Home
Analisi Isi Berita Sengketa Petani VS PTPN Sumut

Pada Harian Sinarlndonesia Baru,Anal isa dan Waspada, Periode:

Desember 1998 – Juni 1999

Sebuah Ringkasan  

Pada dasarnya media massa merupakan salah satu ruang publik yang digunakan, setiap aktor (stake holder) yang terlibat dalam suatu persoalan atau konflik untuk “memenangkan” agenda kepentingannya. Setiap aktor, dengan politik bahasa yang mereka kembang­kan sendiri, berusaha menampilkan situasi, atau definisi realitas versi mereka yang paling sahih agar bisa keluar sebagai “pemenang” atau minimal memper­oleh simpati dari publik pembaca.

Karena media pers adalah media yang menggunakan bahasa sebagai sarananya, maka setiap aktor yang terlibat dalam konflik tersebut menggunakan strategi wacana untuk memenangkan pepe­rangan simbolik tersebut. Atau menurut Eriyanto, setiap aktor yang terlibat dalam konflik itu akan berusaha menon-jolkan basis penafsiran, klaim, atau argumentasi masing-masing berkaitan dengan persoalan yang diberikan media.

Soalnya menurut Teun A. van Dijk, sebagaimana dikutip Eriyanto, pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu, bukan semata-mata dipandang sebagai cara berkomunikasi, tetapi harus dipandang sebagai suatu politik berkomunikasi; suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperoleh legitimasi dan menyingkirkan lawan atau penentang. 

Stigmatisasi Petani = Penggarap Liar

Hasil penelitian terhadap berita-berita sengketa tanah antara pihak petani dengan pihak perkebunan negara Sumut, yang dimuat harian Sinar Indonesia Baru, Analisa dan Waspada, menunjukan bahwa dari 66 item berita yang ada, sebanyak 54 item berita mengandung muatan kekerasan fisik dan simbolik.

Bahkan pada jenis kekerasan fisik, ditemukan banyak indikator kekerasan fisik, yang untuk kepentingan peneli­tian ini telah dimam­patkan menjadi satu kategori. Misalnya untuk kata perusakan, di dalam pemberitaan ketiga surat kabar yang diteliti umumnya dimunculkan dengan variasi kata kekerasan fisik yang maknanya sama, seperti pentraktoran, penghancuran, pembakaran, pembersihan dan pemusnahan.

Muatan kekerasan fisik sarat mewarnai pemberitaan tersebut karena peristiwa konflik yang diberitakan seringkali berujung pada tindak perusakan dan penganiayaan oleh pekerja perkebunan yang dibacking aparat keamanan Brimob Poldasu terhadap tanaman, gubug dan para petani yang tergabung dalam berbagai organisasi petani seperti BPRPI (Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia),

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s