Home

Framing Pemberitaan Media Pers Menjelang Pelantikan Megawati sebagai presiden RI ke-5

Oleh: Diana Irene Nasution, Analis Media KIPPAS

Latar Belakang Masalah

Tak ada lawan abadi dalam dunia politik. Suksesi presiden tahun 2001 lalu merupakan salah satu bukti dari kalimat tersebut. Megawati yang pada Pemilu tahun 1999 sempat menghadapi isu larangan perempuan menjadi pemimpin karena tidak sesuai dengan ajaran Islam, agama yang dianut mayoritas rakyat Indonesia, akhirnya menjadi presiden menggantikan Abdurrahman Wahid yang kerap dipanggil Gus Dur. Seorang lawan bisa berbalik menjadi kawan dan demikian sebaliknya, barangkali itulah hikmah yang bisa dipetik dari proses suksesi kala itu. Mereka yang tergabung dalam poros tengah dan semula mendukung Abdurrahman Wahid menjadi presiden belakangan berbalik mendukung Megawati agar bersedia menjadi presiden melalui mekanisme sidang istimewa meminta pertanggungjawaban presiden berdasarkan keputusan rapat pleno DPR pada 30 Mei 2001.

Secara yudisial pelaksanaan sidang istimewa mungkin ada benarnya, sebab Gus Dur dinilai tidak transparan dan inkonsisten dalam memberikan penjelasan mengenai pencairan dana Yanatera Bulog dan bantuan dari Sultan Brunei. Namun nuansa politik yang kental juga tercermin dalam langkah pengambilan keputusan untuk mengadakan sidang istimewa. Isi memorandum pertama yang menilai Gus Dur tidak mematuhi ketentuan penyelenggaraan negara yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme serta melanggar sumpah jabatan, menjadi jalan masuk yang bebas hambatan bagi DPR untuk mengundang MPR menggelar sidang istimewa.[1]

            Sebagian pihak memandang pemberhentian Gus Dur dari kursi kepresidenan hanyalah merupakan akumulasi dari kekecewaan beberapa partai politik karena tidak memiliki wakil dalam kabinet pemerintahan Gus Dur. Namun ada juga yang menilai munculnya tuntutan bagi diadakannya sidang istimewa lebih dikarenakan keengganan Gus Dur melakukan negosiasi dengan partai politik yang nota bene anggotanya adalah anggota DPR sekaligus MPR. Padahal mereka telah memberikan suara dukungan bagi Gus Dur sehingga beliau dengan mulus dapat menjadi presiden, mengalahkan Megawati. Suara 678 orang anggota MPR tertumpah pada Megawati.

Keanggotaan rangkap yang dianut DPR-MPR tampaknya memang merupakan salah satu unsur yang dominan dalam mempengaruhi pengambilan keputusan atas kelangsungan posisi Gus Dur sebagai presiden RI yang untuk pertama kalinya terpilih secara demokratis. Sehingga tidak heran bila menjelang pelaksanaan sidang istimewa pemberitaan media massa didominasi perang pernyataan antara kubu DPR-MPR dan Gus Dur tentang keperluan suksesi. Namun bukan berarti dalam tubuh DPR-MPR sendiri tidak terdapat perbedaan pendapat mengenai rencana sidang istimewa, khususnya dari Fraksi Partai kebangkitan Bangsa yang sedari awal tidak menyetujui rencana ini sebab dipandang sebagai upaya untuk menjatuhkan Gus Dur demi kepentingan politis sementara.

Sebagai realitas politik di tengah masyarakat, situasi dukung-mendukung antar kubu ini tidak lepas dari sorotan media. Apalagi kemudian muncul wacana yang memastikan Megawati pengganti Gus Dur sebab sesuai konstitusi. Suatu wacana yang bertolak belakang dengan wacana pada Pemilu 1999 silam, dimana dalam pemberitaan media massa sempat muncul wacana meragukan kemampuan Megawati menjadi presiden berhubung ia seorang perempuan.[2] Adanya perubahan konteks politik dalam pelantikan Megawati secara signifikan memungkinkan media untuk bersikap partisan, yaitu media tidak sekedar memindahkan suatu realitas namun terlebih dahulu memberikan sejumlah penilaian terhadap realitas yang dipilih, dikemas untuk kemudian disajikan kepada khalayak. Apalagi semenjak orde baru berlalu pers mulai merasakan kebebasan untuk meninggalkan pemberitaan berpola istana sentris, yang ditandai ancaman breidel sewaktu-waktu bila dirasakan bertentangan dengan kepentingan penguasa.

Keberadaan gatekeeper memungkinkan perubahan pola pemberitaan, sebab ada dua faktor yang mempengaruhi pemberitaan media yaitu secara internal dan eksternal. Gatekeeper merupakan faktor internal media yang menentukan apakah suatu berita layak untuk disampaikan kepada khalayak. Proses seleksi fakta berkaitan pula dengan ideologi yang dianut sang gatekeeper dan media tempatnya bekerja. Sehingga dapat dikatakan kecenderungan pemberitaan media secara tidak langsung dapat memberikan gambaran mengenai orientasi media atas suatu permasalahan.

            Proses seleksi juga memungkinkan ada fakta yang sengaja ditenggelamkan untuk menonjolkan fakta yang lain, sehingga ketika suatu informasi sampai kepada khalayak sudah bermuatan kepentingan dan tujuan dari media bersangkutan. Tidak itu saja, proses seleksi media juga cenderung mengarahkan khalayak untuk memahami satu masalah dari satu sisi. Lalu bagaimanakah kemasan pemberitaan media ketika terjadi perubahan politik yang menimbulkan wacana pelantikan perempuan sebagai presiden?

 

Sampel Penelitian

            Penelitian tentang wacana menjelang pelantikan Megawati sebagai presiden RI ke-5 mengambil sampel dari tiga surat kabar terbitan Medan yaitu Sinar Indonesia Baru, Waspada, dan  Analisa. Pengambilan sampel ini didasarkan pada asumsi ketiganya merupakan surat kabar dengan pangsa pasar yang jelas dan telah cukup lama terbit. Adapun Waspada merupakan surat kabar yang didirikan dua diantara tokoh pers Sumatera Utara yaitu Moch. Said dan Ani Idrus pada tahun 1947 dan sering dikatakan sebagai surat kabar nasionalis Islam. Kemudian Sinar Indonesia Baru adalah surat kabar yang kerap diidentikkan dengan kalangan Kristen, diterbitkan pada tahun 1970. Sedangkan Analisa merupakan surat kabar yang diterbitkan pada tahun 1985 dan cenderung dikaitkan dengan etnis Tionghoa.

            Rentang waktu pengambilan sampel ditentukan tiga minggu sebelum Megawati dilantik, dan berita yang dikategorikan sebagai sampel adalah berita yang khusus membahas tentang peluang Megawati sebagai presiden dan perdebatan mengenai calon wakil presiden menjelang sidang istimewa.[3] Dengan teknik pengambilan sampel secara purposive ini maka diperoleh 18 item berita Sinar Indonesia Baru, 3 item berita Waspada, dan  Analisa 5 item berita.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menerapkan teori framing  yang dikembangkan oleh Robert M. Entman. Analisis isi media dengan teori framing relevan digunakan untuk mengetahui proses media ketika melakukan pembingkaian aspek tertentu dari realitas yang diterima dan membuat aspek tersebut lebih menonjol dalam teks komunikasi, yang dapat dilakukan dengan cara menonjolkan bagian dari penilaian terhadap suatu masalah, penyebab masalah, penilaian atas penyebab dan atau rekomendasi penyelesaian untuk aspek yang digambarkan.[4] Penonjolan aspek tertentu yang diinginkan media dapat dideteksi melalui penggunaan kalimat, gambar, narasumber, bahkan tata letak sebagai hasil seleksi sekaligus pendefinisian atas realitas. Analisis framing menurut Deddy Mulyana juga cocok digunakan untuk melihat konteks sosial-budaya suatu wacana, khususnya hubungan antara berita dan ideologi, yakni proses atau mekanisme mengenai bagaimana berita membangun, mempertahankan, mereproduksi, mengubah dan meruntuhkan ideologi.[5]

Proses seleksi dalam rutinitas media sendiri bisa dikatakan merupakan proses alamiah yang sedari awal berkaitan dengan perspektif wartawan dan media yang menaunginya dengan maksud agar suatu berita menarik, mudah dipahami dan diingat pembaca.[6] Dengan adanya perspektif ini maka tak heran bila satu peristiwa bisa dimaknai berbeda oleh media yang berbeda pula. Hal ini terjadi karena konstruksi ideologi[7] sebagai landasan perspektif dalam diri setiap orang terdapat perbedaan seperti pengetahuan, pengalaman hidup, internalisasi nilai-nilai tertentu dan kecenderungan psikologis. Seperti yang dikemukakan Shoemaker dan Reese ideologi bekerja pada semua tahap yang mempengaruhi isi media, mulai dari individu, rutinitas media, pengorganisasian media, hingga faktor-faktor dari luar media.[8]

Secara ringkas Entman mengemukakan 4 elemen pembentuk frame media yaitu Pendefinisian Masalah (Problem Identification), Perkiraan Sumber Masalah (Causal Interpretation), Penilaian terhadap Sumber Masalah (Moral Evaluation) dan Rekomendasi Penyelesaian Masalah (Treatment Recommendation). Entman juga mengatakan salah satu dari unsur tersebut bisa saja tidak ditemukan dalam satu berita.[9] Elemen utama pembentuk frame menurutnya adalah Problem Identification, melalui unsur ini dapat dilihat pemaknaan wartawan terhadap peritiwa yang diliput. Misalnya apakah pelantikan Megawati dipahami sebagai bentuk pengakuan terhadap kredibilitas Megawatai atau hanya nasib mujur Megawati semata.

Kemudian Causal Interpretation merupakan elemen yang memperlihatkan siapa atau apa yang koheren sebagai biang masalah untuk mendukung pendefinisian masalah. Bila Mega dinilai kredibel maka frame media akan menempatkan pihak lain, Gus Dur misalnya, selaku pihak yang tidak kredibel untuk mempertegas klaim legitimasi Megawati. Selanjutnya Moral Evaluation turut memperteguh konstruksi elemen utama melalui serangkaian alasan pembenar yang kuat agar dipercayai khalayak. Misalnya alasan pembenar dari kredibilitas Mega adalah kemampuannya membangun PDI Perjuangan sebagai partai yang mendapat banyak simpati sehingga mampu meraih suara terbanya dalam Pemilu 1999. Sementara Gus Dur dinilai menunjukkan kinerja pemerintahan yang semakin menurun, lebih banyak membuat pernyataan-pernyataan kontroversial. Terakhir, Treatment Recommendation. Dalam elemen ini wartawan menawarkan pilihan solusi yang dinilai dapat menyelesaikan masalah. Untuk mencegah semakin memburuknya kinerja pemerintahan maka jalan keluar terbaik adalah memberhentikan Gus Dur atau membuat kesepaktan politik mengenai pelimpahan seluruh wewenang kepada Megawati.

Sebagai medium pertarungan berbagai wacana di tengah masyarakat maka pembingkaian media terhadap suatu peristiwa mengandung konsekuensi mulai dari penampilan pihak yang berlawanan secara kontras, yang satu lebih dominan sementara pihak lawan ditampilkan ala kadarnya, pengulangan nada pernyataan yang sama, memberikan tempat yang lebih besar bagi pihak yang dianggap memiliki basis penafsiran yang lebih mudah diterima, pilihan kalimat tertentu sesuai dengan maksud yang ingin dicapai. Konstruksi realitas media berdasarkan kerangka tertentu berkaitan dengan kenyataan bahwa kebanyakan khalayak adalah pihak yang aktif dan memiliki pengetahuan untuk melakukan penafsiran atas berbagai informasi yang diterima berdasarkan perspektifnya sendiri, sementara media berkeinginan membatasi pandangan khalayak atas suatu realitas, padahal mungkin ada realitas lain yang lebih menarik untuk diketahui namun tidak ditampilkan media.

 

Hasil Analisis

Penempatan Berita

            Pagina surat kabar khususnya bagian depan dapat dikatakan etalase yang bertujuan menarik perhatian pembaca agar membeli produknya. Sehingga umumnya berita yang ditempatkan di pagina depan adalah berita yang dianggap media memiliki nilai berita yang paling tingggi. Seperti yang dikemukakan William L. Rivers dan Cleve Mathews, sekitar 98% dari semua pembaca membaca berita di halaman muka sementara yang membaca berita di halaman-halaman lain tertentu berkisar antara 58%. Lebih lanjut dikatakan setelah halaman muka, subyek menjadi lebih penting daripada nomor halaman dalam menentukan apa yang ingin dibaca, karena pembaca-pembaca yang berlainan mencari hal-hal yang berlainan.[10]  Dan karena itu pula Headline surat kabar diletakkan pada pagina depan.

Belakangan juga muncul istilah Headline Syndrome yaitu khalayak yang gemar membaca judul berita utama, atau hanya judul-judul berita saja untuk menilai apakah berita yang disajikan surat kabar tersebut menarik atau tidak. Kebiasaan untuk hanya membaca judul ini mungkin dapat dikaitkan dengan teknik menulis berita yang selalu menekankan perlunya menulis judul berita yang provokatif sekaligus mencerminkan isi berita agar khalayak tertarik untuk membaca lead, tubuh, hingga akhir berita.[11]

Berdasarkan pengamatan, sampel penelitian dominan diletakkan pada pagina depan tapi hanya dua item menjadi Headline yaitu masing-masing di Waspada  dan Sinar Indoensia Baru. Sehingga dapat dikatakan wacana mengenai rencana pelantikan Megawati dianggap menarik oleh media disamping rencana pelaksanaan sidang istimewa MPR. Penempatan berita di pagina depan oleh media bisa dimaknai sebagai upaya media menggiring khalayak agar lebih dahulu melihat berita tentang suksesi daripada berita lainnya.

 

Tabel 1

Penempatan Berita

 

Halaman

Sinar Indonesia Baru

Waspada

Analisa

Depan

13

3

5

3

1

0

0

10

2

0

0

11

1

0

0

 

 

Judul berita yang provokatif misalnya dapat dilihat dari judul Waspada, yang menggunakan kalimat ”Gus Dur Tak Rela Mega” untuk Headline. Melalui diksi demikian Waspada sepertinya berusaha menarik perhatian pembaca supaya membaca kelanjutan berita sehingga apa yang dimaksudkan sebagai ketidakrelaan Gus Dur tersebut diketahui. Demikian pula judul Headline Sinar Indonesia Baru yang menggambarkan bahwa Mega tidak bisa mengelak menjadi pengganti Gus Dur dalam kalimat “Akbar: Mega Harus Siap Jadi Presiden”. Selain itu media, khususnya Sinar Indonesia Baru kerap membuat kickers dan kalimat judul berita yang tergolong panjang. Contohnya berita tertanggal 10/7/01, judul utama,” Soetjipto: Kalau Mega jadi Presiden PDI-P Tidak Arogan”, sementara kickers-nya berupa kalimat,” PKB: Ketua Parpol Ingin Rebut Kekuasaan” dan “Ketua FPG DPR setuju Partai Golkar dibubarkan”. Contoh lain adalah terbitan 14/7/01 dengan judul utama “Ketua F-PDIP MPR: Jangan Terlalu Optimis Pada Mega”, sedangkan isi kickers, “Akbar Mega Sudah Bertemu”, Mega Presiden, belum tentu situasi lebih baik”, “Tidak akan dilakukan koalisi permanen”. Selain itu Sinar Indonesia Baru tercatat memiliki dua terbitan yang memuat dua berita tentang wacana suksesi yaitu tanggal 20/7/2001 dan 21/7/01 dengan bingkai yang berbeda



[1] Mohammad Fajrul Falaakh,Memo DPR-SI MPR, Politis, dan Yudisial,dalam Bahaya Tirani DPR Konflik DPR vs Presiden, Hal.15, Lembaga Studi Politik “Merdeka”, Jakarta, 2001. Berdasarkan TAP MPR No.II/MPR, lembaga Yudikatif  mengenal tiga jenis persidangan dengan cakupan kewenangan yang berbeda-beda pula yaitu, Sidang Umum, Sidang Tahunan, dan Sidang Istimewa. Lihat juga Syamsuddin Haris, Menjelang “Pemecatan”Abdurrahman Wahid,ibid  hal.11

[2] Eriyanto, Republika Menolak Perempuan Presiden, Pantau, Edisi 5, 1999.

[3] Munculnya wacana tentang calon wakil presiden menjelang sidang istimewa dipandang menarik, karena secara tidak langsung diperoleh gambaran bahwa Gus Dur sudah dipastikan jatuh meskipun laporan pertanggungjawabannya atas memorandum II belum disampaikan. Kehadiran wacana seperti ini juga memperlihatkan bahwa Megawati sudah dipastikan akan menggantikan Gus Dur sesuai dengan hukum yang berlaku.

[4] Robert N. Entman, Framing :Toward Clarification of a Fractured Paradigm,Journal of Communication,Vol.43,No.4,1991,Hal.52

[5] Deddy Mulyana, Analisis Framing: Suatu Pengantar, dalam Eriyanto, Analisis Framing, Yogyakarta, LKiS,2002,hal.x

[6] Proses alamiah yang dimaksudkan di sini adalah suatu proses yang mau tak mau, sadar atau tidak sadar dilakukan oleh wartawan karena setiap hari terjadi begitu banyak peristiwa dan masalah sementara wartawan dan medianya memiliki keterbatasan waktu, pagina, durasi ditambah tuntutan pemenuhan standar nilai berita seperti proximity,prominance, magnitude, check and recheck, dan cover both side. Seleksi dilakukan mulai dari peristiwa apa yang akan diliput, siapa narasumber yang akan diwawancarai, bagian mana dari suatu informasi yang akan ditampilkan, diletakkan pada halaman berapa, penambahan keterangan seperti apa yang diperlukan apakah grafik atau ilustrasi dan sebagainya. Jadi dapat dikatakan informasi yang diterima khalayak bukan merupakan realitas yang sesungguhnya karena sudah bercampur dengan perspektif wartawan.

[7] Ideologi di sini bukan berarti cara pandang yang sudah baku, kaku dan terpaku pada satu hal melainkan seperangkat pandangan yang digunakan untuk menggambarkan produksi sosial dari makna, bisa didasarkan atas sistem kepercayaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat atau sistem kepercayaan yang bersifat semu. Atau dalam bahasa Raymond Williams,(1) A system beliefs characteristic of particular class or group, (2) A  system of illusory berliefs— false ideas or false conciousness—which can be contrasted with true or scientific knowledge, (3) The general process of the production of meanings and ideas, dalam Jhon Fiske, Introduction Communication Studies, New York, Routledge, 1990 hal.165-166. Kaitannya dengan proses seleksi yang dilakukan wartawan adalah bahwa wartawan bukan individu yang semata-mata melaporkan realitas namun ia juga turut mendfinisikan realitas tersebut berdasarkan perspektifnya sehingga adakalanya hasil yang dicapai (berita yang ditulis) merupakan penyederhanaan dari realitas yang sebenarnya.

[8] Pamela J. Shoemaker and Stepehen D. Reese, Mediating the Message,New York, Longman Publishing Group,1991,hal.184-185

[9] Robert N. Entman, Framing :Toward Clarification of a Fractured Paradigm,Journal of Communication,Vol.43,No.4,1991,loc.cit

[10] William L. Rivers dan Cleve Mathews, Etika Media Massa dan Kecenderungan untuk Melanggarnya,Jakarta, Gramedia, 1994, hal.43. Dalam kenyataan pada umumnya penjual surat kabar selalu memperlihatkan bagian depan dari pagina depan surat kabar sebab tentu akan merepotkan bila yang dipajang adalah halaman dua atau tiga, berarti penjual harus melipat surat kabar bersangkutan.

[11] Dalam buku Bagaimana Meliput, dan Menulis berita untuk Media Massa, dikatakan judul tulisan berfungsi sebagai kalimat yang menginformasikan persoalan apa yang akan dibahas di dalam tulisan tersebut. Meskipun hanya terdiri atas satu kalimat, namun judul selalu ditulis untuk menggugah rasa ingin tahu. Apabila upaya ini berhasil, diharapkan pembaca akhirnya tergerak untuk membaca tulisan. Jadi, paling tidak, dengan membaca judul, pembaca sebetulnya bertambah pengetahuannya: suatu masalah sedang dibahas di dalam tulisan lewat sudut pandang tertentu. Ashadi Siregar, dkk., Bagaimana Meliput, dan Menulis berita untuk Media Massa,Yogyakarta, LP3Y dan Kanisius, 1998, hal.145

One thought on “Lawan yang Menjadi Kawan (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s