Home

Oleh: Diana Irene

Euforia Kemenangan           

Terpilihnya Megawati sebagai presiden RI ke-5 dalam Sidang Istimewa MPR RI 2001 yang disiarkan melalui televisi telah menimbulkan rasa kegembiraan di kalangan perempuan Indonesia. Gambaran itulah yang pertama kali tertangkap pada kartun I. Ketiga wanita dakam kartun tersebut menggambarkan mimik wajah yang gembira dimana mereka ada yang tersenyum, berteriak girang sambil mengangkat kedua tangan dan satunya lagi mengepalkan tangan ke atas tanda kemenangan.            

Para wanita tersebut merasa pelantikan Megawati sebagai presiden adalah kemenangan mereka juga sehingga mereka merasa pantas untuk bergembira. Terkesan, mereka menganggap kemenangan Megawati adalah salah satu bentuk persamaan hak yang sudah semestinya mereka terima. Selanjutnya dalam plot kedua kartun digambarkan ketiga wanita wanita itu merasa menang dihadapan para pria diwujudkan dengan cara berjalan tegap. Tiga pria yang melihat ketiga wanita tersebut menjadi tercengang seakan mereka tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sikap ketiga pria  tersebut berkaitan dengan adanya pandangan kaum pria yang biasanya melihat wanita sebagai mahluk yang lemah gemulai dan terkesan anggun ketika berjalan sehingga ketika melihat para perempuan tersebut berjalan dengan gagahnya mereka merasa terkejut. Berdasarkan rangkaian kartun ini Analisa hendak menampilkan perempuan  sebagai sosok yang sering terlalu cepat percaya diri sehingga  cenderung terkesan sombong atas kemenangan yang dicapai salah seorang kaumnya sehingga sewaktu berjalan pun mereka tidak memandang ketiga pria yang berada di depannya justru menutup mata. Dikaitkan dengan naiknya Megawati menjadi presiden secara tidak langsung dalam pandangan Analisa perempuan akan bersikap sombong setelah menjadi seorang pemimpin ataupun menduduki posisi penting. Panadangan demikian lebih didasarkan adanya suatu kebiasaan dalam kultur masyarakat bahwa yang pantas menjadi pemimpin hanyalah kaum pria maka ketika ada wanita yang menjadi pemimpin mereka merasa terancam posisinya dan mempengaruhi khalayak dengan menampilkan sisi buruk yang akan terjadi bila perempuan menjadi pemimpin. 

Suami Pelayan Istri           

Sikap ketakutan pria apabila perempuan menjadi pemimpin masih berlanjut dalam kartun kedua ini. Dalam pandangan pria setelah seorang perempuan memiliki jabatan penting seperti Megawati yang seorang istri dan ibu maka perempuan tersebut tidak akan melayani suaminya lagi justru suamilah yang akan melayani istrinya. Padahal dalam kehidupan rumah tangga yang telah terinternalisasi sejak lama istrilah yang melayani suami.           

Gambaran ketidaksenangan pria atas jabatan yang diraih perempuan digambarkan dengan rangkaian kejadian yang bisa saja terjadi pada diri suami yang istrinya memiliki posisi penting, mulai dari plot pertama tampak seorang pria sedang mengepel lantai sementara istrinya terlihat marah-marah dan seakan-akan tidak merasa puas dengan cara kerja suaminya padahal tugas mengepel dalam pandangan masyarakat sehari-hari adalah tugas perempuan. Sang suami dilukiskan hanya bisa terdiam dan bermimik takut ketika mengepel. Sepertinya ia tidak punya pilihan lain dan tidak berani membantah perintah istrinya. Kesan yang tertangkap pada plot ini adalah bahwa perempuan setelah menjadi pemimpin bisanya hanya marah-marah dan mengatur saja tanpa memiliki kemampuan untuk mengerjakan tugasnya serta masih mengandalkan pria untuk melakukan pekerjaannya.            Kemudian plot kedua memuat gambar seorang perempuan separuh baya yang sedang duduk santai sambil mengangkat kedua kakinya ke atas bangku kecil menyaksikan siran televisi sedangkan si suami tampak sedang membawakan minuman. Ketidakrelaan pria melayani istri tampak jelas pada plot kedua ini, dimana mimik pria dalam kartun ini dibuat seperti orang yang tidak bahagia karena merasa terpaksa harus membawakan minuman buat istrinya lain halnya jika sang suami tersenyum sambil menghidangkan minuman berarti ada kerelaan suami mengerjakan pekerjaan tersebut. Sikap membungkukkan badan yang dilakukan pria dalam kartun ini juga memperlihatkan rasa takut bukan rasa hormat kepada istrinya. Dengan melihat sikuen ini tertangkap rasa khawatir pria tidak akan dibuatkan lagi minuman oleh istrinya bila istri sudah menjadi pemimpin sebab dalam pandangan pria, istri harus membuatkan minuman untuk suami misalnya pada saat akan pergi kerja atau ketika bersantai.            Kekhawatiran pria tenaganya akan dieksploitasi oleh wanita yang menjadi pemimpin dapat dilihat pada sikuen ketiga. Sikuen ini memperlihatkan seorang pria yang sedang memijat istrinya dengan wajah yang tampak letih dan mengantuk sementara istrinya justru enak-enakan tidur seakan tidak perduli dengan keadaan suaminya. Perempuan disini digambarkan sebagai sosok yang egois, mau menang sendiri dan sering sewenang-wenang bila sudah menjadi pemimpin. Pandangan ini terkait dengan common sense dikalangan masyarakat bahwa perempuan sering bertindak irrasional asalkan keinginannya tercapai. Jadi meskipun suaminya sudah terlihat letih dan mengantuk si istri tidak akan meminta suaminya berhenti memijat sebelum ia benar-benar merasa puas. 

Perempuan Bisanya Hanya Marah-Marah           

Citra negatif perempuan yang suka marah-marah alias cerewet digambarkan dalam kartun ketiga. Sikuen pertama memperlihatkan seorang perempuan yang sedang marah dengan pria di hadapannya yang hanya bisa tertunduk diam tanpa berani membantah. Namun kemudian tiba-tiba muncul hewan kecil—sepertinya kecoak—sehingga perempuan tersebut ketakutan dan berlindung di belakang  si pria. Selanjutnya pri itu memijak hewan tersebut sampai mati guna menghilangkan rasa takut si perempuan. Setelah melihat hewan itu mati perempuan tersebut melanjutkan kembali kemarahannya seakan-akan tidak tahu  berterimakasih telah ditolong. Kesan yang tertangkap melalui rangkaian kartun ini adalah bagaimana mungkin seorang perempuan bisa dan mampu menjadi pemimpin bila pada hewan kecil yang dianalogikan sebagai masalah kecil saja merasa takut dan masih membutuhkan pria untuk menghadapinya. 

Perempuan Tetap Harus Ke Dapur           

 Mitos yang ada dalam masyarakat bahwa perempuan walaupun memiliki jabatan tinggi ataupun bergelar sarjana tetap harus ke dapur yang berarti juga menjadi ibu rumah tangga tergambar pada kartun keempat. Sikuen pertama memperlihatkan seorang perempuan yang sedang memarahi seorang pria di kantornya yang sepertinya adalah bawahannya. Kemudian sikuen ketiga memperjelas posisi perempuan tersebut sebagai orang penting di kantor yaitu ketika ia berjalan orang-orang yang melihatnya memberi hormat dengan cara membungkukkan badan. Namun sikuen ketiga memperlihatkan hal yang berbeda dengan kedua sikuen sebelumnya, jika di kantor ia dihormati karena menjabat posisi penting tetapi di rumah ia tetaplah perempuan biasa yang masih harus tetap melayani suaminya dan mengerjakan tugas yang sudah diwajibkan dilakukan seorang istri tidak perduli betapa lelahnya ia setelah bekerja di kantor.           

Beban ganda yang diletakkan di pundak perempuan sebenarnya memperlihatkan betapa perkasanya perempuan karena mempunyai lebih banyak enerji untuk melakukan pekerjaan yang dapat dikatakan tidak berhenti selama 1×24 jam setiap harinya, mulai dari mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mencuci, mengurus kebutuhan suami ditambah lagi bekerja di luar rumah.           

Padahal semestinya ada suatu pengertian dari pihak suami dalam pembagian tugas apalagi jika istrinya harus bekerja di luar rumah karena tuntutan ekonomi misalnya suaminya adalah pengangguran tentunya sang suami harus mau berbagi tugas dengan istrinya. 

Istri Dan Suami Adalah Mitra           

Gambaran bahwa kesetaraan antara perempuan dan pria dalam berumah tangga adalah suatu hal yang menguntungkan tergambar dalam kartun kelima. Kartun ini menceritakan tentang seorang perempuan yang bekerja di kantor dan memiliki jabatan penting sementara sang suami berada di rumah memasak sambil mengasuh anak mereka. Tidak ada konflik diantara mereka sehubungan dengan pembagian tugas tersebut, seperti yang terlihat dalam sikuen ketiga dimana pasangan tersebut tidur lelap sambil tersenyum dan berpegangan tangan.           

Situasi demikian bisa dicapai karena adanya suatu kesepakatan pembagian tugas yang disepakati bersama sehingga dalam menjalankannya mereka tidak merasa terbebani. Keadaan seperti inilah yang masih jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kartun ini berusaha mempengaruhi khalayak supaya mau berbagi tugas dalam kehidupan berumah tangga karena hubungan antara suami dan istri adalah mitra bukan atasan dan bawahan dimana satu pihak menjadi pelayan dan satunya lagi terus menerus dilayani.Hanya saja kartun ini dirusak oleh gambar perempuan yang sedang memarahi bawahannya sehingga perempuan sepertinya tidak bisa lepas dari streotip cerewet. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s