Home

revisi-cover-final.jpg

Jika produk jurnalisme mampu memantik konflik lanjutan di tingkat masyarakat, maka produk jurnalisme dapat juga memantik setiap elemen masyarakat untuk menjaga dan memperkuat perdamaian. Bukankah lawan dari perang adalah perdamaian? Karena itu kalau ada fakta media yang ditulis dengan tujuan “menghasut” orang/kelompok agar membenci orang/kelompok lain, maka ada juga berita yang ditulis sebagai “alat provokasi” agar satu orang/kelompok saling berdamai dengan orang/kelompok yang bermusuhan. Seperti kata penganjur jurnalisme damai, Annabel McGoldrick dan Jake Lynch, pekerjaan jurnalis pertama-tama memang melakukan intervensi. Pilihannya kemudian adalah pada etika: apakah campur tangan jurnalis itu digunakan untuk mendukung terciptanya perdamaian, atau sebaliknya?

Hal inilah yang melatari pentingnya perspektif jurnalisme damai diamalkan para jurnalis untuk merekonstruksi berbagai peristiwa yang muncul di Aceh paska MoU Perdamaian Helsinki 2005. Khususnya, ketika jurnalis menghadapi dinamika proses reintegrasi yang tak selalu berjalan mulus di lapangan.

Namun di sisi lain muncul kesadaran bahwa orientasi pemberitaan pers, ditengarai kerap mengedepankan unsur eskalasi konflik. Ini tidak tidak terlepas dari keberadaan pers sebagai institusi modal yang haus akan laba. Akibatnya, produk media berita lebih banyak diperlakukan sebagai komoditas yang memenuhi prinsip pasar ekonomi. Tak heran jika pengkritik jurnalisme damai beragumen bahwa pers hanyalah sekadar memantulkan bayangan yang ada di masyarakat. Jika masyarakat di mana pers hidup adalah masyarakat yang gemar kekerasan, seks atau kriminalitas, maka pers akan menjadi pelayan setia dengan menghadirkan suguhan-suguhan berita sesuai “selera” masyarakat!

Sudah tentu gambaran tersebut terlalu karikatural. Yang dilupakan pengkritik jurnalisme damai adalah pers juga diimpikan sebagai moulder of reality, yang memiliki saham untuk membentuk “wajah masyarakat Aceh” yang damai. Bertolak dari keyakinan seperti ini, jurnalisme damai menjadi sebuah keniscayaan. Dalam konteks Aceh, keniscayaan itu terkait dengan peran jurnalis untuk mendorong dan memperkuat perdamaian.

Sudah tentu lewat produksi fakta media, baik yang tercetak maupun yang diudarakan lewat gelombang elektromagentik.Jurnalis memang memiliki peran strategis untuk menginformasikan dan memperkuat usaha-usaha membangun tali silaturahmi atau yang dikenal dengan program reintegrasi. Untuk itu sebagai pelaku jurnalisme damai, jurnalis dituntut untuk menstransformasikan peran mereka agar tidak sekadar sebagai pewarta informasi. Tapi juga pengemas informasi bermuatan penuh makna untuk mendorong seluruh elemen di Aceh menjaga talisilaturahmi.

Konflik memang tak mungkin dihindari dari proses reintegrasi. Namun konflik yang memervik seharusnya dipahami sebagai bagian dari proses resolusi konflik menuju perdamaian yang sejati. Jurnalis karena itu harus berperan aktif dan pro aktif dalam ikut mendorong para pihak untuk selalu mengutamakan tali silahturahmi untuk mengelola konflik.

Kesanalah arti keberadaan buku “Meretas Jurnalisme Damai di Aceh”, yang memperoleh dukungan pendanaan dari Uni Eropa tersebut diterbitkan. Melalui buku ini, diharapkan pihak-pihak yang tengah memberi andil dalam mewujudkan perdamaian sejati di Aceh, dapat memetik hikmah dari gagasan-gagasan tentang pentingnya upaya meretas jurnalisme damai di Aceh. Berbagai kisah untuk merajut talisilaturahmi yang lahir dari tangan sejumlah jurnalis di Aceh, diharapkan juga dapat memberi inspirasi yang mengingatkan berbagai pihak tentang rugensi peace building dan peace keeping di Aceh. Sementara “iuran” ide dari sejumlah pemangku kepentingan di Aceh, mulai dari kalangan akademisi sampai penggiat  LSM, diharapkan dapat memberikan “pencerahan” berbagai penggambil kebijakan dalam rangka melahirkan kebijakan reintegrasi yang bernas.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s