Home

Analisis Isi:

Kecenderungan Pemberitaan Pilkada Deli Serdang

Pada Surat Kbar Waspada, Sinar Indonesia Baru, Analisa,

Sumut Pos dan Sindo:

 

 

 

Latar Belakang

Pilkada langsung diyakini banyak pihak akan membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat. Di tangan rakyatlah nasib seorang pemimpin akan ditentukan: apakah akan diberi mandat atau tidak. Mandat akan diberikan oleh rakyat jika calon pemimpin mampu menawarkan program yang “nyambung” dengan kebutuhan rakyat.

Dengan demikian, terbangunlah transaksi politik yang sehat antara rakyat dengan calon pemimpin mereka. Persoalannya, untuk mewujudkan pilkada yang mampu membangun transaksi politik yang sehat, sangat bergantung kepada kesadaran dan informasi yang dimiliki rakyat atau pemilih tentang program atau track record calon pemimpin.

Di sinilah pentingnya peran khalayak yang well informed—mengetahui semua proses tahapan Pilkada agar mendapatkan informasi yang benar dan utuh—mulai dari persiapan pilkada, pencalonan para kandidat, partai pendukung para calon kandidat hingga kampanye. Dengan memperoleh informasi yang utuh dan akurat, pemilih dapat memutuskan siapa kandidat kepala daerah yang paling cocok untuk memimpin daerahnya.

Untuk mencapai itu, ada satu pihak yang diyakini paling berperan yaitu media pers, baik cetak maupun elektronik. Pers memainkan peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan  pilkada. Kandidat membutuhkan pers agar visi-misi, dan program mereka sampai kepada pemilih, sementara khalayak membutuhkan media untuk mendapatkan informasi yang utuh dan mendalam tentang semua aspek yang berhubungan dengan pilkada.

Agar bisa memainkan peranan itu, media harus patuh dan bekerja pada standar-standar jurnalistik. Dengan standar itu media bisa memperlakukan peserta Pilkada secara berimbang dan adil. Media bisa menjadi sumber informasi yang akurat dan tidak bias ketika sampai ke tangan pemilih.[1]

Sebuah lembaga pemantauan media Internasional bernama Article XIX yang berpusat di London (Inggris) menetapkan sebuah standar yang harus dipenuhi oleh media ketika meliput pemilu. Standar ini dibuat mengacu kepada pengalaman negara-negara yang sedang mengalami transisi demokrasi. Standar yang dibuat Article XIX ini telah diterima secara international dan bahkan menjadi acuan dibanyak negara.[2] Salah satu standar tersebut adalah kewajiban bersikap seimbang dan tidak memihak. Sikap tidak memihak ini meliputi berita, informasi dan program wawancara yang dilakukan media.

Everette E. Dennis mengatakan, jurnalisme objektif bukanlah sesuatu yang mustahil karena semua proses kerja jurnalistik dapat diukur dengan nilai-nilai objektif dimana salah satunya memberikan prinsip keseimbangan dan keadilan kepada pihak-pihak yang diberitakan. Menurut James Boylan, Redaktur dan pendiri Columbia Journalism Review, objektivitas bukan hanya sebagai penulisan berita impersonal yang berimbang, tetapi juga mewakili tuntutan jurnalisme lebih luas bagi posisinya di dalam masyarakat, yakni sebagai pihak ketiga yang tak memihak tapi berbicara demi kepentingan umum.

Metode yang dipakai untuk menghadirkan suatu gambaran dunia yang sedapat mungkin jujur dan cermat dalam batas-batas praktik jurnalistik.[3] Pendapat ini diperkuat dengan munculnya asumsi J. Westerstahl dalam mengembangkan kerangka konseptual dasar untuk meneliti dan mengukur objektivitas pemberitaan media. Salah satu yang diukur adalah sub-dimensi balance yang mensyaratkan perlunya media melakukan proses seleksi yang memberikan egual or proportional acces/attention—pemberian akses, kesempatan dan perhatian yang sama dan proporsional terhadap para pelaku penting dalam berita (to cover both sides); dan even-handed evaluation (nilai imbang)—yaitu penilaian negatif dan positif disajikan berimbang untuk setiap pihak yang diberitakan.[4]

Lantas bagaimana surat kabar yang ada di Sumatera Utara, khususnya yang terbit di Medan, ketika memberitakan Pilkada di Deli Serdang. Apakah media sudah patuh terhadap standar jurnalistik yang ada, atau justru sebaliknya? Bagaimana juga penggambaran media terhadap pasangan calon kandidat?

Untuk mengetahui kecenderungan media dalam meliput Pilkada Deli Serdang, dilakukan riset pemberitaan terhadap 5 surat kabar yang terbit di Medan yaitu: Waspada, Analisa, Sumut Pos, Sinar Indonesia Baru dan Sindo. Pemilihan 5 surat kabar dilakukan karena dianggap representatif mewakili media cetak yang terbit di Medan.

Tujuan penelitian adalah untuk melihat bagaimana objektivitas pemberitaan media dalam meliput Pilkada Deli Serdang. Unit sampel (sampling units) adalah semua pemberitaan tentang Pilkada Deli Serdang yang dimuat kelima surat kabar selama periode 4 September—25 Oktober 2008. Pemilihan unit sampling dilakukan berdasarkan periode gencarnya pemberitaan media tentang Pilkada Deli Serdang mulai dari tahapan penetapan pasangan calon peserta Pilkada sampai masa kampanye berakhir sebelum pencoblosan pada tanggal 27 Oktober 2008.

 

Analisis Isi Kuantitatif

Analisis isi (content analysis) adalah salah satu studi yang banyak dilakukan untuk mempersoalkan seberapa besar atau seberapa sering media massa memberikan poin pemberitaan terhadap sebuah kekuatan politik atau seorang aktor politik.

Analisis ini juga dapat digunakan untuk melakukan perbandingan dengan media lain (yang sejenis), untuk mengidentifikasi apa dan siapa yang tidak dimuat dalam pemberitaan, adanya Favoritisme atau bias berita[5]. Walau terkesan tradisional dan kurang mendalam dibandingkan studi komunikasi lainnya, analisis ini sangat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana sikap media massa ketika memberitakan peristiwa-peristiwa politik yang tentu sangat berguna untuk menambah informasi dan pengetahuan  masyarakat dalam berpolitik demi terbangunnya demokrasi yang sehat.

Kecenderungan keberpihakan 5 surat kabar dalam pemberitaan Pilkada Deli Serdang dianalisis dengan metode analisis isi kuantitatif. Lewat metode ini tergambarkan secara akurat berapa banyak, atau seberapa besar kandidat kepala daerah diberitakan oleh kelima surat kabar. Apakah pasangan calon tertentu diberitakan terus-menerus, sementara yang lain tidak pernah diliput. Metode kuantitatif dalam monitoring ini dilakukan terutama untuk menjawab beberapa variabel seperti frekuensi berita, penempatan berita, dan orientasi pemberitaan.  

Riset pemberitaan Pilkada Deli Serdang ini dilakukan dalam dua periode yaitu pra kampanye dan masa kampanye. Selama periode pra kampanye, kelima surat kabar itu  memproduksi 155 item berita. Harian Sumut Pos menyumbang 63 item berita, disusul Sindo sebanyak 38 item berita, Analisa 22 item berita, Waspada 15 item berita, dan Sinar Indonesia Baru (SIB) 7 item berita.

 

Tabel 1: Tabel Frekuensi Pemberitan Kandidat

Periode Pra Kampanye (N=155)

Nama Kandidat Kepala daerah

Waspada

Analisa

Sumut Pos

Sinar Indonesia Baru

Sindo

Total

1.       Wagirin Arman—Khairia Sujonogiatmo

0

3

4

1

6

14

2.       Akhmad Thala’aj –Satrya Yudha Wibowo

2

3

17

0

5

27

3.       Hasaidin Daulay—Putrama Alkhairi

0

2

3

0

4

9

4.       Ruben Tarigan—Dedy Irwansyah

0

2

6

0

3

11

5.       Amri Tambunan –Zainuddin Mars

10

4

23

5

7

49

6.       Saiful Anwar—Sugito

0

3

2

0

3

8

7.       Sihabudin—Surya Dharma Ginting

1

2

3

0

3

9

8.       M. Supriyanto—Dicky Zulkarnain Barus

1

2

2

0

4

9

9.       Rabualam Syahputra—Rahmad Setia Budi

1

1

3

1

3

9

Jumlah

15

22

63

7

38

155

 

 Pada periode masa kampanye, ke lima surat kabar memproduksi 187 item berita tentang kandidat dengan perincian, SIB menyumbang 58 Item berita, Sumut Pos 48 item berita, Sindo 40 item berita, Waspada dan Analisa masing-masing menyumbang 29 dan 11 item berita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2: Tabel Frekuensi Pemberitan Kandidat 

Periode Masa Kampanye (N=187)

Nama Kandidat

Kepala Daerah

Waspada

Analisa

Sumut Pos

Sinar Indonesia Baru

Sindo

Total

1.       Wagirin Arman—Khairia Sujonogiatmo

2

1

4

4

4

15

2.       Akhmad Thala’aj –Satrya Yudha Wibowo

5

1

12

6

6

30

3.       Hasaidin Daulay—Putrama Alkhairi

1

0

2

5

6

14

4.       Ruben Tarigan—Dedy Irwansyah

2

1

2

6

4

15

5.       Amri Tambunan –Zainuddin Mars

13

8

12

18

6

57

6.       Saiful Anwar—Sugito

1

0

2

5

3

11

7.       Sihabudin—Surya Dharma Ginting

1

0

2

5

3

11

8.       M. Supriyanto—Dicky Zulkarnain Barus

1

0

4

5

4

14

9.       Rabualam Syahputra—Rahmad Setia Budi

1

0

8

4

4

17

Jumlah

29

11

48

58

40

187

 

Hasil-Hasil Penelitian

Hasil riset menunjukkan bahwa lima surat kabar yang diteliti pada umumnya memberikan perhatian dan porsi berita yang lebih besar pada pasangan incumbent (Amri Tambunan) dibandingkan dengan 8 pasangan lainnya. Berikut adalah hasil temuan dari masing-masing media.

 

Waspada: Separoh Suara Untuk AZAN

Dari dua periode peliputan, Waspada memproduksi sebanyak 42 item berita. Lebih dari separohnya (55%), diberikan untuk pasangan AZAN, sedangkan sisa berita yang ada dibagi-bagi untuk delapan pasangan calon lainnya. Pasangan Akhmad Thala’aj –Satrya Yudha Wibowo (PANTAS) memperoleh jatah lebih banyak (17%) dibandingkan 7 pasangan lainnya yang hanya  mendapat  bagian tidak lebih dari 5%. Bahkan pasangan Hasaidin Daulay-Putrama Alkhairi (HADIPURA) yang dicalonkan PPP dan PAN hanya mendapat porsi 2%.

Ada hal menarik dari pemberitaan surat kabar ini, dimana pada periode pra kampanye, tiga pasangan calon yang diusung parpol-parpol besar seperti Golkar, PDI-P, PPP dan PAN  sama sekali tidak mendapat liputan surat kabar ini. Padahal pada periode inilah tahapan Pilkada dimulai, yaitu saat dimana parpol-parpol besar mulai mengumumkan nama-nama calonnya ke masyarakat.

Sebaliknya pada periode pra kampanye ini Waspada justru memberikan porsi liputan kepada 3 (tiga) pasangan calon independen walaupun dalam porsi kecil. Minimnya pemberitaan dari pasangan yang di usung Parpol ini membuat Waspada sepertinya memberikan perlakuan setara antara pasangan calon dari Parpol dengan pasangan calon Independen dengan memberikan porsi yang sama besar buat mereka (lihat tabel 3)

 

 

 

 

 

Tabel 3: Tabel Frekuensi Pemberitan Kandidat  Kepala Daerah

di Harian Waspada (N=42)

Nama kandidat Kepala Daerah

 

Pra Kampanye

Masa Kampanye

Total

Waspada

Waspada

F

%

F

%

F

%

1.       Wagirin Arman—Khairia Sujonogiatmo (Amanah)

0

0%

2

7%

2

5%

2.       Akhmad Thala’aj –Satrya Yudha Wibowo (Pantas)

2

13%

5

19%

7

17%

3.       Hasaidin Daulay—Putrama Alkhairi (Hadipura)

0

0%

1

4%

1

2%

4.       Ruben Tarigan—Dedy Irwansyah (Rupawan)

0

0%

2

7%

2

5%

5.       Amri Tambunan –Zainuddin Mars (Azan)

10

67%

13

48%

23

55%

6.       Saiful Anwar—Sugito (Surgo)

0

0%

1

4%

1

2%

7.       Sihabudin—Surya Dharma Ginting (Khass)

1

7%

1

4%

2

5%

8.       M. Supriyanto—Dicky Zulkarnain Barus  (Andick)

1

7%

1

4%

2

5%

9.       Rabualam Syahputra—Rahmad Setia Budi (Prabu)

1

7%

1

4%

2

5%

Jumlah

15

100%

27

100%

42

100%

 

 

Analisa: Sepertiga Suara Untuk AZAN

Dari dua kali periode peliputan, Analisa memproduksi 33 item berita. Lebih dari sepertiga (36%) diberikan untuk AZAN. Pada saat pra kampanye, terlihat surat kabar ini mencoba bersikap adil kepada semua pasangan calon dengan memberikan porsi pemberitaan yang tidak terlalu timpang. Pada periode ini pasangan AZAN hanya mendapat jatah sebesar 18%. Pasangan AMANH, PANTAS, dan SURGO yang maju dari independen mendapat porsi sedikit lebih rendah yaitu masing-masing sebesar 14%.

Sedangkan pasangan calon HADIPURA, pasangan RUPAWAN (PDI-P) dan dua pasangan calon independen yaitu KHASS dan ANDICK mendapat porsi masing-masing 9%. Sisanya (5%) diberikan untuk Pasangan PRABU yang juga maju dari jalur independen.

Tetapi pada masa kampanye terlihat media ini tidak dapat mempertahankan posisinya seperti semula. Pada saat kampanye, hampir seluruh berita Analisa (73%) diberikan untuk pasangan AZAN, yang membuat 4 (empat) pasangan dari jalur independen tidak medapat jatah sama sekali (0%). Pasangan lain yang tidak dapat bagian adalah HADIPURA. Sedangkan 3 pasangan calon lain yaitu PANTAS, AMANAH dan RUPAWAN, masing-masnign mendapat jatah 9% (lihat tabel 4).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4: Tabel Frekuensi Pemberitan Kandidat  Kepala Daerah

di Harian Analisa  (N=33)

Nama Kandidat Kepala Daerah

Pra Kampanye

Masa Kampanye

Total

Analisa

Analisa

F

%

F

%

F

%

1.      Wagirin Arman—Khairia Sujonogiatmo

3

14%

1

9%

4

12%

2.      Akhmad Thala’aj –Satrya Yudha Wibowo

3

14%

1

9%

4

12%

3.      Hasaidin Daulay—Putrama Alkhairi

2

9%

0

0%

2

6%

4.      Ruben Tarigan—Dedy Irwansyah

2

9%

1

9%

3

9%

5.      Amri Tambunan –Zainuddin Mars

4

18%

8

73%

12

36%

6.      Saiful Anwar—Sugito

3

14%

0

0%

3

9%

7.      Sihabudin—Surya Dharma Ginting

2

9%

0

0%

2

6%

8.      M. Supriyanto—Dicky Zulkarnain Barus

2

9%

0

0%

2

6%

9.      Rabualam Syahputra—Rahmad Setia Budi

1

5%

0

0%

1

3%

Jumlah

22

100%

11

100%

33

100%

 

Sumut Pos: Suara untuk AZAN dan PANTAS

            Dari lima surat kabar yang diriset, Sumut Pos adalah surat kabar yang paling banyak memproduksi berita pasangan calon. Dari dua periode itu, Sumut Pos memproduksi 111 item berita. Hampir 60% pemberitaan surat kabar ini diberikan untuk pasangan AZAN, dan pasangan PANTAS.

            Pasangan AZAN mendapat porsi sebesar 32%, sedangkan PANTAS sedikit dibawahnya yaitu (6%.  Sedangkan 6 pasangan lainnya, dua pasangan dari parpol dan 4 (empat) pasangan calon  independen mendapat porsi masing-masing kurang dari (8%). Pada  periode pra kampanye,  Sumut Pos terlihat memberikan porsi yang lebih besar untuk AZAN, tetapi dimasa kampanye, kecenderungan pemberitaan sedikit berubah dengan memberikan porsi yang sama besar kepada  pasangan AZAN dan PANTAS. Masing-masing pasangan itu mendapat jatah (25%).

            Yang menarik juga, pada periode kampanye, satu pasangan calon independen yaitu PRABU mendapat porsi pemberitaan yang lumayan besar yaitu 17%. Presentasi ini naik lebih tiga kali lipat dari porsi pra kampanye yang hanya diberitakan sebesar (5%). Menariknya, liputan PRABU ini meningkat setelah pasangan tersebut melakukan kunjungan ke redaksi surat kabar bersangkutan. Tidak diketahui pasti apakah kunjungan pasangan ini yang mendongkrak pemberitaan mereka, tapi yang jelas setelah kunjungan itu, media memberikan porsi pemberitaan yang lebih besar untuk mereka (lihat tabel 5). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 5: Tabel Frekuensi Pemberitan Kandidat  Kepala Daerah

di Harian Sumut Pos  (N=111)

 

Nama Kandidat

Pra kampanye

Masa kampanye

Total

Sumut Pos

Sumut Pos

 Kepala Daerah

F

%

F

%

F

%

1.      Wagirin Arman—Khairia Sujonogiatmo

4

6%

4

8%

8

7%

2.      Akhmad Thala’aj –Satrya Yudha Wibowo

17

27%

12

25%

29

26%

3.      Hasaidin Daulay—Putrama Alkhairi

3

5%

2

4%

5

5%

4.      Ruben Tarigan—Dedy Irwansyah

6

10%

2

4%

8

7%

5.      Amri Tambunan –Zainuddin Mars

23

37%

12

25%

35

32%

6.      Saiful Anwar—Sugito

2

3%

2

4%

4

4%

7.      Sihabudin—Surya Dharma Ginting

3

5%

2

4%

5

5%

8.      M. Supriyanto—Dicky Zulkarnain Barus

2

3%

4

8%

6

5%

9.      Rabualam Syahputra—Rahmad Setia Budi

3

5%

8

17%

11

10%

Jumlah

63

100%

48

100%

111

100%

 

Sinar Indonesia Baru: Sepertiga Suara untuk AZAN

Harian Sinar Indonesia Baru  terlihat lebih konsisten dalam memperitaannya. Dari dua periode liputan, SIB memproduksi 65 item berita. Sama seperti Analisa, surat kabar ini  memberikan lebih dari sepertiga (35%) total beritanya untuk pasangan AZAN. Sedangkan 8 pasangan lainnya, mendapatkan porsi yang hampir sama sebesar, yakni 8%. Sama juga seperti Waspada, pada masa pra kampanye, SIB sama sekali tidak memuat pemberitaan tiga pasangan kandidat yang dicalonkan parpol besar yaitu pasangan PANTAS, HADIPURA dan RUPAWAN.

Hal yang sama juga, dilakukan surat kabar ini untuk tiga pasangan dari jalur independen. Dari 7 item berita pra kampanye, 5 item berita (72%) diberikan untuk AZAN. Sisanya sebanyak 2 berita (28%) dibagi adil untuk pasangan AMANAH sebagai perwakilan pasangan dari jalur parpol, dan pasangan PRABU dari jalur independen. Kedua pasangan ini masing-masing mendapat jatah 14%. Namun pada masa kampanye, media ini terlihat adil dengan memberikan porsi untuk semua kandidat. (lihat tabel 6)

 

Tabel 6: Tabel Frekwensi Pemberitan Kandidat  Kepala Daerah

di Harian SIB (N=65)

 Nama Kandidat Kepala Daerah

Pra kampanye

Masa kampanye

Total

SIB

SIB

F

%

F

%

F

%

1.      Wagirin Arman—Khairia Sujonogiatmo

1

14%

4

7%

5

8%

2.      Akhmad Thala’aj –Satrya Yudha Wibowo

0

0%

6

10%

6

9%

3.      Hasaidin Daulay—Putrama Alkhairi

0

0%

5

9%

5

8%

4.      Ruben Tarigan—Dedy Irwansyah

0

0%

6

10%

6

9%

5.      Amri Tambunan –Zainuddin Mars

5

72%

18

31%

23

35%

6.      Saiful Anwar—Sugito

0

0%

5

9%

5

8%

7.      Sihabudin—Surya Dharma Ginting

0

0%

5

9%

5

8%

8.      R. M. Supriyanto—Dicky Zulkarnain Barus

0

0%

5

9%

5

8%

9.      Rabualam Syahputra—Rahmad Setia Budi

1

14%

4

7%

5

8%

Jumlah

7

100%

58

100%

65

100%

 

 

 

Koran Sindo: Suara untuk Semua  

Pada dua periode penelitian, koran Sindo menyumbang 78 pokok pemberitaan kandidat.Koran ini merupakan penyumbang pokok pemberitaan kedua paling banyak setelah Sumut Pos. Kalau dilihat dari dua periode itu, Sindo  terlihat agak berimbang dalam memberikan porsi pemberitaan pada 9 pasangan kandidat. Namun kalau dilihat  dari jumlah presentasi total  pemberitaan  pasangan Azan masih lebih unggul sedikit dari pasangan calon lainnya  yang rata-rata hanya mendapat porsi sekitar 12% untuk pasangan calon yang diusung Parpol besar, dan kira-kira (9%) untuk calon independen. (Lihat tabel 5)

 

Tabel 5: Tabel Frekwensi Pemberitan Kandidat Kepala Daerah

di Koran Sindo (N=78)

Nama Kandidat Kepala Daerah

Pra kampanye

Masa kampanye

Total

Sindo

Sindo

 

F

%

F

%

F

%

1.     Wagirin Arman—Khairia Sujonogiatmo

6

16%

4

10%

10

13%

2.     Akhmad Thala’aj –Satrya Yudha Wibowo

5

13%

6

15%

11

14%

3.     Hasaidin Daulay—Putrama Alkhairi

4

11%

6

15%

10

13%

4.     Ruben Tarigan—Dedy Irwansyah

3

8%

4

10%

7

9%

5.     Amri Tambunan –Zainuddin Mars

7

18%

6

15%

13

17%

6.     Saiful Anwar—Sugito

3

8%

3

8%

6

8%

7.     Sihabudin—Surya Dharma Ginting

3

8%

3

8%

6

8%

8.     M. Supriyanto—Dicky Zulkarnain Barus

4

11%

4

10%

8

10%

9.     Rabualam Syahputra—Rahmad Setia Budi

3

8%

4

10%

7

9%

Jumlah

38

100%

40

100%

78

100%

 

Kandidat Sekilas Info

Berita politik yang ada disebuah media pastilah merupakan hasil konstruksi atas peristiwa dan atau aktor politik yang ingin dipublikasikan media tersebut. Pers ideal harus memberikan penilaian seimbang dan adil bagi semua peserta Pilkada supaya masyarakat dapat mengenal dengan baik siapa calon-calon pemimpin yang akan paling pantas untuk di pilih. Karena itu media harus teliti dan seksama ketika memenuhi kewajiban mereka sebagai  penyedia informasi bagi masyarakat.[6]

Keberpihakan media terhadap satu calon kandidat tidak hanya dilihat dari frekwensi pemunculan pasangan calon tersebut dalam angka-angka,  tetapi juga dilihat  dari panjang dan bentuk liputan berita. Bagaimana kandidat tersebut ditempatkan dalam berita. Apakah ditempatkan di seluruh isi berita atau hanya dalam beberapa alinea saja. Apakah ditempatkan dibagian penting atau tidak. Kandidat kepala daerah bisa saja diberitakan dengan frekwensi kecil, akan tetapi ditempatkan pada bagian penting dalam berita—misalnya headline yang secara teoritis lebih banyak dibaca oleh khalayak. Atau sebaliknya berita tentang kandidat dibuat lumayan besar tapi ditempatkan dihalaman dalam yang secara teoritis lebih jarang dibaca orang.

Hasil penelitian tentang penempatan dan bentuk liputan media bagi para calon kandidat dalam keseluruhan berita Pilkada Deli Serdang menunjukkan bahwa pada umumnya media yang diteliti belum memberikan porsi liputan dan penempatan berita yang sama kepada semua calon kandidat. Calon yang yang didukung parpol besar umumnya mendapat porsi liputan yang lebih banyak dibandingkan calon dari jalur independen. Calon-calon yang maju secara perseorangan ini terkadang hanya muncul sekilas info alias numpang lewat saja dalam alinea-alinea pemberitaan media. Hasil penelitian menunjukkan, porsi yang diberikan untuk para kandidat ini  hanya satu alinea saja, bahkan ada  kandidat hanya diberi porsi setengah alinea saja.

 Jika dilihat dari frekwensi pemberitaan, sekilas terlihat ke lima media memang meliput para pasangan calon independent tapi  porsinya tidak sebanding dengan para kandidat lain. Nama-nama kandidat dari jalur independen biasanya hanya muncul pada momen-momen tertentu saja, atau sekedar numpang lewat (nyempil) diakhir pemberitaan kampanye satu calon. Nama mereka biasanya akan muncul  dalam berita pengumuman pasangan calon dan pencabutan nomor urut, penyampaian visi-misi para calon, pengumuman harta kekayaan para kandidat, sumbangan dana kampanye, pembagian zona kampanye, pelanggaran kampanye, serta berita-berita pengumuman dari lembaga-lembaga Survei yang mau tidak mau harus menyebutkan nama pasangan calon ini. Sedangkan liputan yang utuh tentang profil kandidat tersebut sangat minim sekali.

Pemberitaan seperti ini paling banyak ditemukan di Harian Waspada, Analisa, Sumut Pos dan Sinar Indonesia Baru. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi minimnya pemberitaan media tentang para calon perseorangan ini. Pertama, para calon ini tidak memiliki akses yang baik terhadap media. Karena sebelumnya mereka tidak memiliki jabatan strategis yang memang paling sering menjadi sorotan media. Menyadari keterbatasan ini, salah satu calon independen yaitu pasangan  Rabualam Syahputra-Rahmad Setia Budi melakukan pendekatan jemput bola  dengan cara bertandang kekantor redaksi media. Strategi ini cukup efektif, karena sehari setelah kunjungan, iklan dan profil pasangan ini langsung muncul di Media tersebut. Terlihat ada perbedaan frekwensi pemberitaan sebelum dan setelah kunjungan pasangan calon tersebut.  

Minimnya liputan para calon independen kemungkinan terjadi karena masih ada kecenderungan umum media cetak lokal biasanya memberi porsi yang lumayan besar pada kepentingan pemilik dan pemodal sambil ”melupakan” pemberdayaan publik. Ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan lembaga pemantau internasional, dan pengalaman di beberapa  negara-negara yang baru memulai demokrasi langsung.

Disebutkan, standar bersikap seimbang dan tidak memihak paling sulit dilakukan.Media pada umumnya lebih memberikan perhatian dan alokasi waktu yang lebih besar kepada partai berkuasa atau calon pemimpin yang tengah menjabat atau (incumbent) daripada tokoh oposisi.[7] Kemudian kedekatan relasi media dengan pejabat lokal sejak lama dinilai telah mencederai komitmen dan independensi media untuk bersikap kritis dan menyalurkan informasi yang benar.[8] Sebagai agen moral, idealnya media bertugas memberdayakan publik melalui beragam informasi sehingga khalayak pemilih dapat menjatuhkan pilihannya pada kandidat  yang sesuai dengan hati nuraninya. Tapi semuanya memang tergantung kepada kesungguhan media, apakah sekedar berbisnis atau menyelenggarakan media secara profesional.   



[1] Lihat Eriyanto: Panduan Pemantauan Berita Pilkada Di Surat Kabar Dan Radio: Standar Liputan Media Selama Pemilu, ISAI Jakarta, 2005, hal 1

[2] Standar ini dibuat oleh article XIX mengacu kepada pengalaman Negara-negara yang sedang mengalami transisi demokrasi. Standar ini telah diterima secara internasional dan menjadi acuan banyak negara. Ibid. Hal 2

[3] Rivers dan Clev Natheus, Etika Media Massa dan Kecenderunga Untuk Melanggarnya,.1998, Jakarta, Penerbit Gramedia. hal 60

[4] Ibid, hal 59-60 

[5] Lukas Luwarso dan N. Sanani, Agar Pemilu Jujur dan Adil, Panduan Meliput Pemilu, Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil, Jakarta, November 2003, hal 94

[6] Pemberitaan yang seimbang adalah memberi kesempatan yang sama kepada partai atau kandidat yang bersaing dalam pilkada.Media bisa menerapkan aturan yang fair dan adil agar partai atau kandidat bersaing dalam pemilu mendapat kesempatan yang seimbang. Hal ini banyak diterapkan di Negara-negara lain. Di Rumania televisi  juga memuat mekanisme presentase jumlah waktu berita per partai sehingga setiap partai yang ikut berkompetisi dalam pemilu mendapat kesempatan yang adil. Liputan yang sebanding ini meliputi panjang dan bentuk liputan berita. 

[7] Ibid hal 2

[8] Dewan Pers:Pelanggara Etika Pers, Dewan Pers dan FES, Jakarta, November 2007, hal 108

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s