Home

Objektivitas Pemberitaan Media

Minim Cover Both Sided

 Lalu bagaimana dengan objektivitas pemberitaan kedua media? Dari sisi sifat fakta, pemberitaan kedua media lebih banyak menyajikan fakta psikologis. Perbandingan antara fakta psikologis dengan fakta sosiologis dan gabungan (psikologis dan sosiologis) sangat jauh berbeda. Hal ini terjadi karena wartawan kedua media yang bersangkutan lebih banyak melakukan wawancara langsung baik dengan bertemu maupun dengan telepon (by phone interview) dengan narasumber pemberitaan dibandingkan melakukan pengamatan langsung di lokasi kejadian. Fakta psikologis muncul pada 98 item berita (89,90 %), sedangkan fakta sosiologis ada pada 5 item berita (4,58). Sedangkan sisanya sebanyak 6 item berita (5,52 %) merupakan gabungan fakta psikologis dan sosiologis.

            Dari 98 item berita yang mengandung fakta psikologis, 59 item berita (60,20 %) disumbang oleh Sinar Indonesia Baru dan 39 item berita (39,80 %) disumbang oleh harian Waspada. Sedangkan 5 item berita fakta sosiologis, keseluruhannya yakni sebanyak 5 item berita (100%) disumbang Waspada. Sedangkan, sebanyak 6 item berita yang sifat faktanya gabungan, 4 item berita (66,67%) disumbangkan oleh Waspada dan sisanya sebanyak 2 item berita (33,33%) disumbang oleh harian Sinar Indonesia Baru.

            Unsur dramatisasi ditemukan pada 25 item berita (22,93%) yang mana Waspada menjadi penyumbang terbesar dengan 17 item berita (68%) dan sisanya sebanyak 8 item berita (32%) disumbang oleh harian Sinar Indonesia Baru. Sebanyak 84 item berita (77,06%) tidak mengandung unsur dramatisasi. Dramatisasi paling banyak dilakukan harian Waspada ketika memberitakan kematian abdul Azis Angkat. Meninggalnya ketua DPRDSU tersebut didramatisir harian Waspada sebagai pembunuhan berencana, penzaliman terhadap umat muslim, dan isu SARA.           

            Sementara itu, untuk dimensi balance dengan indikator both sided coverage, umumnya kedua media masih mengabaikan indikator ini. Lebih dari setengah pemberitaan Sinar Indonesia Baru dan Waspada abai terhadap mekanisme ini. Dari total 109 item berita, ada 102 item berita (93,58%) yang tidak mengandung indikator both sided coverage dimana 57 item berita (55,88%) disumbang  Sinar Indonesia Baru dan 45 item berita (44,12%) disumbang Waspada. Dari 109 total item berita kedua media, hanya 7 item berita (6,43%) yang memiliki indikator both sided coverage dengan rincian, 4 item berita (57,14%) disumbang Sinar Indonesia Baru dan 3 item berita (42,86%) disumbang oleh Waspada. Minimnya unsur both sided coverage dalam pemberitaan kedua media karena pemberitaan Sinar Indonesia Baru dan Waspada tidak pernah menghadirkan dua narasumber dari dua pihak yang berkonflik secara bersamaan.

Dari sisi pencampuran fakta dan opini, dari total 109 item berita, hanya 8 pokok berita (13,11) yang mengandung pencampuran fakta dan opini. Sedangkan 101 item berita (92,66%) lainnya tidak mengandung pencampuran fakta dan opini. Minimnya pencampuran fakta dan opini karena jurnalis memang lebih banyak memintai pendapat dari para narasumber. Dari 101 item berita yang tidak mengandung pencampuran fakta dan opini, 53 item berita (52,48%) disumbangkan oleh harian Sinar Indonesia Baru dan sisanya sebanyak 48 item berita (47,52%) disumbang oleh Waspada. Sedangkan 8 item berita yang mengandung pencampuran fakta dan opini, keseluruhannya (100%) disumbang oleh Sinar Indonesia Baru.

            Dilihat dari sudut kesesuaian antara judul dengan isi berita, kedua media sudah memenuhi kriteria tersebut (106 item berita atau 97,25%). Sinar Indonesia Baru menyumbang 58 item berita (54,72%) dan sisanya 48 item berita (45,28%) disumbang oleh Waspada. Meskipun demikian ada 3 item berita (2,75%) yang tidak memiliki kesesuaian antara judul dan isi berita dan kesemuanya ini (100%) disumbang oleh harian Sinar Indonesia Baru. (lihat tabel 3)

 Tabel 3: Tabel Objektivitas Pemberitaan

N = 109

Kategori Kualitas Berita

Waspada

Sinar Indonesia Baru

Total

1. Sifat Fakta  

F

%

F

%

F

%

Psikologis

39

81,25

59

96,7

98

89,90

Sosiologis

5

10,41

0

0

5

4,58

Gabungan

4

8,33

2

3,27

6

5.52

Jumlah

48

100

61

100

109

100

ada

20

41,67

2

3,28

22

20,19

Jumlah

48

100

61

100

109

100

3. Pencampuran fakta dan opini Tak Ada

48

100

53

86,88

101

92,66

ada

0

0

8

13,11

8

7,33

Jumlah

48

100

61

100

109

100

4. Kesesuaian judul dan isi Tak Sesuai

0

0

3

4,91

3

2,75

Sesuai

48

100

58

95,08

106

97,24

Jumlah

48

100

61

100

109

100

5. Dramatisasi

 

Tak ada

31

64,58

53

86,88

84

77,06

Ada

17

35,41

8

13,11

25

22,93

Jumlah

48

100

61

100

109

100

6. Both sided coverage Tak ada

45

93,75

57

93,44

102

93,57

Ada

3

6,25

4

6,55

7

6,42

Jumlah

48

100

61

100

109

100

  * Kecenderungan Orientasi Pemberitan Media

SIB Mendukung, Waspada Menolak

 Kecenderungan pemberitaan yang dilakukan Sinar Indonesia Baru dan Waspada ibarat dua sisi mata uang logam yang berbeda satu dengan lainnya. Jika Sinar Indonesia Baru sangat getol mendukung pembentukan Protap, maka harian Waspada cenderung melakukan penolakan. Surat kabar yang didirikan oleh H.Mohd, Said dan Hj. Ani Idrus ini cenderung mengarahkan pemberitaannya kepada penolakan pembentukan Protap. Bukan hanya dalam pemberitaan, dalam beberapa Tajuk Rencana-nya, media ini juga menyatakan penolakannya. Alasan yang dikemukakan media ini untuk menolak kehadiran Protap, secara teknis tidak layak dan  pembentukannya tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam salah satu pemberitaan disebutkan:

 “Proses pembentukan protap harus dilakukan kembali dari awal, mengingat usulan yang ada saat diajukan masih jauh dari persyaratan yang ada di PP No.78/2007 tentang Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah.” (Waspada, 30 Januari 2009)

           Sedangkan Sinar Indonesia Baru, sebelum aksi unjukrasa tanggal 3 Februari 2009, semua pemberitaannya mengarahkan kepada kondisi bahwa pembentukan Protap benar-benar tuntutan masyarakat Tapanuli, bahkan sudah dikehendaki Tuhan. Lihat kutipan berikut:

 “Pembentukan Protap adalah karena kehendak masyarakat Tapanuli dan murni demi peningkatan pembangunan di segala bidang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak. Perjuangan pembentukan Protap diyakini adalah tidak hanya kehendak masyarakat Tapanuli saja, tetapi juga kehendak Tuhan.” (Sinar Indonesia Baru, 3 Februari 2009)

 Dalam berita lainnya, Sinar Indonesia Baru juga  berusaha menguatkan kondisi dukungan ini dalam kutipan berikut:

 “Terwujudnya pembentukan Protap, tujuan inilah yang ada di hati sanubari warga Tapanuli dan kalau tujuan terhalang oleh DPRDSU, maka tidak terjabarkan betapa tersingungnya perasaan warga Tapanuli yang sudah lama merindukan/mendambakan terwujudnya Protap demi meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat “ (Sinar Indonesia Baru, 3 Februari 2009)

 Namun setelah aksi unjuk rasa massa pendukung Protap yang berakhir rusuh pada  tanggal 3 Februari 2009 yang mengakibatkan meninggalnya Ketua DPRD Sumut, Abdul Azis Angkat, pemberitaan Sinar Indonesia Baru mengalami sedikit pergeseran. Jika sebelum tragedi, surat kabar ini mengarahkan pemberitaan kepada dukungan pembentukan Protap, maka pasca kematian Abdul Azis Angkat, koran ini lebih mengarahkan pemberitaan untuk menetralisir keadaan.

Sebaliknya bagi Waspada, aksi unjuk rasa yang menyebabkan meninggalnya Azis menjadi isu yang memperkuat penolakannya terhadap pembentukan provinsi Tapanuli. Waspada cenderung membuat pemberitaan yang mendramatisir kematian Abdul Azis Angkat sebagai bentuk kezaliman yang dilakukan massa pendukung Protap kepada umat Muslim.

Dukungan dan penolakan kedua media tidak hanya terjadi dalam hal pemberitaan Protap saja, tetapi juga kepada penyebab meninggalnya Abdul Azis Angkat. Hasil riset menunjukkan, Sinar Indonesia Baru menonjolkan pernyataan tim dokter, Mabes Polri, dan rekan-rekan Abdul Azis Angkat bahwa meninggalnya Abdul Azis Angkat adalah karena serangan jantung dan bukan karena tindak kekerasan oleh massa yang berunjuk rasa. Kutipan-kutipan berita yang menguatkan asumsi Sinar Indonesia Baru tersebut adalah:

 “.....Hal tersebut diungkapkan ahli syaraf RS. Gleni Medan, dr.Kolman Saragih, kepada wartawan di kantornya, Jalan Listrik Medan, Selasa (3/2). “Yang bersangkutan meninggal akibat serangan jantung. Namun kami juga menemukan luka memar di kepala dan dadanya,“ kata Kolma”. (Sinar Indonesia Baru, 4 Februari 2009)

 “.....Mabes Polri menyatakan, Ketua DPRD Sumut Abdul Azis Angkat meninggal dunia karena serangan jantung bukan tindak kekerasan oleh massa yang berunjukrasa di gedung DPRD. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira di Jakarta, Selasa mengatakan, Polri telah memeriksa hasil otopsi luar RS Gleni Internasional, RS Pirngadi Medan dan keterangan saksi. “Dari hasil otopsi luar RS Gleni Internasional, diperkirakan dia (Abdul Azis Angkat) meninggal dunia karena serangan jantung,“ katanya. Yang jelas, setelah jatuh sakit, Azis kemudian dibawa ke RS, namun di tengah perjalanan ia meninggal dunia. “Kita masih tunggu laporannya dari Sumut, tapi memang ada keterangan, ia pernah melakukan operasi by pass,“ (Sinar Indonesia Baru, 4 Februari 2009)

 “….. Selain itu berdasarkan keterangan saksi yang diambil pihak kepolisian setempat dari lokasi kejadian, menunjukkan tidak ada yang melihat Ketua DPRD Sumut itu meninggal dunia akibat terkena pukulan.” (Sinar Indonesia Baru, 4 Februari 2009)

 “……Elmadon Ketaren, salah seorang pengurus Partai Golkar Sumut saat mendampingi almarhum Azis Angkat dan 4 anaknya menyebutkan, bahwa 2 tahun lalu Alm Azis Angkat sudah menjalani perawatan akibat penyakit jantung di RS Jantung Harapan Kita.” (Sinar Indonesia Baru, 4 Februari 2009)

             Jika Sinar Indonesia Baru menyebut bahwa Abdul Azis Angkat meninggal karena serangan jantung dan bukan karena pukulan massa yang berunjukrasa, lain halnya dengan Waspada. Surat kabar ini terang-terangan membantah habis semua argumen Sinar Indonesia Baru tersebut. Dengan menggunakan liputan langsung wartawannya di lapangan dan juga penyataan sejumlah tokoh baik itu dari Partai Golkar dan pemerintahan, Waspada mengatakan bahwa meninggalnya Abdul Azis Angkat bukan karena serangan jantung, tetapi karena aksi anarkis massa yang berunjukrasa:

 “……Aksi unjukrasa seribuan massa pendukung pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) di gedung DPRDSU, Selasa (3/2) berlangsung anarkis. Massa sempat memukuli dan menyandera Ketua DPRDSU, H. Abdul Azis Angkat selama hampir dua jam sampai akhirnya meninggal dunia.” (Waspada, 4 Februari 2009)

 “…..Hasbullah Hadi mengaku mendengar ucapan dari Chandra Panggabean agar massa segera memukul Azis Angkat. “Udah pukul saja, pukul saja“ ujarnya menirukan provokasi Chandra kepada massa yang sudah membabibuta.” (Waspada, 4 Februari 2009).

 “…….Sementara itu, Wagubsu Gatot Pujonugroho yang melawat ke rumah duka Jalan Eka Rasmi Gang Pipa Air Bersih Medan, Selasa (3/2) siang, mengatakan insiden tersebut sangat memilukan. Karena Ketua DPRDSU dianiaya hingga meninggal dunia pada saat menjalankan tugas. (Waspada, 4 Februari 2009).

 “……Secara terpisah, Ketua DPD Partai Golkar Sumut, HM Ali Umri SH, MKn, mengatakan meninggalnya Azis Angkat jelas bukan karena serangan jantung. Tetapi akibat penganiayaan yang dilakukan massa yang digagas oleh GM Panggabean. Dia juga menyayangkan sikap Kapoltabes Medan yang memberi keterangan kepada pers bahwa Ketua DPRDSU meninggal dunia karena serangan jantung dan tidak ada unsur penganiayaan oleh massa Protap”. (Waspada, 4 Februari 2009).

 Lebih dari sekadar karena aksi brutal massa Protap, Waspada juga mendramatisir kematian Abdul Azis sebagai aksi  pembunuhan berencana. Untuk hal ini, Waspada mengutip pernyataan tokoh-tokoh partai baik Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN).

 Hal senada juga disampaikan Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRDSU, Kamaluddin Harahap dan Drs. H. Ibrahim Sakty Batubara, MAP. Menurut mereka, apa yang dilakukan  oleh massa pendemo yang mengatasnamakan Protap telah diluar batas kemanusiaan. Kamaluddin sendiri mengungkapkan, tindakan yang dilakukan oleh massa Protap ada unsur disengaja. Pasalnya, tiga hari sebelumnya, pihaknya menerima ancaman dari orang yang tidak dikenal agar segera menggelar paripurna pembentukan Protap. Menurutnya, pembunuhan yang dilakukan oleh massa Protap terhadap Azis Angkat sudah direncanakan. “Itu memang sudah diskenariokan. Pasalnya setelah Azis pingsan akibat dihantam beramai-ramai oleh massa pendukung Protap, massa tidak memperbolehkan beliau keluar dari ruang Fraksi Partai Golkar,“. Hal itu diamini anggota DPRDSU dari Fraksi Golkar lainnya, H. Marzuki yang menilai aksi massa Protap itu sbagai tindakan kriminal murni, karena telah mengakibatnya hilangnya nyawa seseorang. (Waspada, 4 Februari 2009).

 “Ada konspirasi sistimatis menyebabkan meninggalnya ketua DPRDSU. Kenapa massa protap datang pada saat DPRD Sumut Melakukan sidang pembahasan pergantian PAW anggota DPRDSU yang sudah pindah partai.” (Waspada, 4 Februari 2009)

 “…… Kejadian itu sudah merupakan skenario para elit pendukung Protap untuk menghabisi nyawa orang pertama di jajaran DPRDSU.” (Waspada, 6 Februari 2009)

            Pertentangan lainnya diperlihatkan Sinar Indonesia Baru dan Waspada terkait perizinan aksi unjukrasa massa Protap. SIB menyebut bahwa aksi demo massa Protap sudah memiliki izin sedangkan Waspada menyebut bahwa demo massa Protap tidak memiliki izin (illegal).Uniknya pertentangan yang diperlihatkan SIB dan Waspada ini dengan mengutip pernyataan dari satu institusi yakni kepolisian. Bedanya, SIB dari Mabel Polri sedangkan Waspada dari Poltabes Medan.

 “…..Polri membantah aksi demonstrasi yang meminta pengesahan Propinsi Tapanuli tersebut tidak memiliki izin. “Setelah saya cek, demo itu sudah ada surat pemberitahuan. Malah demo tersebut dikatakan akan membawa 10.000 orang,“ ujar Abubakar. (Sinar Indonesia Baru, 4 Februari 2009)

 “…Kombes Pol.Aton Suhartono yang akan segera diganti posisinya dari jabatan Kapoltabes menegaskan bahwa demo massa pendukung Protap illegal. “Kita menerima surat izin aksi massa Protap sehari sebelum demo, pada sore hari. Semestinya surat izin tiga hari sebelum aksi, sehingga kita bisa katakan itu demo liar, karena tidak sesuai prosedur,“ katanya. (Waspada, 8 Februari 2009)

             Perbedaan pendapat unsur petinggi kepolisian dan dikutip media tak hanya ada pada sah tidaknya aksi demo massa Protap, tetapi juga terkait prosedur pengamanan yang dilakukan. Sinar Indonesia Baru menyebut bahwa polisi membantah lalai dan pengamanan yang dilakukan polisi sudah maksimal. Sedangkan Waspada menyebut bahwa polisi memang lalai dalam menangani aksi tersebut.

 “…Ketua DPRD Sumatera Utara (Sumut) Azis Angkat tewas di Gedung DPRD Sumut. Terkait hal ini, polisi membantah lalai dalam melakukan pengamanan. “Pengamanan yang kami lakukan sudah maksimal. Kami melibatkan sejumlah personel dari Polda Sumut, tetapi demonstran memaksa masuk,“ kata Kapoltabes Medan, Kombes Pol. Aton Suhartono, di Gedung DPRD Sumut, Jl. Imam Bonjol Medan, Sumut, Selasa (3/2).

 …Kombes Pol.Aton Suhartono yang akan segera diganti posisinya dari jabatan Kapoltabes menegaskan bahwa demo massa pendukung Protap illegal. Namun ia mengakui kelalaiannya sehingga peristiwa itu terjadi. “Saya akui saya lalai, dan siap menanggung akibatnya,“ kata dia kemarin (7/2) sembari menambahkan, tidak merasa tercederai atas pencopotan dirinya dari Kapoltabes.

 Jauh sebelum mengutip pernyataan Kapoltabes Kombes Pol. Aton Suhartono terkait kelalaiannya ini, Waspada juga sudah mengutip pernyataan sejumlah pihak bahwa pengamanan polisi memang tidak maksimal dalam mengamankan aksi demo massa Protap tersebut.

 “……Wakil ketua DPRDSU dari Fraksi Demokrat, Hasbullah Hadi mengatakan, aksi yang dilakukan massa pendukung Protap tersebut sangat biadab, karena sampai menyebabkan tewasnya Ketua DPRDSU, dan merusak gedung dewan sebagai lembaga negara. Dia juga menyayangkan jumlah aparat keamanan yang sangat sedikit dalam mengamankan aksi yang berlangsung anarkis tersebut. “Kepolisian seolah-olah sengaja membiarkan panitia Protap berbuat seperti itu. Seharusnya pihak kepolisian sudah mempersiapkan pengamanan ekstra, karena aksi massa pendukung Protap di DPRDSU sebelumnya juga rusuh,“ katanya.

(BERSAMBUNG)

4 thoughts on “Perang Protap di Sinar Indonesia Baru dan Waspada (4)

  1. ini sangat bagus sekali berarti ada pengamat yang menilai,tapi lebih bagus lagi kalau ini dipublikasikan kemedia yang betul2 netral agar masyarakat memahami hal yang sebenarnya dan tidak terjebak dngn propokasi2 yg dapat menghantam sosial masyarakat akibatnya antara individu,kelompok,etnis,agama, akan saling menjauh dan saling curiga dan untuk kedepan masyarakat akan dihantam lagi dengan apatisme yang akut,nah jika ini sampai terjadi maka kebinekaanpun akan terkubur dalam2 lalu kitapun akan kehilangan idetitas diri seumur hidup

  2. Analisis seperti ini sangat jarang dilakukan terutama membawa masyarakat Indonesia ke arah yang lebih pintar. Saran saya supaya anlaisis ini dipublikasikan secara terbuka tidak hanya di internet mengingat masyarakat belum baegitu banyak yang berseduia mengakses berita di internet. pada akhirnya silahkan masyarakat yang menentukan pilihannya. Bravo

  3. klo bwt berita tolong yg berbobot,sehingga si pembaca suka utk membaca nya..
    Nb:jgn permainkn hati rakyat,sehingga biar jgn di permain kn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s