Home

Beberapa Kasus Kekerasan di Aceh

            Menurut SEAPA mengumumkan di masa darurat militer, paling kurang 23 kasus kekerasan menimpa para wartawan yang meliput konflik Aceh. Sangat mungkin data yang sebenarnya jauh lebih besar dari data ini—karena alasan sengaja disembunyikan atau tidak terpantau SEAPA. Para pelakunya, terbanyak adalah TNI dengan 7 kasus. Ini sama dengan yang dilakukan orang tak dikenal orang/institusi tak dikenal. Sementara GAM terindikasi melakukan lima kasus kekerasan terhadap pers. Polisi (3 kasus), dan aparat peemrintah (1 kasus).

 

Tabel 7. Pelaku Kekerasan dan Bentuk Tekanan Terhadap Pers

Selama Delapan Bulan Darurat Militer di Aceh

No

Pelaku

Bentuk Tekanan

Jumlah

Fisik

Non Fisik

1

TNI

2

5

7

2

Polisi

1

2

3

3

GAM

2

3

5

4

Tak Dikenal

7

7

5

Aparat Pemerintah

1

1

 

Total

13

10

23

Sumber: SEAPA (2004)

 

Contohnya, kasus penembakan terhadap wartawan Waspada, Idrus Jeumpa. Motif penembakan adalah karena pelaku gagal menemukan anak laki-laki Idrus, yang berprofesi sebagai kontraktor, yang sedang mereka cari. Menurut Idrus, pelaku penembakan adalah orang-orang yang tidak dia kenal. Peristiwa ini menewaskan istri Idrus, Saudah, sementara anaknya mengalami luka tembak.

Selama delapan bulan darurat militer, motif kekerasan terbanyak adalah berupa serangan fisik (10 kasus). Kemudian berbentuk ancaman (4 kasus), pengusiran/ penghalangan (4 kasus), sensor (2 kasus) dan pembunuhan, pemenjaraan, penculikan—masing-masing satu kasus. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 8.

 

 

Tabel 8. Kategori Kekerasan Terhadap Pers

Selama Delapan Bulan Darurat Militer di Aceh

 No

Kategori

Jumlah

1

Pembunuhan

1

2

Penjara

1

3

Serangan

10

4

Penculikan

1

5

Sensor

2

6

Pengusiran/Penghalangan

4

7

Pelecehan

8

Ancaman

4

9

Tuntutan Hukum

 

Total

23

Sumber: SEAPA (2004)

 

Pelarangan Lagu-lagu Aceh

Namun di Aceh tak hanya kebebasan pers yang hilang. Para seniman di sana sejak diberlakukan DOM sampai paska pencabutan juga telah kehilangan hak berekspresi mereka. Pada tahun 2001 misalnya, produk kaset Nyawoung yang saat itu laris di Aceh, diberangus. Beberapa toko kaset di wilayah pedalaman AcehTengah, Pidie dan Aceh Utara diobrak-abrik dan kaset-kaset yang dijual, diambil lalu dibakar. Pengakuan dari beberapa saksi mata saat itu menyebutkan, toko kaset itu dihampiri oleh beberapa truk tronton dan langsung menyita kaset-kaset Aceh yang ada di dalamnya. Dan bukan cuma disita tetapi juga dibakar. Menurut beberapa sumber waktu itu, tujuan utamanya adalah kaset Nyawoung, karena dianggap lagu-lagunya terlalu Aceh.[i]

            Pada tahun 2003, Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) getol kembali meneliti terhadap sejumlah lagu Aceh yang dinilai berbau provokasi dan terkesan mendukung masyarakat terlibat dalam kegiatan separatisme.

Untuk itu PDMD telah membentuk tim khusus untuk meneliti sejumlah lagu-lagu Aceh yang dinilai mendukung kegiatan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Alasan keterlibatan PDMD untuk meneliti lagu-lagu Aceh didasarkan penulaian bahwa masyarakat Aceh memiliki karakteristik untuk mau berperang karena salah satunya dimotivasi dengan syair-syair lagu yang sifatnya heroik. Kebijakan PDMD itu sendiri telah mengambil korban., musisi dan pencipta lagu Aceh, Yusbi Yusuf mengatakan, selama adanya tim PDMD untuk meneliti lagu-lagu Aceh, sebanyak enam album miliknya yang berjumlah 10 ribu kaset tersebut akan ditarik dari pasaran. Salah satu album Yusbi Yusuf yang diteliti PDMD berjudul Nanggroe Merdeka (negeri merdeka).

Penarikan tersebut diakui Yusbi Yusuf telah membuat perusahaan rekaman miliknya menderita kerugian sekitar Rp100 juta. Yusbi Yusuf mengatakan, bahwa album ciptaanya Nanggroe Merdeka tidak mempunyai motif politik. Isi lirik lagu-lagu dalam album tersebut merupakan pesan moral dan sesuai kejadian sebenarnya.

Menanggapi pelarangan peredaran lagu-lagu Aceh yang dinilai memperovokasi rakyatuntuk melawan TNI, Jauhari Samalanga, seniman asal Aceh yang memproduseri album Nyawoung, mengatakan lagu-lagu di Aceh dari dulu hingga kini akan selalu sama karena kondisi di Aceh tidak pernah berbeda. Penderitaan, air mata, dan mayat merupakan pemandangan yang kerap terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Jauhari kesenian Aceh sejak lama sudah menjadi kesenian yang membela hak-hak kaum tertindas, dimana kekuatan syair dan lirik menjadi cerminan bahwa Aceh masih melekat dengan berbagai persoalan kemanusian. Persis seperti Hikayat Perang Sabee Cik Pante Kulu yang pada zamannya dulu juga sedang berlangsung kekerasan. Sehingga rakyat perlu bersatu dalam menyikapi persoalan yang banyak merengut nyawa manusia. Menurut Jauhari Samalanga, ada dua karya yang muncul di Aceh, yakni senjata dan bunga. Hal tersebut tidak pernah bergeser sejak Belanda mendarat di Aceh. Bunga menggambarkan sopan santun masyakarat Aceh dalam menerima semua pihak. Mengenai bunga itu digambarkan dalam beberapa lagu di antaranya Bungong Jeumpa dan Bungong Kenanga. Sedangkan senjata, diambil dari hikayat perang sabil. Perang untuk melawan kezaliman dan kolonial Belanda. ”Lagu-lagunya akan selalu seperti itu sejak zaman Belanda, DI/TII, DOM. Jadi itu tergantung apresiasi yang menanggapinya,” ujarnya.

Menurut Jauhari Samalanga, kebijakan PDMD untuk melakukan penarikan kaset dan VCD itu, merupakan ketakutan yang berlebihan. Lagu seharusnya dihargai sebagai hasil karya intelektual di bidang seni dan tidak dapat dilarang. Kesaksian mengenai persoalan-persoalan di Tanah Rencong hanya dapat diwujudkan melalui alunan lagu Aceh. Bagi seorang seniman Aceh, membuat karya seni mengenai keindahan dan romantisme malam minggu sangatlah tidak mungkin. Pasalnya, romantisme malam minggu itu memang tidak pernah ada. ”Bagaimana kami menulis tentang romantisme malam minggu, sedangkan yang ada adalah gejolak,” paparnya. Seorang seniman hanya akan menulis apa yang dilihatnya.[ii]  

Dalam jangka pendek, larangan terhadap peredaran lagu-lagu Aceh yang liriknya mencerminkan realitas penderitaan masyarakat akibat konflik di Aceh, ternyata cukup manjur. Menurut Jauhari Samalanga, para produser reakaman kini cenderung menjauhi syair-syair lagu yang kritis. Tidak heran jika banyak seniman Aceh yang kini berkarya di luar wilayah Aceh.

Penyanyi dan pencipta lagu memang bisa dipenjara, tapi tidak untuk lagu-lagu yang mereka tulis dan nyanyikan!



[i] Jauhari Samalanga, “Pelarangan Seni Aceh dari Masa ke Masa”, sumber: http://www.acehkita. com

[ii] Sinar Harapan, 23 November 2003, “Kidung Perlawanan Kaum Teraniaya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s