Home

Kasus-kasus Kekerasan Yang Menonjol

Pada tahun 2001, ada tiga kasus kekerasan terhadap wartawan yang cukup mengundang perhatian publik di Sumatera dan Aceh. Pertama, kasus kekerasan yang dilakukan anggota Satgas PDI-P Medan terhadap Indralis, Fotografer harian Sinar Medan. Kedua, kasus ancaman para preman ke harian Siwijaya Post Palembang, dan ketiga, kasus dibredelnya harian Serambi Indonesia oleh GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

 

Penganiayaan Indralis, Fotografer Sinar Medan

            Lain padang lain belalang, lain orang lain belangnya, peribahasa seperti demikian tampaknya tepat digunakan untuk menggambarkan bagaimana sikap anggota Satgas PDI Perjuangan Medan pada awal tanggal 2 Mei 2001 lalu. Jika sebagian besar pelaku kekerasan terhadap wartawan memilih untuk bersikap tertutup, memilih tempat tersembunyi dan memilih situasi yang tidak ramai, maka anggota Satgas PDI Perjuangan Medan justru melakukannya secara terang-terangan di tempat umum. Bahkan ironisnya lagi berada di lokasi yang semestinya steril dari tindak kekerasan sekaligus tempat untuk mencari keadilan, yaitu Pengadilan Negeri Medan.

            Peristiwa kekerasan tersebut bermula ketika Pengadilan Negeri Medan menggelar sidang lanjutan kasus pembunuhan Masdaniah (22), mahasiswi Akademi Maritim Indonesia (AMI) yang juga anggota satgas PDI Perjuangan dan Pemuda Pancasila, pada 23 September 2003 di Wisma Merpati Jalan Djamin Ginting Medan, dengan terdakwa Edward Horas Harahap (23). Sidang yang beragendakan mendengar duplik dari kuasa hukum terdakwa tersebut akhirnya diundurkan satu minggu oleh Majelis Hakim setelah sebelumnya Ketua Majelis Hakim K. Sianturi SH mengabulkan permintaan terdakwa yang meminta agar persidangan ditunda karena kuasa hukumnya tidak hadir.

            Namun keputusan tersebut tidak diterima peserta sidang yang sebagian diantaranya adalah Mahasiswa AMI, anggota Satgas PDI Perjuangan dan Pemuda Pancasila. Mereka langsung mengamuk sambil mengeluarkan caci maki kepada hakim, melakukan pengrusakan kursi, meja dan sound system yang ada di ruangan tersebut. Menurut pengakuan Indralis Sinaga, fotografer Harian Sinar Medan, yang merupakan salah satu korban kekerasan dalam peristiwa tersebut, dirinya melihat pada saat keributan terjadi salah seorang anggota satgas PDI Perjuangan berusaha merampas berkas persidangan di tangan Jaksa Penuntut Umum, Mardiono SH. Sementara ada oknum Satgas lain menancapkan belatinya di meja hakim. Indralis menilai situasi tersebut merupakan momen yang menarik untuk direkam melalui lensa fotonya, sehingga ia kemudian mengabadikan peristiwa tersebut dengan kameranya.

Namun tiba-tiba beberapa anggota Satgas PDI Perjuangan yang lain mengerumuni dirinya. Mereka mengancam dan merampas kamera Indralis. Kendati sempat terjadi dialog antara Indralis dengan salah seorang pelaku ketika berlangsung peristiwa tarik-menarik kamera, akhirnya tali kamera bermerek Yasica tersebut terlepas dan jatuh di lantai, lantas diinjak-injak oleh pelaku kekerasan hingga mengakibatkan lensa 28-70 mm dan lampu blitz kamera tersebut rusak.

            Tidak hanya sampai di situ beberapa pelaku kemudian membawa Indralis secara paksa dengan mengendarai sepeda motor menuju kantor DPC PDI Perjuangan di Jalan Sekip Baru, Medan Petisah. Puluhan Satgas PDI Perjuangan selanjutnya menginterogasi dan mengancam Indralis di lantai I gedung tersebut. Ancaman yang disampaikan diantaranya, “Apabila kau muat masalah ini di koranmu, kau kami ambil”. Setelah puas mengintimidasi Indralis para pelaku kemudian mengantarkan korban kembali ke Pengadilan Negeri Medan dengan mengendarai sepeda motor. Sementara kameranya dipaksa untuk ditinggalkan di kantor DPC PDI Perjuangan.

            Sedangkan dua reporter radio naas yang juga sedang meliput persidangan tersebut yaitu Reporter Radio Prapanca, M. Hidayat dan Reporter Radio KISS FM, Rika, mengalami kerusakan alat kerja berupa tape recorder karena dibanting seorang anggota satgas PDI-P setelah sebelumnya dirampas oleh pelaku kekerasan tersebut.

            Ketua DPC PDI Perjuangan Medan yang juga Ketua DPRD Medan, H. Tom Adlin Hajar seperti yang dikutip surat kabar terbitan Medan, Radar Medan (kini berganti nama Sumut Pos) mengatakan tindakan anarkis tersebut sudah tidak dapat dibenarkan lagi. “Itu sudah tidak pada tempatnya dan ini harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.”

            Kasus kekerasan tersebut akhirnya diajukan oleh ketiga korban ke Kepolisian dan selanjutnya disidangkan. Ketika proses persidangan berlangsung Indralis kembali mengalami tindak kekerasan berupa pemukulan yang menyebabkan dirinya masuk ke Rumah Sakit. Belakangan Indralis menempuh jalan damai dan memilih tidak mengajukan tuntutan melalui pengadilan. Sedangkan Hidayat dan Rika meneruskan gugatan mereka.

Namun keputusan Majelis Hakim PN Medan tidak berpihak kepada Mereka. Majelis Hakim memutuskan pelaku kekerasan harus dimasukkan ke RS Jiwa dan dibebaskan dari tuntutan, karena menurut pengacaranya berdasarkan pemeriksaan medis terdakwa terbukti memiliki kelainan jiwa.

                       

Serambi Indonesia Dibredel GAM

Di Aceh, nyawa pers memang terjepit antara dua kekuatan bersenjata: TNI/Polri dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). GAM merupakan kekuasaan di luar negara yang dikenal kerap melakukan kekerasan terhadap pers. Ada dua peristiwa kekerasan yang dilakukan GAM Sepanjang tahun 2001. Pada tanggal 20 Juni 2001, Serambi Indonesia, memutuskan tidak terbit karena mendapat ancaman dari GAM. Ancaman tersebut berkaitan dengan berita Serambi Indonesia edisi Selasa (19/6) yang berjudul: “Mayat Bergelimpangan di Aceh Besar, Sekeluarga Ditemukan Tewas di lampuk”. Dalam berita tersebut, Serambi Indonesia menulis bahwa pelaku pembunuhan adalah kelompok bersenjata. GAM tidak dapat menerima pemberitaan Serambi Indonesia karena hanya menyebut kelompok bersenjata, bukan Brimob. Juru bicara GAM Rayeuk Ayah Sofyan mengancam akan menculik dan membunuh jajaran Redaksi Serambi Indonesia.

Tindakan bredel sepihak kembali dilakukan GAM terhadap koran yang tergabung dalam Gramedia Group tersebut. Ancaman diterima baik melalui telpon, surat maupun kurir khusus. Akibatnya Serambi tidak terbit selama 13 hari (11-23 Agustus 2001). Negosisasi dilakukan Serambi dengan pihak GAM dengan cara menelpon ke Markas GAM di Kuala Tripa. Namun jawaban Sofyan Ibrahim dari GAM menyatakan bahwa itu sudah perintah resmi.[i]

Pihak Serambi Indonesia tidak mau mengambil resiko atas kegagalan negosiasi tersebut. Apalagi pihak GAM juga mengeluarkan ancaman tidak menjamin keselamatan wartawan dan karyawan jika Serambi Indonesia tetap nekad terbit. Yang jelas, tanggal 17 Agustus tengah malam, sebuah bom rakitan meledak di tempat tong sampah yang berada di komplek kantor harian tersebut (KCM, 17 Agustus 2001).

 

Sriwijaya Post Digrebeg Preman

Di Palembang para preman yang menjadi body guard di tempat-tempat usaha perjudian, menjadi musuh utama kebebasan pers. Kasus yang cukup menonjol adalah intimidasi/teror terhadap Sriwijaya Post.

Teror terjadi pada 18 April 2001, ketika 15 orang preman yang dipimpin Sukma, Ibrahim ”Balak 12”, Atai dengan mengendarai dua buah mobil, menerobos masuk ke kantor Sriwijaya Post  malam hari. Mereka langsung menanyakan Pimpinan Sripo dan mengancam akan mengerahkan massa untuk melakukan kekerasan. Aksi para preman tersebut dipicu pemberitaan Sripo tentang perjudian yang berlangsung di Km 12 Palembang. Atai salah satu dari preman itu kemudian diterima oleh Wakil Pemimpin Redaksi I dan II, Hadi Prayogo dan Hamzah Ruslin. Dalam pertemuan itu, Atai mengatakan silakan Sripo memberitakan usaha judi di Palembang asal sanggup memberi mereka gaji para preman Rp 50. 000 per malam. Jika Sripo tidak sanggup dan tetap memberitakan judi, Atai mengancam akan mengerahkan 500 orang anggotanya untuk menghancurkan Sripo. Perundingan berjalan singkat, pukul 23.10 para preman meninggalkan kantor Sripo.

“Kamu kan bukan malaikat. Untuk apa mengganggu ‘periuk nasi’ orang lain dan mengurusi perjudian. Saya tahu borok Sripo, makanya tidak usah macam-macam. Saya bisa kerahkan massa ke sini dan menghancurkan Sripo”, kata Sukma, sebagaimana dituturkan Hadi Prayogo, seorang redaktur Sriwijaya Post.

Teror yang dilakukan para preman, sebenarnya bukan sekali dua kali dilakukan. Sebelum para preman tersebut ke ngelurug ke kantor Sriwijaya Post, mereka sudah beberapa kali menawarkan sejumlah uang tutup berita kepada jajaran redaksi, namun ditolak. Mereka juga pernah mengusulkan untuk memasang iklan di harian tersebut. Semua tawaran damai itu ditolak pihak Sriwijaya Post.[ii]

 

Penganiayaan Edy Iriawan, Reporter Indosiar

Pada tahun 2003, ada tiga kasus kekerasan terhadap wartawan yang cukup mengundang perhatian publik di Sumatera dan Aceh. Pertama, kasus kekerasan yang Edy Iriawan, Reporter Indosiar. Kedua, penikaman terhadap Abdul Khalik, wartawan Waspada yang dilakukan oknum PP, dan ketiga, kasus penyanderaan Ersa Siregar dan Fery Santoro dari RCTI.

Kasus yang menimpa Edy Iriawan, reporter Indosiar, terjadi pada Kamis (9/10/2003) malam, sekitar pukul 23.00 WIB, beserta kameramennya, Ashar Pungkashadi alias Pupung, melakukan liputan tentang penangkapan tersangka pengedar dan peracik narkoba di Hotel Milala Inn, Medan. Penangkapan dilakukan oleh Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan. Tiga orang tersangka yang tertangkap kemudian dibawa ke kediamannya di komplek Abdul Hamid Nasution (Asrama Kodam I/BB) Kampung Lalang Medan, untuk pengembangan kasus.

Namun, setelah tiba di asrama puluhan warga telah berkumpul untuk menggagalkan aksi penggerebekan dan penangkapan pelaku lainnya. Warga menghalang-halangi lima petugas dari Poltabes Medan yang membawa tersangka.

Edy Iriawan beserta kameramennya turun dari mobil dan mengambil gambar penangkapan tersebut. Ketika Pupung mengarahkan kameranya, warga melarang. Melihat situasi yang tidak baik Edy menyuruh Pupung masuk ke dalam mobil. Kendati sempat terjadi keributan Edy berhasil menenangkan warga untuk tidak berlaku anarkis.

Situasi pun sempat terkendali. Pupung kembali ke dalam mobil sementara Edy duduk di kursi belakang. Tapi, sesaat kemudian tiba-tiba seorang pria yang diduga kuat seorang anggota TNI berteriak-teriak kearah Edy dan Pupung, “Kejar-kejar itu! Tangkap! Habisi! Bunuh saja sekalian!!”

Teriakan tersebut membakar emosi warga yang memang sudah tidak terkendali lagi. Massa mengejar dan mengepung mobil yang dikendarai Edy dan Pupung. Mereka memaksa pintu mobil segera dibuka. Edy dan Pupung tetap berusaha bertahan di dalam. Karena melihat situasi yang tidak menguntungkan Edy membuka sedikit kaca jendela mobil untuk memberi penjelasan. Namun, tidak disangka wajah dan rambut Pupung malah menjadi bulan-bulanan massa. Petugas kepolisian Poltabes Medan yang berada di lokasi tidak kuasa membendung emosi warga bahkan juga menjadi sasaran.

Nasib serupa dialami Edy. Sebongkah batu yang dipegang seorang warga menghantam hidung dan tubuhnya. Edy dan Pupung akhirnya lolos setelah mobil mereka berhasil berjalan. Kedua korban sempat dirawat di Rumah Sakit Hisarma, Medan. Mobil yang mereka kendarai mengalami kerusakan. Kasus ini telah dilaporkan ke polisi

 

Oknum PP Tusuk Wartawan “Waspada”

Kamis, (5/6/2003), sekitar pukul 10.30 wib menjadi hari yang naas bagi Abdul Chalik. Dua orang berpakaian seragam Pemuda Pancasila (PP) mengeroyok dan menusuk betisnya. Akibatnya, wartawan harian Waspada ini harus rela menerima 20 jahitan di betis dan tujuh jahitan untuk mukanya.

Pagi itu Chalik sedang mampir di sebuah kantin di komplek pemerintahan walikota Tebing Tinggi, Medan, Sumatera Utara. Datang dua orang pria berbadan tegap dan berseragam PP dengan baret merah. Dua orang itu memesan teh manis sambil mengawasi Chalik. Tiba-tiba salah seorang dari mereka, yang diketahui bernama Dadek, mendekati Chalik dari arah belakang dan menutup matanya. Sementara yang seorang lagi mencabut pisau belati dan mengarahkan tusukan ke mata Chalik. Serangan berhasil dielakkan. Tak berhenti disitu, Dadek mengeluarkan pisau lipat dan berusaha menusuk mata korban. Tapi lagi-lagi berhasil dihalau. Chalik lalu dikeroyokan sehingga menyebabkan luka tusuk di betis dan mukanya. Usai mengeroyok kedua pelaku lari sambil berteriak, “Kami tak senang ketua kami diberitakan!”.

Menurut pengakuan Chalik, peristiwa ini memang ada kaitannya dengan beritanya di Waspada sekitar satu minggu sebelumnya. Ia menulis tentang tim dari Komisi Pemilihan Umum provinsi yang dimaki-maki oleh Ketua DPRD Tebing Tinggi yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Tebing Tinggi, Syafril Chap, saat mereka datang untuk melakukan seleksi calon KPU wilayah Tebing Tingi. Kasus pengaiayaan ini langsung dilaporkan ke Polres Tebing Tinggi dan kedua pelakunya sudah ditahan.[iii]


[i] Wawancara dengan Sjamsul Kahar tanggal 28 April 2005.

[ii] Hadi Prayogo, “Ancaman Kekerasan Terhadap Pers, Studi kasus di Harian Sriwijaya Post”, makalah pada Seminar KIPPAS – AJI Biro Palembang, “Menimbang Ancaman Komunalisme, Kasus Ancaman Premanisme Terhadap Pers”, Palembang 15-16 November 2001.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s