Home

DiskusiHasil monitoring ini ini “>merupakantindak lanjut dari hasil workshop “Pelatihan Monitoring Media Pers untuk Kelompok Kelompok “>Masyarakat”. Untuk Untuk “>edisikali ini, kami memuat hasil monitoring yang dilakukan oleh Kelompok HAPSARI di Deli Serdang. Untuk memperkayas monitoring, sekaligus ditampilkan juga hasil monitoring analis media KIPPAS. Red.

  1.  Harian SIB memuat berita tentang penyerahan tersangka demo massa pembentukan Provinsi Provinsi “>Pembentukan “>Provinsi”>Tapanuli(Protap) dari Rutan Mapoltabes ke Kejari Medan tanggal 6 Mei dengan dengan “>juduljudul “>berikut“judul “>berikut”>Pengiriman10 Tersangka Tersangka “>PejuangPejuang “>PembentukanProvinsi Tapanuli Tapanuli “>DiwarnaiIsak Tangis Keluarga”. Tanggal 28 Mei, dengan “>judulyang sama kembali dipergunakan dengan judul berikut “Pengiriman 31 Tersangka Pejuang Pembentukan Provinsi Tapanuli Diawali Lagu Rohani dan Doa Bersama”. Penggunaan kata “pejuang” pejuang “>padaada “>akhirnyamenimbulkan kesan yang melebih-lebihkan terhadap judul dan isi berita berita “>tersebut. Kalau memang sudah tersangka, cukuplah dengan menggunakan kata “tersangka” tersangka “>saja, tak perlu ada kata “pejuang” pejuang “>lagibukan? Pada alinea-alinea selanjutnya, justru SIB tidak konsisten menyertakan kata “pejuang” dalam berita tersebut, melainkan cukup menyebut “para tersangka” saja. 
  2.  Masih dari Harian SIB edisi Sabtu, 2 Mei 2009 dengan berita yang berjudul “judul “>SebelumTes Kesehatan, Capres-Cawapres Perempuan Dilarang Ngeseks” .Penggunaan kata “ngeseks” ngeseks “>sebagaijudul berita berita “>sangattidak tidak “>sopan, berita “>tidakilmiah dan terlalu bombastis. Padahal dalam berita, tidak ada kata “ngeseks” yang tertulis. Justru isi berita sebenarnya cukup baik yakni: “selama sepuluh hari sebelum tes kesehatan, capres atau cawapres perempuan perempuan “>dilarangmelakukan hubungan seksual. Hal ini untuk menghindari bias dalam pemeriksaan organ khusus perempuan”.Ketua Umum IDI, dr. Fahmi Idris yang menjadi anggota tim pemeriksa kesehataan sama sekali tidak menyebut kata “ngeseks”. 
  3.  Edisi Selasa, 11 Agustus 2009, Harian Sumut Pos menampilkan berita berita “>berjudul“judul “>Jangan-janganNoordin Ikut Nonton Penyerbuan” sebagai berita headline di halaman depan. Dari awal hingga akhir berita tidak ada ada “>satufaktapun yang menguatkan judul ini. Pada ada “>alineakedua memang ada tertulis pertanyaan wartawan kepada narasumber yakni Kriminolog UI, Erlangga Masdiana seperti ini: “Apakah justru Noordin ikut menonton aksi penggerebekan di Temanggung itu?”. Nah, apa jawaban Erlangga? “Saya tidak tidak “>bisamenjawab pertanyaan seperti itu. Karena saya tidak tahu, sebenarnya Noordin M Top itu itu “>adaatau nggak. Jangan-jangan, Noordin itu hanyalah tokoh fiktif,” ujar Erlangga. Itulah jawaban Erlangga. 
  4. Masih dari Harian Sumut Pos Edisi Kamis 13 Agustus 2009. Di halaman depan, Sumut Pos menampilkan headlinenya dengan judul “judul “>menguatkan “>judul”>NoordinM Top Lari ke Sumatera”. Benarkah Noordin M Top Lari ke Sumatera? Setelah membaca keseluruhan dari dari “>alineaalinea “>pertamapertama “>hinggapertama, tak ada ada “>satukutipan pun dari narasumber yang menguatkan judul berita berita “>tersebut. Memang ada kutipan berita yang menyinggung tentang Sumatera yang dikatakan oleh narasumber Mardigu WP, seorang pemerhati terorisme kepada koran tersebut. Tetapi sama sekali tak menguatkan fakta kalau memang Noordin M Top itu lari ke Sumatera. Pada alinea ke-4, Mardigu mengatakan “Noordin mempunyai area pergerakan yang luas, bukan hanya di Jawa saja, Sumatera pun dia memiliki jaringan”. Bisa jadi, ini adalah opini dari media itu sendiri yang menyimpulkan keterangan dari Mardigu. Karena Noordin M Top punya jaringan di Sumatera, seolah-olah, Noordin lari ke Sumatera.
  5.  Harian Analisa edisi Sabtu 13 Juni 2009 menampilkan headline berita di halaman depan dengan judul “judul “>PemerintahEvaluasi Stop Kirim TKI ke M’Sia”.Sebagian besar pembaca mungkin mengerti kalau kata “M’Sia” itu ada ada “>singkatansingkatan “>dariMalaysia. Tak jelas memang apa maksud Analisa menyingkat kata “Malaysia” menjadi “M’Sia”. Di dalam berita justru tak ada tertulis kata “M’Sia” melainkan kata Malaysia. Kalaupun untuk untuk “>menghematspace (tempat) judul headline, sebenarnya space yang tersedia masih cukup untuk menuliskan kata “Malaysia”. Secara singkatan, belum diketahui sampai sekarang kalau “M’Sia” itu singkatan dari “Malaysia”. Beda dengan “Amerika Serikat” yang sudah akrab dengan singkatan “AS”. 
  6.  Sebuah berita kriminalitas berjudul “Pemuda Aceh Tamiang Ditangkap Memperkosa di Besitang” terbit di Waspada edisi Senin, 3 Agustus 2009 halaman 23. Dari alinea alinea “>pertamahingga hingga “>tersebut “>hingga”>tujuh, sama sekali tidak jelas jelas “>siapanarasumber yang menceritakan kisah perkosaan tersebut tersebut “>hingga ditangkapnya si pelaku. Padahal detil kejadian tergambar sangat jelas. Sepertinya si wartawan memasukkan opininya dalam berita tersebut. Simaklah salah satu alinea berikut sebagai buktinya: “Korban berusaha meronta untuk melepaskan diri dari cengkraman pelaku, namun ia kalah tenaga dengan pedagang salak itu. Di bawah tekanan fisik, tersangka berhasil melucuti pakaian dalam korban dan langsung berbuat tidak senonoh”.Sama sekali tidak jelas dari siapa wartawan mengutip bagian tersebut. (Hapsari Deli Serdang)
  7.  Berita di Harian Waspada edisi Senin, 3 Agustus 2009, halaman 18 dengan dengan “>judul“Bisnis Jual Beli Jabatan Marak Di Kabupaten Pemekaran” menampilkan sebuah alinea dengan kutipan seperti ini: “maraknya hasil jual beli jabatan di kedua kedua “>kabupatenyang disinyalir dilakukan orang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Pj. Bupati di kedua kabupaten tersebut.” Berita ini antara lain menggunakan akan “>narasumber“sumber “>seorangsumber di Medan”. Sama sekali tidak memberikan memberikan “>kesempatanpihak Pj. Bupati Bupati “>untukmemberikan keterangan. Pada akhirnya, berita ini akan mengandung prasangka terhadap Pj. Bupati. (Hapsari Deli Serdang)
  8. Masih dari harian Waspada, edisi Selasa, 4 Agustus 2009 halaman 17 dengan dengan “>beritayang berjudul “Cinta Ditolak, Pria Lajang Nekad Gantung Diri”. Berita tersebut dibuka dengan sebuah kutipan berikut: “Bila seorang seorang “>perempuanperempuan “>cintanyacintanya “>diputuslelaki, banyak yang nekat mengakhiri hidupnya. Tetapi bagaimana dengan seorang lelaki yang cintanya ditolak ditolak “>pacarnyanekad bunuh bunuh “>diri, mungkin hal itu itu “>jarangjarang “>sekaliterjadi”. Benarkah jarang terjadi seorang lelaki bunuh diri karena cintanya ditolak perempuan? Ini kan opini si wartawan itu sendiri. (Hapsari Deli Serdang)
  9. Media cetak harus menjaga kerahasiaan identitas identitas “>pelakupelaku “>kejahatandi bawah umur dan korban susila. Namun kesalahan tersebut terdapat pada harian Waspada edisi Jumat 07 Agustus 2009 halaman 18 dengan dengan “>judul“Dua Remaja Perkosa Anak Dibawah Umur”. Pada alinea pertama disebutkan identitas pelaku pemerkosaan yang masih berumur 13 tahun tahun “>yakniyakni “>JhonLeo dan korbannya yakni Viska Warumu (5 tahun) dan Luke (15 tahun). Padahal, seharusnya cukup dengan inisial saja kan? (Hapsari Deli Serdang)
  10.  Kesalahan teknis juga terdapat pada berita harian Waspada edisi Selasa, 18 Agustus 2009 halaman 17 yang berjudul “Hanya Bupati Sergai Peroleh Satya Lencana Dari Presiden”. Pada alinea kedua tertulis “Penghargaan dari Pemerintah disematkan Menteri Dalam Negeri Dalam Negeri Mardiyanto”. Seharusnya kata “Dalam Negeri” cukup satu kali. Kesalahan juga terdapat pada alinea keenam. “Fluktuasi harga minyak mentah dunia tidak menentu, mengharuskan pemerintah untuk menetapkan kebijakan oengurangansubsidi bahan bakar minyadan gas dalam negeri, yang berimplikasi pada kenaikan BBM merupakan contoh emperisdari sebuah kebijakan pemerintah”. Kesalahan yang sederhana, tetapi justru sangat mengganggu dan dapat mengubah makna berita. (Hapsari Deli Serdang)
  11. Harian SIB edisi Kamis, 6 Agustus 2009 halaman 1+15 menurunkan berita berita “>denganjudul “Gadis Cilik Diperkosa”. Dalam berita tersebut, narasumber yang dipakai wartawan wartawan “>adalah“keterangan” keterangan “>sepertiyang tertulis di alinea kedua: “menurut keterangan…”. SIB dan wartawan wartawan “>tidakmenuliskan, keterangan siapakah yang dikutip si wartawan. Berita ini juga dibumbui opini si wartawan itu sendiri. Seperti kalimat berikut: “Usai melampiaskan nafsunya lelaki biadap itu itu “>langsungpergi. Dengan berjalan berjalan “>kakigadis malang bertubuh kecil itu berjalan ke arah Limapuluh. Sesampainnya di Desa Simpang Gambus, iapun ditolong warga dan mengantarnya ke Polsek Polsek “>Limapuluh. Dikarenakan kasusnya berada di wilayah hukum Polsek Polsek “>Indrapura, pengaduan diarahkan ke Polsek tersebut”.(Hapsari Deli Serdang)
  12. Berita SIB yang berjudul “Presiden Resmikan PKA ke-5, Jangan Sia-siakan Kesempatan Membangun Aceh” yang terbit pada edisi Kamis, 6 Agustus 2009 halaman 1+11 tampil dengan dengan “>fotoyang sembarangan dan tidak berhubungan dengan substansi berita. Caption foto tersebut adalah: “BUPATI KECEWA: Bupati Aceh Aceh “>SelatanAceh “>Selatan”>HusinYusuf (tengah) membuka baju sambil keluar dari arena Pekan Kebudayaan (PKA) V akibat kecewa anjungan anjungan “>daerahdaerah “>ituitu “>bataldikunjungi Presiden Presiden “>SusiloBambang Yudoyono di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh, Rabu (5/8). Rencananya Presiden SBY akan mengunjungi anjungan anjungan “>DekranasAceh, Aceh Selatan dan Banda Aceh, namun tanpa diketahui penyebabnya Kepala Negara dan rombongan hanya melewati anjungan daerah penghasil pala itu”.Foto dan keterangannya sama sekali tidak ada kaitannya dengan judul maupun isi isi “>beritayang lebih menonjolkan isi pidato dalam pembukaan Pekan kebudayaan Aceh. (Hapsari Deli Serdang)
  13. Opini wartawan kembali terulang di berita berita “>harianSIB edisi Minggu, 16 Agustus 2009 halaman 11 dengan judul “Merana Diputus Cinta, Pemuda kembar Gantung Diri”. Seperti yang tertulis di awal berita: “Rasa cinta mendalam membuat pemuda kembar ini tak kuat menanggung derita ketika tali kasih diputus oleh gadis pujaannya”. Ada lagi di alinea tujuh yang isinya: “Suasana sepi dan hening itu itu “>rupanyaikut membuat nestapa hati hati “>Anggamakin menjadi-jadi. Pemuda yang kerja serabutan itu dan terakhir sesekali mengojek motor itu dirundung duka manakala sang tambatan hati memutuskan cintanya”. Sama sekali tak jelas siapa narasumber yang mengungkapkan kalimat-kalimat ini. (Hapsari Deli Serdang)
  14. Kesalahan teknis berupa kesalahan penulisan nama nama “>diperlihatkanSIB saat menurunkan berita yang terbit edisi Jumat, 7 Agustus 2009 di halaman 1+15 dengan judul “Dicurigai Terlibat Teroris, Yayan Koki Hotel yang Dikenal Pintar Bergaul.” Berita tersebut menggunakan satu narasumber yakni Martinah. Di awal-awal berita, nama nama “>Martinahyang dipergunakan, namun di pertengahan berita atau alinea ke-15 dan 16, bukan nama Martinah lagi, tetapi Marlina. (Hapsari Deli Sedang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s