Home

PENGANTAR: Naskah berikut dicuplik dari buku ‘PERS BEBAS TAPI DILIBAS” yang diterbitkan KIPPAS pada 2004. Naskah ini akan dimuat secara berseri.

Studi Kasus Kekerasan Tahun 2000, 2001 dan 2003

Berikut adalah gambaran kekerasan yang dialami wartawan di Sumatera dan Aceh yang berhasil didokumentasi KIPPAS sepanjang tahun 2000, 2001 dan 2003. Kegiatan dokumentasi dilakukan dengan melakukan monitoring terhadap sejumlah surat kabar yang memuat kasus-kasus kekerasan yang dialami wartawan. Dengan demikian sangat mungkin jumlah yang diperoleh berbeda dengan realitas yang dilaporkan pers, mengingat tidak sedikit kasus kekerasan yang tidak dilaporkan oleh wartawan atau redaktur karena alasan tertentu. Misalnya kasus pemanggilan wartawan Waspada oleh pihak Kodim 0102 Medan gara-gara pemuatan berita tentang keterlibatan anggota Kodam I/BB sebagai pelaku pemboman di Medan. Setelah pemanggilan tersebut, pemberitaan Waspada tentang kasus bom di Medan memang tidak lagi menyebut-nyebut tentang kemungkinan keterlibatan oknum militer terhadap sejumlah kasus pemboman yang marak pada tahun 2000 di Medan.[i]

Sepanjang periode 1 Januari – November 2000, ada 36 kasus kekerasan yang menimpa wartawan di Sumatera dan Aceh. Jika dibuat perhitungan kasar, maka rata-rata setiap minggu terjadi lebih 1 (satu) kali kasus kekerasan terhadap wartawan. Adapun jenis kekerasan yang kerap diterima wartawan adalah berupa: (i) pembunuhan, (ii) penganiayaan, (iii) teror dan (iv) bredel. Gambaran selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:

 

Tabel 1. Kategori Kekerasan Wartawan Sumatera dan Aceh

Periode Januari – Nopember 2000

No

Kategori Kekerasan

Jumlah

%

1.    

Pembunuhan

1

2,77

2.    

Teror/Intimidasi

23

63,88

3.    

Penganiayaan

10

27,77

4.    

Bredel

2

5,55

Jumlah

36

100,00

 

Kasus pembunuhan misalnya dialami Rudi Kurniawan, wartawan Tabloid Handal Bandar Lampung. Ada dugaan bahwa  pembunuhan terhadap Rudi berhubungan dengan pemberitaan yang ditulis almarhum di Tabloid Handal edisi 8 Juni yang berjudul: “Gubernur Lampung Goblok”. Sebelumnya setelah pemuatan berita itu, Rudi pernah diancam melalui telpon oleh orang tak dikenal agar tidak melanjutkan pemuatan berita-berita yang memojokkan gubernur Lampung tersebut.

Sedangkan kasus teror atau intimidasi dialami oleh harian Medan Pos. Massa Garda Banper PDI-P yang berjumlah sekitar 50 orang,  dengan mengenakan pakaian hitam-hitam, pada tanggal 22 Mei 2000, ramai-ramai mendatangi kantor harian tersebut di Jl. Sutoyo. Dengan beringas mereka berteriak: “Mana Pemred kalian, kami mau minta pertanggungjawaban berita yang kalian buat,”teriak seorang anggota  Garda Banper PDI-P. Teror terhadap Medan Pos terkait pemberitaan  koran itu tertanggal 1 Mei yang berjudul: “Garda Banper Tak Ada Hubungan PDI-P, Garda Banper dan SPSI Perang Klewang”. Dalam berita itu ditulis Garda Banper terlibat bentrok dengan SPSI soal perebutan lahan parkir di kawasan pusat pasar Medan.

Menurut massa Garda Banper, yang terlibat dalam perkelahian bukanlah anggota Garda Banper PDI-P, tapi anggota Pemuda Demokrat PDI-P. “Berita itu bohong karena kami memang tak pernah ada perang. Kenapa mereka tak pernah konfirmsi kepada kami, itu kan sembarangan saja memuatnya. Kami hanya datang minta penjelasan langsung,”kata Taufan Agung Ginting, Sekretaris DPD PDI-P Medan. 

Kasus intimidasi juga dialami Salamuddin, wartawan Radar Medan pada 3 Maret 2000. Pelakunya Kadispen Polda Sumatera Utara, Letkol Amrin Karim. Insiden berawal ketika para wartawan sedang berkumpul di Bandar Polonia Medan menunggu kedatangan Kapolri Letjen Roesdihardjo. Sembari menunggu kedatangan Kapolri, para wartawan mewawancarai Amrin Karim ihwal tertangkapnya orang-orang Aceh yang diduga sebagai anggota GAM. “Granat anggota GAM itu sudah kita masak menjadi sop,”ujar Kadispen menjawab pertanyaan wartawan. Jawaban Amrin Karim yang asal-asalan itulah yang membuat para wartawan kesal dan akhirnya memutuskan meninggalkan Amrin Karim. Aksi para wartawan tampaknya membuat Kadispen tersinggung dan mencaci para wartawan: “Kalian emang wartawan anjing”. Selain itu, Kadispen juga mengancam akan menampar wartawan Radar Medan, Salamuddin.

Sedangkan di Aceh, kasus penganiayaan dialami Umar HN, reporter RCTI dan M. Khaled kameraman Associated Press dan M. Jafar, Kameramen Reuters. Mereka bertiga berangkat dari Lhokseuma­ ke Lhoksukon untuk meliput kebakaran. Menjelang memasuki kota Lhok­sukon, mobil yang ditumpangi ketiganya dihentikan aparat polisi. Para polisi lantas memeriksa identitas ketiganya. Setelah mengetahui ketiganya wartawan, para polisi itu melarang untuk meliput peristiwa kebakaran. Dengan kasar apa­rat keamanan dari Polres Aceh Utara ini menyuruh ketiganya balik ke Lhokseumawe. Namun pada saat mobil yang ditumpangi ketiganya balik haluan, beberapa polisi lainnya berteriak-teriak mencaci-maki ketiganya. Tak hanya itu mobil mereka juga dihancurkan kacanya. Sementara ketiga wartawan itu disuruh keluar dan dipukuli. Puas memukuli para wartawan ini, para polisi itu juga meneyita peralatan dan identitas ketiga korban antara lain: kamera handycam, tiga lembar KTP, kaset serta kartu pers. Akibat penganiayaan ini ketiganya mengalami luka-luka di bagian wajah. Setelah itu mereka diusir pergi.

Pada periode Januari – Nopember 2001, tercatat ada sebanyak 47 kasus kekerasan yang dialami wartawan. Dengan kata lain terjadi peningkatan kasus-kasus kekerasan terhadap wartawan. Kasus-kasus kekerasan tersebut umumnya dilakukan langsung oleh orang atau lembaga yang menjadi subyek pemberitaan wartawan. Adapun 3 (tiga) jenis kekerasan yang paling sering dialami wartawan adalah berupa: pertama, intimidasi (31,91 persen), kedua, penganiayaan (27, 66 persen) dan ketiga, pelecehan (12,77 persen).

Rincian selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.

 

 

Tabel 2. Kekerasan Terhadap Wartawan Sumatera dan Aceh

Periode Januari – Nopember 2001

No

Jenis Kekerasan

Jumlah

%

1.          

Intimidasi/teror

15

31,90

2.          

Penganiayaan

13

27,66

3.          

Pelecehan

6

12,77

4.          

Tuntutan Hukum

4

8,51

5.          

Penculikan

3

6,38

6.          

Sensor

3

4,26

7.          

Breidel

2

4,26

8.          

Pengusiran

1

2,13

Jumlah

47

100,00

Sumber: Riset Dokumentasi KIPPAS 2001

 

Di Medan, kasus intimidasi terjadi ketika sekitar seratus orang anggota GM (Generasi Muda) FKPPI (Forum Komunikasi Putra-Putri ABRI) Medan secara beramai-ramai mendatangi kantor redaksi Waspada, Sabtu (13/1/2001). Aksi GM FKKPI Medan dipicu oleh pemberitaan Waspada yang berjudul “Ketua FKPPI Medan Dikeroyok Massa“ edisi Jumat (12/1). Berita itu menceritakan tentang Ketua FKPPI Medan Nasarrudin Sihombing dikeroyok massa ketika mobil sedang yang dikendarainya menabrak Suzuki Carry di kawasan Kompleks Abdul Hamid Jl. Binjai. Pemuatan berita tersebut dinilai telah mendeskreditkan nama Ketua FKPPI Medan. Selain meminta redaksi Waspada membuat iklan permohonan maaf, massa GM FKPPI Medan juga memukul salah seorang wartawan senior Waspada, M. Yunus Nasution.

Kasus intimidasi dengan modus menteror awak redaksi di kantor surat kabar, juga dialami harian Medan Riau dan Riau Mandiri ketika 40 warga dan petinggi PW NU Riau mendatangi kedua kantor surat kabar tersebut (18/1/2001). Wakil Ketua PW NU Riau, A. Munir, mengatakan bahwa gambar  yang dimuat kedua koran yang berjudul “Gus Dur No Problem” dianggap telah melecehkan warga NU. Kedua harian itu dituntut membuat pernyataan maaf selama tiga hari berturut-turut di halaman pertama. Baik Medan Riau maupun Riau Mandiri, memenuhi permintaan PW NU Riau tersebut.

Sementara di Palembang, sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), Selasa (19/6/2001) siang, mendatangi kantor redaksi koran Transparan Palembang. Mereka mempertanyakan berita “Oknum Mahasiswa FKIP UMP Ngutil di Ramayana” yang dimuat Transparan 19 Juni 2001. Kepada Ismail, Koordinator Liputan Transparan, para mahasiswa meminta agar redaksi meminta maaf secara terbuka di media massa selama tiga hari berturut-turut. Mereka juga minta agar Pemimpin Redaksi Transparan, Afdhal Azmi Jambak, datang ke Kampus UMP untuk meminta maaf kepada mahasiswa, Dekan dan Rektor UMP. Para mahasiswa mengancam akan menurunkan 12 ribu mahasiswa UMP bila Transparan menolak memenuhi permintaan mereka. Pihak Transparan menolak memenuhi tuntutan mahasiswa. Menurut mereka, berita yang disajikan  berdasarkan fakta, data dan sumber yang jelas.

Sedangkan kasus penganiayaan dialami Murizal Hamzah, pemimpin redaksi tabloid Media Kutaraja, Banda aceh, yang juga koresponden majalah Forum Keadilan. Murizal hamzah dianiaya oleh aparat TNI ketika tengah melakukan perjalanan jurnalistik ke Lhokseumawe (12/5/2001). Di Simpang Corona Lhok Nibong, Aceh Timur, mobil yang ditumpanginya distop aparat TNI. Setelah diperiksa dan diketahui identitasnya bahwa dirinya wartawan, seorang aparat kemudian berteriak, “Ini wartawan GAM yang nulis jelek-jelek tentang TNI”. Setelah itu, tinju, tendangan sepatu lars mendarat di perut, lengan dan dagu kanan Murizal. Film dalam kamera Murizal juga diperintahkan untuk dikeluarkan. Setelah itu seorang perwira meminta maaf dan menganggap masalah diantara mereka selesai.

Kekerasan demi kekerasan terus bergulir. Pada tahun 2003, jumlah kasus kekerasan yang dialami wartawan meningkat cukup tajam, yaitu menjadi 109 kasus atau meningkat dua kali lipat lebih. Adapun jenis kekerasan masih didominasi oleh kasus penganiayaan (34 kasus atau 31 persen), intimidasi/teror (29 kasus atau 27 persen) dan pengusiran (21 kasus atau 19%). Pada tahun 2003, jumlah subyek pemberitaan yang melakukan gugatan hukum juga mengalami pertambahan. Kalau pada tahun 2001 jumlah hanya 4 kasus, namun tahun 2003 naik menjadi 13 kasus. Rincian selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.

 

Tabel 3. Kekerasan Terhadap Wartawan Sumatera dan Aceh

Periode Januari – November 2003

               Sumber: Riset Dokumentasi KIPPAS 2003

 

Kasus intimidasi dialami oleh harian Mandiri, yang didemo masyarakat Batubara (9/1). Mereka memprotes agar pihak redaksi memecat 3 wartawan; Arsyad, Jasnis Sulung dan Sihombing karena dianggap telah menyudutkan masyarakat Batubara dalam pemberitaan. Ketiganya dianggap dekat dengan pimpinan legislatif dan eksekutif Asahan yang keberatan terhadap perjuangan masyarakat Batubara untuk menjadikan sebagai kabupaten sendiri. Mereka juga menuntut klarifikasi berita yang dianggap tidak aspiratif dan terkesan mengada-ada. 

 

Aktor Kekerasan: Militer/Polri dan Paramiliter Mendominasi

Dari 36 kasus kekerasan yang dialami wartawan pada tahun 2000, ternyata pelaku kekerasan kebanyakan berasal dari aparat keamanan (9 kali atau 25 persen), mahasiswa (7 kali atau 19,44 persen) dan disusul oleh pengusaha/karyawan perusahaan (6 kali atau 16,66 persen). Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.

 

Tabel 4. Pelaku Kekerasan Terhadap Wartawan Sumatera dan Aceh

Periode Januari – November 2000

No

Pelaku Kekerasan

Jumlah

%

1

Aparat Keamanan (polisi dan militer)

9

25,00

2

Aparat Birokrasi Daerah

4

11,11

3

Anggota DPRD

2

5,55

4

Pengusaha/karvawan

6

16,66

5

Kelompok Mahasiswa

7

19,44

6

Satgas PDI-P

2

5,55

7

Dosen

1

2,77

8

Tidak jelas

5

13,88

 

Jumlah

36

100,00

Sumber: Riset dokumentasi KIPPAS, 2000

 

Pada tahun 2001, aktor yang melakukan penganiayaan terhadap wartawan lebih banyak dilakukan oleh aparat Polri dan TNI (41,67 persen), kemudian disusul oleh Satgas PDI-P, Warga Sipil dan tidak dikenal identitasnya (16,67 persen  atau 50 persen) dan preman (8,33 persen). Adapun pelaku pelecehan terhadap wartawan sebagian besar dilakukan oleh pejabat legislatif (50 persen), Warga Sipil (33,33 persen) dan eksekutif (16,67 persen). Sedangkan secara umum, ada enam pelaku yang paling sering melakukan kekerasan terhadap wartawan. Mereka adalah: (i) Polisi/Militer (19,15 persen), (ii) Tidak dikenal (17,02 persen), (iii) Sipil (14,89 persen), (iv) eksekutif (12,77), (v) Satgas PDI-P (10,64 persen), (vi) Legislatif (8,51 persen).

Munculnya aparat keamanan TNI/Polri sebagai aktor yang kerap melakukan kekerasan terhadap wartawan khususnya banyak terjadi di wilayah konflik Aceh.

 

Tabel 5. Pelaku Kekerasan Terhadap Wartawan

di Sumatera dan Aceh Tahun 2001

No

Pelaku Kekerasan

Frekuensi

%

1.       

Polisi/TNI

9

19,15

2.       

Pemerintah/Eksekutif

6

12,77

3.       

Legislatif

4

8,51

4.       

Masyarat

7

14,89

5.       

Satgas PDI-P

5

10,64

6.       

Tidak diketahui

8

17,02

Jumlah

109

100

          Sumber: Riset dokumentasi KIPPAS, 2001

 

Sedangkan pada tahun 2003, aktor yang kerap melakukan intimidasi/teror adalah Satgas Parpol (PDI-P) dan Warga Sipil, yaitu sebesar 40 persen, disusul preman (13,33 persen), eksekutif, OKP, ormas agama, masing-masing 6,67 persen dan sisanya tidak dikenali[ii]  (26,67 persen).

 

Tabel 6. Pelaku Kekerasan Terhadap Wartawan

di Sumatera dan Aceh Tahun 2003

          Sumber: Riset dokumentasi KIPPAS, 2003



[i] Wawancara dengan Maskur Abdullah, yang telah bertugas lebih dari 10 tahun di Waspada, dan kini menjadi pembantu Radio BBC Siaran Indonesia untuk wilayah Sumatera Utara dan Aceh.

[ii] Penyebutan pelaku kekerasan yang tidak dikenali sebenarnya menimbulkan persoalan tersendiri. Dari berbagai pemberitaan yang memuat kasus tersebut, media memang kesulitan untuk menyebut identitas pelaku intimidasi/teror. Namun sebuah analisis bisa diajukan disini. Contoh kasus intimidasi terhadap Oyos Suroso, yang juga Ketua AJI Lampung. Oyos diteror melalui telpon oleh seseorang yang mengaku hendak menghabisi gara-gara tulisan Oyos tentang usaha perjudian di Lampung yang dimuat di Jurnal Independen. Walau identitas pelaku teror tidak jelas, namun secara logika besar kemungkinan pihak yang meneror Oyos adalah pengusaha judi atau preman yang disewa si pengusaha judi. Dengan demikian, kategori identitas pelaku kekerasan yang tidak jelas sebenarnya harus dibaca “jelas”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s