Home

Menurut William J. Small pers bagi para politisi ibarat cermin di pagi hari, dimana ia bisa melihat diri sendiri. Lewat pers tindak-tanduknya dinilai, hingga terbentuk imajinasi massa tentang dirinya. Pers menjadi penghubung antara politisi dengan massa, baik pendukung atau tidak. Sebab itu, para politisi akan menghitung betul kekuatan pers, karena pers dalam waktu singkat bisa melambungkannya atau sebaliknya menghempaskan mereka sampai ke jurang yang paling dalam.[1]

Pemilihan kepala daerah secara langsung (Pilkada) adalah isu yang menyertakan banyak kepentingan dari berbagai pihak seperti tim sukses, partai/organisasi pendukung para kandidat. Dalam orasi kampanye, pendapat dan dukungan disampaikan lengkap dengan retorika untuk kepentingan masing-masing calon. Media menjadi ajang perang simbolik antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan suatu isu.

Menurut Charlotte Ryan, media biasanya ditempatkan sebagai arena dimana pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa politik saling mengajukan klaim dan pembenar untuk mempengaruhi kesadaran khalayak  bahwa pendapat dan klaim mereka yang paling benar. Upaya penonjolan penafsiran itu dilakukan dengan memberikan retorika, label atau klaim kebenaran tertentu agar pandangannya diterima khalayak dan menegaskan pandangan di luar itu sebagai tidak benar.[2]

 

Retorika Politik: Proses negosiasi

Retorika politik adalah suatu proses yang memungkinkan terbentuknya masyarakat melalui negosiasi.[3] Dalam Karyanya, Retorika, Aristoteles mengidentifikasi ada tiga jenis  retorika yang sering digunakan dalam peristiwa politik. Retorika deliberatif digunakan untuk mempengaruhi orang-orang dalam masalah kebijakan pemerintah, retorika forensik/yuridis yang berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu sebagai upaya menunjukkan bersalah atau tidak bersalah seseorang yang bisanya digunakan dalam proses pengadilan. Retorika demonstratif adalah epideiktik, wacana yang memuji dan menjatuhkan.

Retorika demonstratif ini digunakan untuk memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, suatu lembaga, atau gagasan. Menurut Aristoteles, kampanye politik biasanya penuh dengan retorika demontratif dimana satu pihak menantang kualifikasi pihak lain bagi jabatan di dalam pemerintahan. Dukungan editorial oleh surat kabar, majalah, televisi dan radio juga mengikuti garis retorika demonstratif, digunakan untuk memperkuat sifat-sifat positif kandidat yang didukung dan sifat-sifat negatif lawannya.[4] Teun van Dijk memandang retorika berita terkait erat dengan “ bagaimana jurnalis mengatakan sesuatu”.

Pendapat Aristoteles dan Dijk didukung Gill and Karen Whedbee yang berpendapat retorika memiliki beragam pengertian, tetapi semuanya mendefinisikan retorika sebagai tipe instrumental teks berita, wahana menggiring pemahaman pembaca (audiance). Asumsinya tidak semua individu atau kelompok masyarakat memiliki kesamaan akses ke saluran komunikasi (media), karena teks berita bisa menjadi hegemonik. Dalam relasi seperti itu retorika cenderung dijadikan alat dominasi atau menindas misalnya, ketika teks berita senatiasa berperspektif tunggal untuk memahami berbagai peristiwa.[5]

Media pasti mempunyai retorika tertentu ketika memberitakan suatu masalah. Hal ini dapat diamati dari bingkai berita yang ditonjolkan. Menyusun orasi dari juru kampanye menjadi berita adalah suatu strategi wacana yang dilakukan jurnalis. Bagi jurnalis yang mendukung satu kandidat, komentar kandidat, jurkam atau pendapat tokoh mengenai satu kandidat cenderung akan dikutip apa adanya dalam teks berita. Sebaliknya jika jurnalis tidak setuju, maka komentar atau ucapan kandidat itu akan tetap dikutip dalam teks berita, tetapi biasanya dengan mengkontraskannya dengan pendapat yang berseberangan. Dengan cara itu, jurnalis secara tidak langsung mensugestikan kepada pembaca bahwa komentar calon kandidat atau tokoh itu tidak benar, dan tidak didukung banyak orang.[6]

Dalam prakteknya, framing dijalankan oleh media dengan cara menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain: dan menonjolkan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi  wacana—penempatan yang mencolok, pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label, generalisasi, simplifikasi dan lain-lain. Semua aspek ini digunakan  untuk membuat dimensi tertentu dari kontruksi berita menjadi bermakna dan diingat oleh khalayak.[7]

Kontruksi berita biasanya akan disusun menggunakan fitur signifikan (utama) teks, sehingga teks nampak elok, persuasif dan berefek. Fitur signifikan dapat dilacak pertama pada struktur dan temporalitas teks yang merujuk pada dimensi waktu, misalnya memakai masa lalu, kini dan masa depan. Temporalitas teks dapat menjadi indikator progresi persoalan, balik ke masa silam atau menapak ke masa depan.

Kedua, fitur argumentasi, pemakaian argumentasi mengindikasikan adanya interaksi antara jurnalis, teks dan pembaca. Berdasarkan argumentasi tertentu, secara terselubung berlangsung pergulatan pengetahuan, ideologi, keyakinan jurnalis melawan pembaca memandang persoalan/peristiwa. Ketiga, metafora yang merupakan ragam gaya bahasa penting untuk menata teks agar tampak indah dan asosiatif. Terakhir ikonisitas yakni tanda yang mampu berbicara sendiri. Fitur yang tak memaksa fakta menjadi arbitrer ini berfungsi mengerem intuisi jurnalis mempersamakan fakta dengan pengalaman sendiri. Ikonisitas adalah instrumen perkasa untuk menancapkan dan memperkokoh keyakinan jurnalis ke dalam benak pembaca.[8]

Penelitian ini akan mengadopsi  kerangka konseptual Dijk serta Gill dan Whedbee. Retorika dipahami sebagai upaya jurnalis meyakinkan pembacanya untuk menerima cara pandang konteks eksigensi terhadap sebuah peristiwa menjadi kebenaran melalui pemanfaatan fitur teks berita signifikan, berupa argumentasi dan gaya bahasa. Argumentasi akan dibagi menjadi dua, pertama argumentasi eksplanatif (memperjelas peristiwa, dengan menekankan mengapa, bagaimana atau solusi) dan deskritif (teks berita yang mengangkat siapa, apa dan kapan). Kedua argumentasi ini dapat memafaatkan perangkat teks ilustrasi (fakta pendukung), testimoni (pernyataan narasumber) dan analogi (ibarat) dan principles (ajaran/prinsip/hukum/kaidah)

 

Analisis isi Kualitatif

            Analisis kualitatif digunakan untuk melihat secara lebih dalam isi berita dan  kecenderungan pemberitaan media terhadap kandidat kepala daerah dalam Pilkada Deli Serdang. Analisis kualitatif ini juga digunakan untuk menafsirkan bahasa, gambar dan suara yang dipakai media. Misalnya sudut pengambilan foto, kamera, atau efek suara tertentu dalam berita. Teknik analisis kualitatif ini digunakan untuk mendukung eksplanasi temuan kuantitatif.

 

Retorika Media Sanjung Amri

Retorika merupakan alat meyakinkan pesan teks berita kepada pembaca. Hanya saja, efek komunikasi itu amat dipengaruhi faktor kontekstual (publik, mediasi massa, serta sifat alamiah berita) dan pemanfaatan struktur retoris teks berita. Struktur retoris yang handal digunakan untuk menata penampilan berita dan mempersuasifkan pesan adalah estetis (pengaturan ritme, pengulangan, intonasi khusus), sintaksis (perbandingan, metafora, ironi), serta semantis (makna). Ketiga struktur retoris tersebut membantu pembaca memperoleh gambaran atau model representasi tekstual hasil konstruksi jurnalis.

Secara pragmatis, penggunaan sejumlah struktur retoris ampuh mengajak pembaca memahami pesan teks berita sebagai : pernyataan, permintaan atau ancaman.[9]

Hasil analisis yang dilakukan terhadap lima media yaitu Waspada, Analisa, Sumut Pos, Sinar Indonesia Baru dan Sindo, memperlihatkan 4 surat kabar, kecuali Sindo cenderung memberikan penggambaran yang positif sebagai sanjungan terhadap pasangan Amri Tambunan – Zainuddin Mars. Sedang Sindo memilih posisi netral, artinya pemberitaan koran ini cenderung tidak memberikan penggambaran positif, negatif atau gabungan keduanya. Memang Sindo beberapa kali memberikan penilaian negatif terhadap pasangan calon ini, tapi tidak dominan (lihat: Tabel 1). 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1: Kecenderungan Pemberitaan Terhadap Pasangan AZAN

N = 155

Kecenderungan Berita

Waspada

Analisa

Sumut Pos

SIB

Sindo

Total

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

Positif

14

61%

9

75%

28

80%

17

74%

0

0%

68

64%

Negatif

1

4%

0

0%

0

0%

0

0%

3

23%

4

4%

Positif dan Negatif

0

0%

0

0%

0

0%

0

0%

0

0%

0

0%

Netral

8

35%

3

25%

7

20%

6

26%

10

77%

34

32%

Jumlah

23

100%

12

100%

35

100%

23

100%

13

100%

106

100%

 

            Penilaian positif keempat surat kabar dipaparkan melalui retorika-retorika politik berupa sanjungan dan puji-pujian yang tersebar di judul-judul dan isi berita yang ada.

 

Harian Waspada : Amri Pemimpin Perduli Kepentingan Umat

Retorika berita Waspada umumnya berisi pujian terhadap Amri Tambunan. Menurut Waspada, Amri Tambunan adalah sosok pemimpin berpengalaman, dan sudah banyak berbuat untuk kepentingan umat dan masyarakat Deli Serdang. Dua program pembangunan andalan Amri, GSDM (Gerakan Deli Serdang Membangun) dan Cerdas, dianggap sukses mensejahterakan dan mencerdaskan masyarakat. Program GDSM dan Cerdas  Amri, bukan sekedar janji, tapi bukti yang sudah dinikmati masyarakat.

Jika ada sebagian orang yang menganggap kedua program pembangunan itu gagal atau sia-sia, menurut Waspada hal itu hanya pekerjaan oknum-oknum yang ingin menyakiti hati rakyat. Pada berita yang berjudul ”Bupati Deli Serdang Prihatin Ada yang Tidak Mengerti GDSM dan Cerdas”,  edisi 28 September 2008, halaman 3 disebutkan:

 

            “....Oleh sebab itu, jika ada oknum-oknum yang mengatakan konsep Cerdas itu sia-sia itu   berarti telah             menyakiti hati rakyat dan tidak mengerti apa itu konsep cerdas”.

 

Kalimat” menyakiti hati rakyat’’ adalah pemakaian kosa kata yang berlebihan yang menimbulkan sugesti tertentu ketika diterima masyarakat. Kata “oknum-oknum” digunakan untuk menyadarkan pembaca bahwa pihak yang menolak keberhasilan program GDSM dan Cerdas itu hanyalah orang yang tidak jelas statusnya dan tidak bertanggungjawab. Kalimat “menyakiti hati rakyat’  juga digunakan untuk mengail simpati pembaca, bahwa yang disakiti dengan tuduhan itu bukan hanya diri Amri, tapi juga hati seluruh rakyat Deli Serdang.

Selain menilai sebagai pemimpin berpengalaman, koran ini juga menjuluki Amri sebagai pemimpin baik hati. Pada berita berjudul “Amri Tambunan Pemimpin Peduli, Pantas berdialog dengan warga Karo”, edisi 13 Oktober halaman 7, dijelaskan bahwa Amri bukan hanya pemimpin yang baik hati, tapi juga sabar dan tidak pendendam.

 

                “…Amri Tambunan merupakam sosok pemimpin yang memiliki keperdulian terhadap          kepentingan umat, dengan melaksanakan berbagai pembangunan yang diamanahkan.     Meski dizalimi dengan berbagai hasutan dan fitnah, namun Haji Amri Tambunan tidak      pernah melakukan pembalasan.”

 

Pernyataan ini diperkuat pemberitaan Waspada pada edisi 20 Oktober 2008 yang berjudu;  ”30 Ribu Warga Hadiri Kampanye di Percut dengan sub berita ‘Komitmen Amri Meneruskan Cerdas dan GDSM’:

 

                “……… Haji Amri Tambunan seperti karang di tengah laut, tidak pernah goyang diterpa       ombak. Artinya, biarpun selama ini digoyang dari pihak manapun, tapi dirinya tetap   komitmen untuk membangun Deli Serdang.

 

            “……..Haji Amri Tambunan selama ini tidak pernah lupa dengan kaum perempuan, Haji      Amri Tambunan merupakan pemimpin yang arif dan bijaksana serta dapat       meningkatkan martabat perempuan.”

 

Gaya bahasa metafora, yang menyamakan Amri Tambunan seperti karang di tengah laut digunakan koran untuk memandu kesadaran publik bahwa Amri tipe pemimpin yang kuat, tidak mudah goyah oleh berbagai tantangan dalam menjalankan pemerintahnnya. Kutipan kedua juga di stel surat kabar ini untuk menarik hati kaum perempuan untuk memilih Amri.

Selain digambarkan sebagai pemimpin yang kuat, Amri juga digambarkan sebagai pemimpin yang taat dan religius. Ini digambarkan  pemberitaan yang selalu mencantumkan gelar Haji di depan nama kandidat tersebut. Penambahan label  Haji  digunakan untuk mensugesti khalayak bahwa Amri seorang muslim yang taat. Label ini sekaligus meyakinkan khalayak bahwa Amri juga  seorang muslim yang merupakan bagian dari umat Islam. Bagi Waspada, label ini penting diungkapkan mengingat mayoritas pembacanya adalah umat Muslim yang pasti akan mempertimbangkan kandidat pilihan mereka nantinya.

Selain pemaparan yang positif tentang profil Amri, Waspada juga banyak memuat berita tentang dukungan-dukungan berbagai elemen masyarakat Amri. Semua itu digunakan untuk membangun citra  bahwa masyarakat masih menginginkan Amri memimpin Deli Serdang untuk keduakalinya.

 

Harian Analisa:  Pemimpin Perduli Pembangunan dan Pendidikan  

            Kalau Waspada menggambarkan Amri sebagai pemimpin yang perduli umat, Analisa memilih kata pemimpin yang perduli pembangunan dan pendidikan. Harian ini mendeskripsikan sosok Amri sebagai pemimpin yang telah berhasil melakukan perubahan dengan membangun dan mencerdaskan masyarakat Deli Serdang. Dikatakan, sejak awal memimpin, Amri sudah melakukan perubahan. Konsep pembangunannya dinilai sangat jelas yaitu membangun dan mencerdasakan masayarakat.

            Surat kabar ini juga menilai keberhasilan tersebut menjadi keunggulan Amri dibandingkan calon lainnya. Amri sudah memiki konsep pembangunan hanya tinggal pemantapan saja. Seperti terlihat pada berita yang berjudul ”Ribuan Masyarakat Hadiri Kampanye Pasangan Azan di Beringin” dengan sub judul ”Amri Tambunan Tinggal Lakukan Pemantapan membangun Deli Serdang” edisi 14 Oktober, halaman 25:

 

            “… Di saat orang-orang sibuk membicarakan konsep untuk melakukan perubahan, Amri Tambunan justru          sudah melakukan perubahan tersebut. Sejak memimpin, Amri sudah melakukan perubahan nyata dengan             membangun banyak infrastuktur hampir disetiap pelosok desa. Walaupun banyak tantangan, namun          semuanya itu dihadapinya dengan sabar dan tegar untuk terus melakukan perubahan membangun          Deliserdang ke depan”

 

            Berita ini menjelaskan bahwa langkah Amri untuk maju jadi Bupati lebih pasti dibandingkan calon lain yang masih sibuk mempersiapkan konsep pembangunan yang hendak ditawarkan. Dalam kutipan itu, Amri juga  dilabelkan sebagai pemimpin yang sabar dan tegar. Dalam teks ini juga dijelaskan bahwa Amri menghadapi banyak tantangan dalam tugas-tugasnya, namun  dia tetap  sabar dan tegar. Pujian lain yang diberikan kepada Amri adalah sebagai pemimpin yang penuh semangat dan berhati mulia.

            Pada berita ”Kampanye hari ke Lima Pasangan “Azan” di Namorambe Meriah,” edisi 18 Oktober halaman 12 ditulis:

 

                “…….. Amri Tambunan dalam kepemimpinannya selama ini dengan semangat dan hati yang mulia telah                 menorehkan pembangunan yang belum pernah dilakukan Bupati terdahulu di kecamatan itu.”

 

            Berhati mulia  adalah label yang mensugesti khalayak kalau Amri adalah orang yang tulus dan baik budi pekertinya. Berhati tulus dan berprestasi adalah kelebihan Amri dibandingkan  bupati-bupati  pendahulunya. Keunggulan itu membuat Amri lebih siap dari kandidat lain yang berlaga dalam pilkada kali ini.

            Koran ini juga meyakinkan pembacanya bahwa memilih pasangan AZAN akan mensejahterakan dan mencerdaskan masyarakat Deli Serdang. Hal ini misalnya dapat dibaca pada berita edisi 5 September 2008 yang berjudul ”Amri Tambunan Dapat Dukungan dari Kelompok Tani AAPM”, dan berita ”Anggota DPR-RI IR HM Yusuf Pardamean Ajak Masyarakat Deli Serdang Pilih Pemimpin yang Suka membangun untuk kepentingan Rakyat”, edisi 24 Oktober halaman 30:

 

            “… Bilamana pasangan ini terpilih, di Deli Serdang maka seluruh petani yang ada didaerah ini tidak ada yang           merana lagi,  kata Jonatan.

 

                “Sosok Amri Tambunan-Zainuddin Mars sudah terbukti menjadikan Rakyat Deli Serdang tidak bodoh.                 Calon No 5 yang harus kita menangkan telah membuat suatu terobosan melalui konsep Cerdas dan                GDSM”.

 

            Melalui berita tersebut, Analisa berusaha memikat khalayak khususnya para petani di Deli Serdang untuk memilih AZAN. Soalnya, jika AZAN terpilih, mereka akan memperbaiki nasib petani yang selama ini hidup merana. Pasangan ini juga dipromosikan sebagai tim yang solid memberantas kebodohan di Deli Serdang. Karena itu untuk kontinuitas pembangunan, media ini menekankan, pemimpin yang dipilih haruslah Amri Tambunan, sebagaimana tertuang dalam berita “Mantab dan 10 Partai Pendukungnya Halabihalal Bersama Amri Tambunan dan Zainuddin Mars”, 11 Oktober halaman 17 dan berita “Amri Tambunan Dihadapan Belasan Ribu Massa” edisi 22 Oktober halaman 11:

 

            “…..Apa yang sudah dilakukan Amri, sangat dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu untuk         kontinuitas pembangunan, Amri layak dan Pantas kembali memimpin Deli Serdang”

 

            Maju mundurnya bangsa ini tergantung pendidikan. Konsep Cerdas sangat membantu masyarakat dalam            pemerataan pendidikan. Karena itu Amri Tambunan Pantas dipilih kembali menjadi Bupati Deli Serdang         yang peduli kepada pendidikan.

    

            Pilihan kata paling layak dan Pantas dalam kutipan berita diatas menegaskan kepada pembaca agar tidak ragu-ragu untuk menjatuhkan pilihan pada pasangan AZAN pada Pilkada nanti. Berita ini juga hendak menyatakan  pasangan ini lebih cocok dan lebih baik dibandingkan calon-calon lainnya.

 

Harian Sumut Pos dan Sinar Indonesia Baru: AZAN Pemimpin Yang Teruji

            Surat kabar Sumut Pos dan Sinar Indonesia Baru (SIB) sepakat mengkonstruksi sosok Amri Tambunan sebagai pemimpin yang sudah teruji. Menurut SIB, diantara bupati yang sudah pernah menjabat di Deli Serdang, hanya Amri yang perduli kepada masyarakat melalui konsep Cerdas dan GDSM. Hal senada dikatakan Sumut Pos. Koran ini menilai bahwa pasangan AZAN merupakan kandidat Bupati yang telah teruji.

Karena itu AZAN adalah figur yang paling tepat dipilih untuk memimpin Deli Serdang lima tahun kedepan. Kepiawaian Amri selama menjabat Bupati, terbukti dari pesatnya pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. Karena itu kepemimpinan Amri tidak perlu diragukan lagi karena sudah terbukti dan teruji. Menurut Sumut Pos, siapapun tidak akan menyesal memilih AZAN kembali seperti tertuang pada berita “Warga Sudah Cerdas Memilih” yang dimuat pada 17 Oktober 2008 halaman 24, dan berita berjudul “AZAN Pasangan Teruji”, edisi 20 Oktober 2008 halaman 24:

 

“Pasangan Azan tidak diragukan lagi, ini  terbukti dan teruji. Tidak akan menyesal   memilih Azan kembali”

 

“……Pasangan Azan merupakan kandidat Bupati dan Wakil Bupati yang telah teruji. Untuk             mempercepat   pembangunan dalam kurun waktu lima tahun. Kalau ada yang sudah jadi,     untuk apa mencari yang baru?

 

            Sumut Pos juga menegaskan bahwa Deli Serdang sebenarnya tidak membutuhkan pemimpin yang baru, tapi hanya memerlukan pemimpin yang sudah berhasil. Pada berita “Generasi Demokrat Dukung Azan” edisi 17 September 2008, halaman 24, koran ini menulis:

 

“Kemenangan AZAN adalah kemenangan rakyat, artinya pembangunan yang digulirkan      Pemkab Deli Serdang semuanya untuk kesejahteraan masyarakat”.

 

            Jargon “Kemenangan AZAN adalah kemenangan rakyat” digunakan untuk memikat hati khalayak bahwa kemenangan Amri adalah kemenangan buat mereka. Kalimat ini sekaligus menjelaskan bahwa Amri adalah pemeimpin yang pro kepentingan masyarakat.

Dukungan yang sama juga diberikan SIB. Menurut koran ini, pembangunan yang dilakukan Amri akan mengantarkan Deli Serdang menuju taraf take Off (tinggal landas). SIB juga mensugesti khalayak pembacanya dengan mengatakan bahwa kandidat-kandidat saingan Amri adalah tukang gombal masyarakat. Karena itu masyarakat diharapkan tidak terpengaruh dengan janji-janji para kandidat tersebut. Dalam berita “Masyarakat tidak bisa dibodoh-bodohi dengan janji Gombal para Kandidat” edisi 12 Oktober halaman 4, di sana disebutkan:

 

            “…Pemimpin yang sudah teruji adalah Amri Tambunan. Amri Tambunan yang telah            meletakkan pembangunan Deli Serdang menuju taraf  take off”.

 

            Pasangan AZAN digambarkan tidak hanya sudah teruji, tapi juga piawai dalam membangun Deli Serdang. Pada berita “Kepiawaian Amri Membangun Deli Serdang Sudah terbukti” edisi 17 Oktober halaman 4, dan pada berita “Kampanye AZAN, Kebersamaan Meningkatkan Pembangunan,” 21 Oktober halaman 4, di sana dikatakan:

 

“Kepiawaian Amri Tambunan dalam membangun Deli Serdang sudah terbukti dengan         banyaknya pembangunan di Namurambe, dan daerah-daerah lain. Tidak salah kalau orang        yang benar-benar telah teruji menjadi Bupati kembali           dipilih rakyat untuk meneruskan         pembangunan di Deli Serdang.”

 

Pasangan AZAN merupakan kandidat Bupati dan Wakil Bupati yang telah   teruji….Semenjak Amri Tambunan menjadi            Bupati Deli Serdang, wilayah Kabupaten        Deli Serdang dapat mengejar ketertinggalan dari daerah lain.

 

Kutipan ini adalah puji-pujian untuk kepiawaian Amri dalam membangun. Amri adalah pemimpin yang sabar dan lihai. Pemimpin yang mampu menjalankan roda pembangunan dalam kondisi dana yang sulit. Bahkan dalam kondisi keuangan Pemkab yang mengalami defisit akibat pemekaran, tidak mengurangi semangat Amri untuk memperbaiki 621 buah gedung Sekolah dasar. Seperti tertuang dalam berita “GMPPK se- Deli Serdang Siapa Antarkan Amri Tambunan jadi Bupati Kedua”, SIB edisi 27 September halaman 4:

 

“…Saat Amri Tambunan mulai menjabat Bupati, ternyata keuangan Pemkab mengalami      defisit akibat terjadi pemekaran Kabupaten yang melahirkan Kabupaten Serdang   Bedagai. Namun Amri tidak kehabisan akal untuk merehabilitasi 621 SD…”

 

Keberhasilan Amri membangun dalam kondisi keuangan Pemkab yang minim diangkat harian ini untuk menumbuhkan kesan kepada pembaca bahwa Amri adalah tipe pemimpin yang pantang menyerah. Kutipan ini juga sekaligus memperjelas bahwa Amri Tambunan sudah sangat teruji kemampuannya. Karena itu dalam pemilihan Pilkada nanti, surat kabar ini memperingatkan masyarakat agar jangan salah memilih. Apalagi sampai memilih pemimpin yang kerjanya menyebar fitnah.

Dalam berita ”Jangan Pilih Calon Pemimpin Yang Kerjanya Menebar Fitnah”, edisi 8 Oktober 2008, disebutkan bahwa:

 

            “………. Masyarakat diminta agar jangan memilih calon pemimpin yang hanya pandai            menebar fitnah dan pintar merangkai kata-kata manis, sebab bukan tidak mungkin          didalam kata-kata manis terselip kebohongan. Umat perlu kedewasaan berpikir         untuk melihat siapa yang mampu menyodorkan pembangunan bagi kesejahteraan   rakyat, maka itulah sosok pemimpin yang perlu dipilih.”

 

Berita ini mengingatkan khalayak agar tidak salah menjatuhkan pilihan sekaligus memperingatkan pembaca agar dapat menjatuhkan pilihan kepada orang yang sudah berpengalaman dalam pembangunan, yang dalam hal ini tidak lain tidak bukan hanya Amri Tambunan seorang.

 

 

Tabel 2 : Penggambaran Positif Media terhadap Amri (Pasangan AZAN)

Penggambaran Media tentang Pasangan Azan

Waspada

Analisa

Sumut Pos

SIB

Sindo

1.       Pemimpin yang perduli kepentingan umat

4

0

0

1

0

2.       Pemimpin yang sudah banyak makan asam dan garam

1

0

1

0

0

3.       Pemimpin perduli kepada masyarakat desa

1

0

4

1

0

4.       Pemimpin perduli pembangunan dan Kecerdasan (GDSM dan Cerdas)

3

4

5

3

0

5.       Pemimpin pelopor Tiga pilar pembangunan

1

1

0

1

0

6.       Pemimpin paling  didukung masyarakat

1

0

0

3

0

7.       Pemimpin penyabar

1

0

0

0

0

8.       Pemimpin teruji

0

0

6

4

0

9.       Pemimpin cerdas

0

0

3

1

0

10.    Pemimpin tak pilih kasih

1

0

0

1

0

11.    Pemimpin paling layak dipilih

3

0

1

0

0

12.    Pemimpin yang menunjukkan karya nyata

1

0

1

1

0

13.    Pemimpin berhati mulia

0

1

0

0

0

14.    Pemimpin pembawa perubahan

0

1

0

0

0

15.    Pemimpin yang mensejahterakan masyarakat

0

1

3

3

0

16.    Pemimpin yang tepat dan piawai

0

0

1

1

0

17.    Pemimpin yang menginspirasi  ke kepemimpinan Rasulullah

0

0

1

0

0

18.    Motor penggerak pembangunan Deli Serdang

0

0

2

0

0

19.    Pemimpin perduli kaum miskin

0

0

1

0

0

20.    Pemimpin perduli nasib perempuan

1

0

0

0

0

21.    Pemimpin pemberi rasa aman

0

1

0

0

0

Jumlah

18

9

29

19

0

 

Penutup

Idealnya pers lokal memiliki posisi dan peran strategis untuk betul-betul menjadi pilar keempat (the fourth estate) dalam kehidupan demokrasi. Tapi sangat disayangkan, media belum menjalankan peran  mulia ini secara maksimal karena sejak lama sudah ada posisi semacam patron and client yang sudah mengakar antara politisi (misalnya Bupati) dengan jurnalis atau media.

Secara struktural lembaga eksekutif (misalnya pemerintah Kabupaten Kota) masih menyediakan anggaran untuk media.[10] Sebagai contoh, bukan rahasia lagi jika komunitas jurnalis anggota kelompok kerja di beberapa instansi strategis di Medan memperoleh honorarium bulanan. Publik Medan menyebutnya sebagai gaji pejabat. Anggaran gaji yang disediakan oleh masing-masing instansi berbeda-beda secara nominal.

Pemerintah provinsi Sumatera Utara sendiri misalnya menganggarkan “uang pembinaan” jurnalis  sampai angka Rp 140 juta. Ini menciptakan relasi ketergantungan antara jurnalis dengan narasumber eksekutif. Kehadiran kelompok kerja (pokja) juga telah menciptakan suatu bentuk kolaborasi kepentingan antara pihak jurnalis dengan pejabat/instansi publik. Pada Agustus 2001 misalnya mencuat kasus penggelontoran dana sejumlah Rp 28 Juta dari kas Pemko Medan kepada para jurnalis yang ngepos di DPRD Medan.

Uang sebanyak puluhan juta rupiah tersebut dikenal sebagai uang tinggal atau uang “tutup mulut” agar para jurnalis yang menjadi anggota pokja tidak membesar-besarkan kegiatan studi banding anggota dewan keluar negeri.[11] Di negeri tetangga, Philipina, konsekwensi jauh dari relasi ini adalah ketika jurnalis dibeli dengan uang segar oleh para politisi dan pebisnis. Pasca tumbangnya Marcos, korupsi di tubuh pers justru makin kental dan lebih sistemik.[12]

Hubungan khusus antara pers dengan pemerintah mau tidak mau  memunculkan semangat partisan dalam sikap politik media. Partisan dalam arti media tidak hanya sekedar menghadirkan realitas berita ke hadapan publik pembacanya, melainkan juga menyertakan sejumlah penilaian atau evaluasi atas fakta berita yang dikonsruksikan dalam suatu kemasan sikap politik tertentu (ada Judgemental element dalam kontruksi berita). Perilaku pemberitaan seperti ini menghasilkan apa yang dalam gejala media disebut kecodongan/kecenderungan berita (news slant) atau bias dalam pemberitaan.[13]



[1] Eryanto dkk, Politik Media Mengemas Berita, ISAI, Jakarta, 1999, hal 11.

[2] Lihat Jurnal PANTAU, Edisi 05 Agustus 1999, hal 15.

[3] Retorika politik adalah suatu proses yang memungkinkan terbentuknya masyarakat melalui negosiasi. Retorika menggunakan bahasa untuk mengidentifikasi pembicara dan pendengar melalui pidato. Pidato adalah suatu konsep yang sama pentingnya dalam menganalisis retorika sebagai identifikasi atau sebagai simbolisme. Lihat: Dan Nimmo, Komunikasi Politik, Komunikator, Pesan dan Media, Remadja Karya CV Bandung, 1989, hal 156.

[4] Ibid. Hal, hal 157-159

[5] Bagian ini dikutip dari Jurnal SENDI, No 4-5 Tahun 2001 hal 91-92

[6] Ibid, hal 15-16

[7] Op.cit, hal 21

[8] Op.cit hal 94

[9] Bagian ini dikutip dari Jurnal SENDI, No 4-5 Tahun 2001 hal 91-92

 

[10] Pelanggaran Etika Pers, Dewan Pers, Jakarta, Nopember 2007 hal.107.

[11] Tim Peneliti LP3Y, Jurnalis Indonesia di Lima Kota: Memahami preferensi jurnalis dalam meliput AIDS, Gender dan Kesehatan Reproduksi, LP3Y 2006, hal 195

[12] Op.cit  hal.107.

[13] Eryanto dkk, Politik Media Mengemas Berita, ISAI, Jakarta, 1999, hal 3

One thought on “RETORIKA MEDIA UNTUK LEGITIMASI AMRI TAMBUNAN

  1. INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan demi hukum atas Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung
    di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Maka benarlah statemen KAI : “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap”. Bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah sangat jauh sesat terpuruk dalam kebejatan.
    Permasalahan sekarang, kondisi bejat seperti ini akan dibiarkan sampai kapan??
    Sistem pemerintahan jelas-jelas tidak berdaya mengatasi sistem peradilan seperti ini. UUD 1945 mungkin penyebab utamanya.
    Ataukah hanya revolusi solusinya??

    David
    HP. (0274)9345675

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s