Home

Oleh: Diana Irene

Naiknya Megawati ke tampuk kekuasaan pemerintahan sebagai Presiden Republik Indonesia ke-5 pada Sidang Istimewa MPR 23 dan 24 Juli 2001 lalu memperoleh tanggapan yang beragam dari berbagai pihak. Ada yang menganggap kemenangan Mega tersebut adalah kemenangan seluruh perempuan Indonesia, namun tidak sedikit pula yang menganggap itu hanyalah keberuntungan sesaat saja.

Seiring dengan munculnya berbagai tanggapan terhadap posisi Megawati saat ini , persepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya posisi perempuan dalam masyarakat setidaknya mulai mengalami perubahan karena secara otomatis streotip bahwa perempuan hanya boleh bergerak di sekitar domestik menjadi perlu dipikirkan kembali. Walaupun selama ini sudah ada tuntutan agar wanita juga memperoleh persamaan hak yang memungkinkan wanita bergerak di sektor publik.

Gambaran tentang kedudukan dan peran perempuan pasca pengangkatan Megawati yang seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya, tidak hanya dimuat dalam bentuk tulisan saja di media massa tetapi juga ke dalam bentuk kartun. Hal tersebut sah saja karena kartun merupakan bagian dari pers dan berkembang bersama pers. Selain itu kartun sendiri merupakan cerminan dari suatu masyarakat karena kartun sering mendapat kekuatannnya dari masalah-masalah sosial budaya masyarakat yang tengah berlangsung. Sehingga dapat dikatakan tema-tema dalam kartun merupakan pengangkatan realitas kehidupan masyarakat ke dalam goresan tinta. Dan tema pengangkatan Megawati sebagai presiden berjenis kelamin perempuan merupakan suatu opini yang masih berkembang di tengah masyarakat apalagi Megawati sebelumnya pernah diterpa isu gender yang memperlihatkan masih sempitnya pandangan pria bahkan kaum perempuan sendiri tentang hak dan arti pentingnya perempuan bergeraj di sektor publik.

Salah satu kartun yang menarik untuk diamati guna mengetahui apa dan bagaimana persepsi masyarakat terhadap perempuan setelah Megawati menjadi presiden adalah kartun Pak Tuntung produksi surat kabar Analisa. Mengamati suatu kartun sangatlah menarik karena untuk memahami kartun tidak serumit ketika harus memahami makna yang terkandung dalam suatu teks berita. Selain itu opini yang terkandung di dalam kartun lebih mudah diingat karena kartun berbentuk gambar gambar Kartun Pak Tuntung sendiri adalah kartun yang pernah menjadi salah satu desain untuk prangko seri tokoh kartun tahun 2000.

Kerangka Konseptual

Kartun Pak Tuntung yang merupakan komik strip ini akan dianalisis melalui kerangka Roland Barthes, meskipun kerangka analisis Barthes sebenarnya untuk menganalisis foto, Agus Sudibyo, Analis Media ISAI, berpendapat bahwa kerangka analisis itu juga relevan untuk menganalisis kartun. Inti dari gagasan Barthes adalah tentang adanya dua tingkatan signifikansi pada sebuah foto.

Tingkatan pertama adalah adalah denotasi—relasi antara penanda dengan petanda dalam sebuah tanda, serta tanda dengan acuan realitas eksternalnya. Tingkatan kedua dalam pandangan Barhes ada tiga bentuk. Pertama, konotasi yang menggambarkan interaksi yang terjadi tatkala tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari penggunanya dan nilai-nilai kebudayaannnya. Perbedaan antara denotasi dan konotasi dapat dilihat dengan mudah dalam fotografi. Denotasi adalah reproduksi mekanis pada film tentang obyek yang ditangkap oleh kamera. Konotasi adalah campur tangan manusiawi dari proses itu: seleksi hal-hal yang mencakup frame, fokus, sudut pengambilan kamera, kualitas film dan sebagainya. Dengan kata lain. Denotasi adalah apa yang dipotret, sementara konotasi adalah bagaimana memotretnya.

Bentuk kedua adalah mitos. Barthes mengartikan mitos sebagai cara berpikir kebudayaan tentang sesuatu, sebuah cara mengkonseptualisasikan atau memahami sesuatu hal. Barthes menyebut mitos sebagai rangkaian konsep yang saling berkaitan.

Sedang bentuk ketiga adalah simbol. Suatu obyek bisa menjadi tanda jika ia disepakati bersama lewat konvensi dang menggunakan makna yang memungkinkannya menyatakan sesuatu yang lain.

Untuk mempertegas kerangka analisis Barthes, juga akan dioperasionalisasikan tipologi tanda-tanda Paul Cobley and Litza Jansz. Dalam konteks studi semiotika, mereka pernah membuat tipologi tanda-tanda. Menurut mereka, tanda mempunyai tiga elemen, yakni ikon, indeks, dan simbol. Penggunaan tipologi untuk menganalisis kartun yang dipilih bersifat komplementer kerangka analisis Barthes. Ketiga elemen tanda adalah ikon, indeks dan simbol.                                                                                                         

Ikon adalah tanda yang dicirikan oleh persamaan (resembles) dengan objek yang digambarkan. Tanda visual seperti fotografi atau film adalah ikon, karena tanda yang ditampilkan mengacu kepada persamaannya dengan obyek. Sebuah foto mobil adalah ikon dari obyek yang bernama mobil, karena foto mobil tersebut berusaha menyamakan dengan obyek yang diacunya. Gambar laki-laki perempuan yang banyak kita jumpai di toilet adalah juga contoh sebuah ikon karena berusaha menirukan bentuk tubuh orang laki-laki atau perempuan. Karena bentuknya yang sama/mirip dengan obyek, ikon dapat kita amati dengan cara melihat. Indeks adalah hubungan langsung antara sebuah tanda dan obyek yang kedua-duanya dihubungkan.

Indeks adalah sebuah tanda melalui mana obyek-obyek dihubungkan. Rokok adalah sebuah indeks dari kebakaran; badan tidak enak adalah sebuah indeks dari penyakit flu; muntah-muntah adalah sebuah indeka dari kehamilan dan seterusnya. Sebuah indeks dapat kita kenali bukan hany dengan melihat seperti halnya dalam ikon, tetapi perlu juga dipikirkan hubungan antara dua obyek tersebut. Sedangkan simbol adalah sebuah tanda yang ditentukan lewat konvensi, persetujuan atau aturan tertentu. Makna dari suatu simbol disini ditentukan oleh suatu persetujuan bersama, atau diterima umum sebagai suatu kebenaran. Kata atau angka adalah sebuah simbol—tidak ada alasan kenapa misalnya 2+2=4, selain karena memang diterima oleh umum sebagai suatu kebenaran. Lampu lalu lintas atau tanda-tanda lalu lintas adalah juga sebuah simbol yang maknanya diterima karena kita terima sebagai suatu kebenaran melalui persetujuan dan dipahami bersama.

Dengan sifatnya seperti itu, sebuah simbol dapat kita pahami dengan jalan menafsirkan atau mempelajarinya. Hal ini karena pada simbol, tanda bukan merupakan turunan atau tiruan dari obyek yang nyata seperti halnya dalam ikon, tetapi tanda yang muncul mempunyai makna tertentu yang baru bisa kita pahami kalau kita mempelajarinya dan menafsirkannya. Contoh paling sederhana adalah kalau kita ke suku pedalaman yang tidak pernah kita kenal. Setiap benda umumnya adalah simbol yang mempunyai arti sendiri-sendiri yang baru bisa kita pahami kalau kita mempelajarinya dengan seksama dan teliti.

Berdasarkan analisis Barthes, analisis akan dipusatkan pada level konotatif yaitu bagaimana pilihan objek, ilustrasi wajah, frame dan posisi wanita di hadapan pria sehingga menimbulkan perasaan subjektif dan memantulkan citra tertentu.

Pada level ini juga akan digunakan operasionalisasi tipologi tanda seperti dijelaskan di atas. Selanjutnya analisis akan dilakukan pada level mitos, dengan mempertanyakan apakah pilihan-pilihan kartun yang ditampilkna menyiratkan adanya pengaruh mitos (cara berpikir) atau ideologi tertentu berkaitan dengan cara pandang media terhadap peran dan posisi perempuan di masyarakat. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s