Home

Karena perbedaan kata yang benar dan hampir benar  adalah perbedaan antara halilintar (lightning) dan kunang-kunang (lightning bug) begitu kata  Mark Twain penulis Amerika  abad ke-19.  

Judul merupakan bagian penting dari sebuah berita.Dengan melihat judul  saja kita dapat mengetahui isi sebuah berita. Deborah Potter dalam bukunya Jurnalisme Independen mengatakan Judul berita tidak hanya sekedar ringkasan berita tapi juga iklan berita yang membuat khalayak atau pembaca segera bisa menangkap ide berita. Judul ibarat etalase sebuah berita atau tulisan agar orang dapat melihat apa yang disajikan media kepada mereka.

Karena itu judul  tidak hanya sekedar memampatkan lead berita menjadi beberapa kata saja, tetapi juga harus menarik perhatian pembaca, membantu menyusun berita dihalaman-halaman koran, dan menunjukkan betapa pentingnya setiap berita.Terkait dengan judul ini, Moctar Lubis menulis, sebuah judul yang bagus harus memenuhi empat kriteria penting yaitu „benar dan sesuai dengan isi berita, harus menjual berita, menerangkan berita dan menghias berita. Sedangkan seorang Jurnalis India KM Shrivastava, (Jurnal Media watch the Habibie Center edisi No. 60 2007) berpendapat,  selain menerangkan isi berita, judul harus  akurat, gampang dicerna, dan bertenaga.

Redaktur adalah orang yang bertanggungjawab untuk menentukan judul berita Karena itu  seorang redaktur harus menguasai seluruh isi berita yang di kirim jurnalis dari lapangan sebelum membuat judulnya. Menurut Deborah Potter, redaktur yang baik harus memiliki kemampuan untuk menangkap poin utama berita kedalam judul, dan dapat  memanfaatkan ruang yang terbatas dalam media. Joel Pisetzner, seorang Redaktur koran Amerika dalam (Buku Jurnalisme Independen) berpendapat; menciptakan judul berita sama dengan bermain teka-teki potongan gambar, sama dengan merakit sebuah catatan tentang penculikan, mengaduk-mengaduk lagi, mencampur dan mencocokkan. Karena itu ada beberapa hal yang harus dihindari dalam menentukan judul berita.

Pertama, harus menghindari kata-kata usang atau ungkapan yang berlebihan. Kedua, harus hati-hati dengan permainan kata-kata dengan arti ganda. Ketiga adalah yang ada dalam judul harus ada dalam berita.Keempat, Akurat, jujur dan tidak menyesatkan. Judul yang tidak akurat bisa mengundang gugatan hukum dan menghancurkan komoditas paling utama yaitu kredibilitas sebuah surat kabar: (Floyd K. Baskette dkk dalam The Art of Editing 1995) salah menyebut nama dan umur seseorang misalnya adalah kesalahan yang bisa mengikis kredibilitas wartawan. Media yang tidak punya kredibilitas lama-lama akan ditinggalkan pembacanya.             

Hasil monitoring yang dilakukan KIPPAS terhadap dua   Surat Kabar terbitan Aceh  dan satu surat kabar terbitan Medan selama periode Oktober – sampai Desember 2007 menunjukkan ketiga  media ini  kurang memperhatikan akurasi dalam menulis judul berita. Beberapa  judul ditulis dengan menggunakan kata yang berlebihan, kata bermakna ganda dan judul berita dengan kalimat yang membingungkan. Beberapa temuan judul bermasalah itu akan dibahas dibawah ini.  

1. Judul Tidak Akurat  

Waspada, 04 November 2007

Judul : Demi Cita-cita Anak, Rela Berlinang Air Mata  Dari judulnya, kita menangkap bahwa  isi berita  menceritakan penderitaan  orang tua yang selalu diliputi kesedihan yang rela merasakan berbagai kepedihan dan penderitaan demi cita-cita anaknya. Namun setelah kita membaca beritanya, kita baru tahu  bahwa berita ini  hanya menceritakan seorang ibu yang bekerja sebagai pengupas bawang merah dan bawang putih untuk menyekolahkan anak-anaknya. Aroma bawang putih dan bawang merah yang menyengat  sering membuat air mata ibu tersebut sampai keluar dan berlinang  karena pedih seperti tergambar dari  kutipan berita berikut: 

 Hampir setiap hari, ibu tiga orang anak itu terus menggunting dan membersihkan serta mengupas kulit bawang merah dan bawang putih yang sudah ditumpuk dihadapannya. Istri dari Tono ini, rela mengumpulkan rupiah demi rupiah dengan berlinang airmata karena setiap hari harus berhadapan dengan aroma bawang putih dan membersihkan bawang merah yang membuat mata pedih, demi membantu kebutuhan keluarga dan demi untuk biaya pendidikan serta cita-cita anak-anaknya kelak” .  

 Serambi 6 Desember  2007

Judul Berita : Calo Karbon Gerayangi Delegasi Indonesia  

Seperti berita diatas, judul berita tidak menggambarkan fakta yang sebenarnya.Jika kita membaca  judul ini yang  tergambar dalam benak pembaca adalah  ada calo-calo  karbon yang melakukan tindakan tak senonoh/menggerayangi Delegasi Indonesia. Ternyata dalam tubuh berita faktanya bukan seperti itu. Ini adalah informasi  pertemuan tingkat tinggi konfrensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC) yang berlangsung di Bali. Dalam pertemuan tersebut, beberapa calo karbon diduga masuk sebagai anggota Delegasi Ind onesia yang dianggap akan mempengaruhi kebijakan Delegasi Indonesia tentang jual-beli gas karbon. Ini juga masih dugaan karena belum diketahui siapa calo-calo gas karbon tersebut.Lihat cukilan   berikut: 

NUSA DUA-Indonesia memiliki jutaan hektar hutan yang bakal dijual dalam skema perdagangan karbon. Calo-calo perdagangan  karbon diduga telah gentayangan didalam delegasi Indonesia . Dikhawatirkan keuntungan perdagangan karbon hanya akan dinikmati oleh para broker.“Calo-calo karbon sekarang sudah mengelilingi dan menjadi bagian dari delegasi Indonesia ,“ kata Direktur Eksekutif Nasional Walhi Chalid Muhammad Di Bali International Covention Center rabu, (5/12)   

Pilihan kata”gerayangi” dalam judul  terlalu berlebihan dan menyesatkan pembaca. Demikian juga kata “gentayangan”dalam tubuh berita. Deborah Potter menyebutkan, wartawan harus menghindari penggunaan kata-kata atau ungkapan berlebihan yang mungkin hanya akan membingungkan dan menyesatkan pemahaman khalayak saja. Judul harus ditulis bahasa sederhana dan langsung.   

Serambi 8 Oktober, 2007

Judul  Berita: Baju Lebaran Cucu Dari Batu Kerikil

Judul Serambi Indonesia diatas, tidak akurat dan terkesan bermakna ganda. Saat  membaca judul yang terpikir  adalah seorang nenek atau kakek yang cukup kreatif untuk merangkai batu kerikil menjadi baju cucunya.Ternyata setelah kita baca beritanya, kita baru tahu bahwa berita ini menceritakan kisah hidup seorang nenek yang bekerja sebagi pengumpul batu kerikil yang kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk untuk membeli baju lebaran cucunya yang selama ini diasuhnya.  

Waspada, 13 November 2007

Judul Berita: Inul Ngebor Jadi Batu            

Pilihan judul ini kurang tepat. Ada beberapa persepsi ketika  membaca judul berita ini. Apakah Inul kena kutukan dan jadi Batu?.Apakah memang Inul Ngebor benar berubah jadi Batu?. Ternyata tidak. Setelah membaca beritanya, baru kita tahu bahwa penyanyi dangdut tersebut membuat patung dirinya dalam pose sedang ngebor. Tapi tidak disebutkan dari bahan apa patung tersebut dibuat. Patung belum tentu terbuat dari Batu, bisa saja dari lilin atau logam maupun tembaga. Dalam tubuh berita juga tidak ada penjelasan bahwa patung itu dari batu. Kita bisa saksikan patung-patung sekarang lebih banyak dibuat dari tembaga dengan tekstur yang lebih ringan dan lebih kuat. Selain judul, lead berita ini juga bermasalah, karena didalam tubuh berita wartawan mencampur fakta dengan opininya.  

Lihat kutipan berikut:  Dalam cerita berbagai legenda zaman dulu, orang durhaka akan dikutuk menjadi batu. Kali ini pun Inul Daratista“berubah“ jadi Patung dalam pose sedang „ngebor“.Entah terilhami oleh legenda, pose Inul sedang ngebor memang dibuat jadi patung. Reaksipun muncul dari berbagai ormas Islam yang mengancam akan membongkar patung ratu ngebor itu. Puluhan polisi dari Polsek Kebayoran Baru pun turun tangan menjaga patung pedangdut tersebut.  

2. Judul dengan Ungkapan Berlebihan (Eufemisme, Disfemisme, Metafora  dan Jargon)

Penulis yang baik selalu berusaha memilih kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang mereka maksudkan. Berita ditulis untuk khalayak umum, karena itu jurnalis harus menghindari penggunaan jargon- yaitu bahasa yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Jurnalis juga harus menghindari eufemisme, yaitu kata-kata atau ungkapan berlebihan yang mungkin hanya membingungkan dan menyesatkan pemahaman khalayak. Kita akan mengoreksi judul berikut ini:  

Serambi, 15 November 2007

Judul Berita: Sapu Terbangkan A Maton Ke Tanah Suci 

Rakyat Aceh, 30 November 2007

Judul Berita: Sayur-Mayur Menerbangkannya Ke Tanah Suci             

Dua judul berita yang dimuat Serambi dan Rakyat Aceh hampir sama yaitu mengandung Disfemisme yaitu ungakapan yang berlebihan. Dimana sapu dan sayuran bisa menerbangkan seseorang naik Haji ke tanah suci. Benarkan demikian? Ternyata tidak. Dalam tubuh berita diinformasikan ibu A Maton mampu naik haji dari gaji yang dikumpulkan selama bekerja sebagai clining service di Universitas  IAIN Ar-Raniry ditambah dengan uang hasil penjualan tanah yang diwariskan ibu angkatnya. Sedangkan berita ke2 menceritakan seorang penjual sayur-mayur mampu berangkat naik Haji dari hasil penen sayuran dan penjualan tanah yang dimilikinya.  Pilihan kata dalam dua judul tersebut kurang tepat karena bia membingungkan pembaca.Judul seharusnya ditulis dengan singkat dan jelas. Lihat kutipan dua berita dibawah ini.    

Berita 1. Perempuan Tua itu tak sanggup menahan haru, air matanya mengalir membasahi pipi. Wajahnya sembab suaranya parau. Sekali tangannya mengusap kedua matanya. “Alhamdulillah… Alhamdulillah   A. Maton Sakdiah ialah cleaning service di Fakulltas Terbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Sudah sekitar tujuh tahun A.Maton menyapu dan mengepel lantai di kampus tersebut.  Sejak itulah perempuan 58 tahun itu ingin menuaikan ibadah puasa    

Barita 2. Menunaikan ibadah haji tidak identik dengan orang-orang berharta. Semua bisa melakukannya. Siapa punya peluang menunaikan rukun Islam Lima, tak terkecuali penjual sayuran. Asal punya niat dan kesungguhan menabung. Banda Aceh– Wajah Maad Pinem Mangku terlihat berseri-seri ketika ditemui Rakyat Aceh di Asrama Haji, Banda Aceh. Ia terenang bagaimana perjuangan bersama istri tercinta, siti Maryam menjadi petani sayur mayur hingga  mampu menunaikan ibadah Haji.  Dua judul diatas menggunakan ungkapan yang berlebihan, padahal ini sangat pantang didalam penulisan judul; berita.  

Waspada, 28 November 2007

Dulu cuci Tangan Sekarang Cuci Piring 

Ketika membaca judul diatas, kita akan bingung apa yang dimaksudkan berita diatas. Siapa yang cuci tangan dan siapa yang sekarang cuci piring tidak jelas. Nam un setelah membaca berita kita baru tahu bahwa judul tersebut dikutip redaktur dari Meta fora yang diucapkan Presiden SBY dalam satu pertemuan yang membahas tentang penanganan masalah korupsi yang berlarut-larut. Presiden SBY,mengumpamakan para koruptor besar yang tidak bertanggungjawab alias cuci tangan atas segala kejahatan mereka. Pemerintahan yang kebagian tugas  menuntaskan masalah korupsi ini disebutnya sebagai tindakan cuci piring dari kasus-kasus korupsi besar yang belum rampung misalnya kasus penyalahgunaan bantuan Likuiditas Bank Ind onesia (BLBI). 

3. Ungkapan tidak lazim 

Rakyat Aceh, 22 November 2007Pasutri temukan Bayi Tak Bertuan di Teras Rumah             

Menggunakan kata-kata yang tidak lazim dengan tujuan agar berita tampak keren harus dihindari (Deborah Potter, Jurnalisme Independent) Istilah bayi tak bertuan, adalah  kata yang tidak lazim digunakan kepada bayi yang ditinggalkan orangtuanya. Kata ini biasanya digunakan untuk barang-barang atau hewan piaraan misalnya koper tak bertuan atau kucing tak bertuan  dan anjing tak bertuan. Tuan adalah satu istilah yang menggambarkan seorang majikan atau pemilik. Penggunaan Istilah tersebut untuk seorang bayi kurang manusiawi karena bayi malang disamakan seperti barang atau hewan.            

Selain dalam judul, jurnalis juga menulis istilah ini dalam tubuh berita seperti kutipan berikut: Sigli- Pasutri (Pasangan suami istri) Ibrahim 47, dan Sakdiah (32), dikejutkan dengan temuan bayi tak bertuan yang diletakkan di teras rumah mereka di Paru Kaude, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, Rabu dinihari kemarin sekitar pukul 04:30 Wib. Kondisi bayi tersebut sudah dalam keadaan berpakaian rapi yang dimasukkan dalam kotak kardus. Setelah ditangani pihak berwaji, kini bayi tersebut dititipkan di RSU Sigli untuk mendapatkan perawatan.            Penggunaan kata-kata tidak lazim dalam judul berita sering dilakukan jurnalis agar berita tersebut tampak keren, tapi sekali lagi ini sangat ditabukan dalam judul sebuah berita. Persoalan yang sama juga muncul dalam dua judul berita  yang dibuat Rakyat Aceh berikut:  

Rakyat Aceh, 0 3 November 2007

Wartawan Muntaber Gentayangan, Pejabat Pusing Serambi,

Minggu 04 November 2007 Harga Minyak dan Emas “Mengamuk“ lagi 

Rakyat Aceh, 0 2 Desember 2007

Anak-Anak digarap Dijadikan Pengemis            

Penggunaan isitilah digarap, Gentanyangan dan mengamuk tidak menggambarkan isi berita. Istilah digarap adalah eufemisme yang biasanya digunakan untuk menggambarkan proses pembajakan ladang atau kebun dan ini tidak lazim digunakan untuk mengambarkan eksploitasi anak-anak. Demikian juga dengan istilah „gentayangan“ yang biasanya digunakan untuk hantu atau setan. Kata mengamuk untuk menggambarkan harga naik terlalu berlebihan. Istilah lain yang muncul dalam berita ini adalah mencari mangsa dan memburu yang semua ini merupakan ungkapan yang berlebihan seperti dalam cuplikan berita berikut:  

Aceh Tamiang-  Para pejabat di Kabupaten Aceh Tamiang pusing menghadapi banyak bergentayangannya para WTS (wartawan Tanpa Surat Kabar) alias wartawan muncul tanpa berita (muntaber) Kegelisahan para pejabat itu mulai terhendus dalam beberapa waktui belakangan ini, dimana saat kelompok-kelompok tertentu terus mencari mangsa guna untuk memburu berbagai proyek diberbagai dinas-dinas, maupun kantor dan badan. Sehingga saat ini para pejabat mulai pusing memikirkannya.  

4. Judul  Membingungkan  

Rakyat Aceh, 1 Desember 2007

Listrik Hidup, Delapan Rumah Warga Terbakar            

Pada berita ini sebenarnya bukan karena listrik hidup membuat del apan rumah kebakaran. Tetapi kebakaran itu terjadi tidak lama sesudah listrik hidup akibat pemadaman PLN. Dalam tubuh berita, diceritakan  kebakaran tersebut diduga karena arus pendek. Judul yang paling tepat adalah “Akibat Arus Pendek, Delapan Rumah Warga Terbakar 

Rakyat Aceh, 5 Desember 2007

Elektronika Minta Insentif Pajak            

Judul ini membuat kita bingung. Apakah barang-barang elektronika bisa minta insentif pajak.Setelah membaca baru kita tahu yang meminta insentif pajak itu adalah pengusaha  Industri yang bergerak dibidang barang-barang eklektronik seperti PT Panasonic dan lain-lain seperti berita berikut:     

        Jakarta-Industri Elektronika minta pemerintah memberi insentif pajak bagi investasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi digital. Pemerintah juga diminta menerapkan standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk Electronika dan program alih teknologi. „Jika tidak, Industri elektronika dalam negeri akan tertinggal dari Malaysia, Thailand dan Singapura dalam integrasi pasar Asean.ujar Preskom PT Panasonic Rachmat Gobel di sela perluasan pabrik baterai lithium di kawasan industri Cibitung, Bekasi kemarin. 

Rakyat Aceh, 6 Desember 2007203

Yatim Tsunami Bermukim di Luar Aceh           

Yang dimaksud dalam judul ini bukan anak Yatim si Tsunami, tapi berita menceritakan ada 2003 anak korban Tsunami yang bermukim di luar Aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s