Home

   Oleh: Erwinsyah 

Wapemred/Redpel Hr Medan Bisnis

Kalaupun ada wartawan media lokal di Medan yang pernah mengikuti pelatihan jurnalisme investigatif yang difasilitasi oleh NGO pers, biasanya ada dua kemungkinan yang terjadi setelah itu. Kemungkinan pertama, jurnalis tersebut diberi kesempatan oleh institusi medianya untuk membuat reportase investigatif, namun anggaran liputan masih harus ditopang sepenuhnya oleh NGO. Kemungkinan lain, jurnalis tersebut terpaksa menyerahkan hasil reportasenya di media khusus investigatif yang diterbitkan NGO yang memfasilitasinya. Hal itu terjadi disebabkan institusi media tempat sang jurnalis bekerja tidak memberi dukungan moral dan finansial untuk liputan investigatif. 

Lemahnya dukungan moral perusahaan media lebih disebabkan trauma represif di masa  rezim orba yang masih terwariskan hingga saat ini. Meski jaminan kebebasan pers sudah terakomodasi dalam UU Pers No 40 Tahun 1999, umumnya perusahaan media masih sangat takut dan was-was terhadap “hantu“ baru bernama kriminalisasi pers dan kekerasan komunal.  

Selain itu, pers sebagai sebuah industri kerap menimbulkan benturan antara idealisme wartawan dengan kepentingan bisnis perusahaan atau pemilik media. Bukan rahasia lagi kalau berita-berita kritis kerap dieliminir atau setidak-tidaknya dilunakkan demi kepentingan owner atau kepentingan pemasang iklan.  

Lebih buruk dari itu, pers di Medan semakin kehilangan hakikatnya sebagai pelayan publik ketika industri pers dalam relasi sosialnya dengan pekerja pers menjadi sangat kapitalis. Itu tercermin dari sistem pengupahan dan insentif bagi wartawan yang selalu dikaitkan dengan keuntungan media dari pendapatan iklan, bukan dari kinerja dan kualitas kerja mereka. Artinya, sehebat apapun profesionalisme sang wartawan, ia tak menerima kenaikan gaji ataupun insentif kalau pendapatan iklan perusahan pers tidak meningkat. Sulit mencari pemilik media di daerah ini yang mau memberi gaji lebih atau memberika bonus istimewa kepada wartawannya yang  bekerja profesional. Kurangnya penghargaan perusahaan terhadap profesi wartawan membuat kebanyakan wartawan tidak loyal pada profesinya Atau kalaupun bertahan sebagai wartawan, biasanya pola pikir yang semula kritis dan idealis menjadi permisif (taken for granted) dan pragmatis. 

Kini, menyenangkan pemasang iklan dengan berita-berita yang sesuai “pesanan” merupakan bentuk pemujaan baru, karena iklan adalah tuhan baru kapitalisme media, yang menentukan panjang-pendeknya umur perusahaan pers. 

Paradigma media seperti ini melumpuhkan sikap kritis wartawan. Karena itu, sulit bagi wartawan di Medan untuk menghidupkan jurnalisme investigatif selama kepentingan warga (publik) yang menjadi salah satu elemen jurnalisme (Kovach & Rosenstiel:2004) kerap diabaikan. Kewajiban utama pers cenderung tidak lagi pada kebenaran, melainkan pada kepentingan koncoisme pemilik media dengan penguasa, mitra usaha atau dengan pemasang iklan. 

Tren ke Depan

Pertanggungjawaban media terhadap publik melalui reportase investigatif sesungguhnya merupakan modal sosial untuk meningkatkan kredibilitas media. Dan kredibilitas berita menjadi salah satu unsur yang menguatkan daya saing sebuah media.   

Reportase investigatif juga menjadi solusi cerdas bagi surat kabar harian untuk bersaing dengan media elektronik dan media online. Dengan kecepatan media elektronik dan media online menyampaikan berita-berita instan paling mutakhir, surat kabar harian semakin tergilas dan terancam ditinggalkan pembaca. Surat kabar harian memerlukan lebih banyak liputan-liputan reportase interpretatif, indepht news dan reportase investigatif untuk mengimbangi keunggulan radio siaran, televisi siaran dan website berita. Tanpa harus mengurangi keberadaannya sebagai koran harian, diperlukan lebih banyak reportase investigatif untuk memenuhi dahaga publik yang haus dengan berita akurat dan mendalam.  

Saya sangat terkesan dengan warning Bondan Winarno bahwa media yang tidak mempunyai kemampuan investigatif, bersiap-siaplah untuk tersingkir dari cakrawala media Indonesia. Wartawan senior yang kenyang pengalaman dengan peliputan investigatif itu dalam beberapa kesempatan sering mengingatkan bahwa sebuah surat kabar kini tidak hanya bersaing dengan surat kabar lainnya, tapi juga dengan televisi, radio dan internet. Ketiga medium publik yang mengandalkan teknologi komunikasi berkecepatan tinggi dalam menyampaikan informasi ini membuat berita surat kabar yang baru bisa terbit keesokan harinya menjadi basi dan tak lagi disentuh pembaca, terutama khalayak yang sudah melek teknologi digital.  Artinya, apabila di era digital ini surat kabar hanya mengandalkan berita fakta an sich (stright news), ia pasti akan habis digilas para pesaingnya.  

Itu artinya, daya saing media cetak ke depan sangat tergantung pada pada kemampuannya menggali cerita di balik berita, mendalami fakta-fakta yang tersembunyi, memahami latar belakang peristiwa, proses dan riwayat sebuah fakta, menganalisis satu fakta dengan fakta lainnya, lalu menenunnya menjadi sebuah bangunan informasi (rekonstruksi) yang mendekati realitas sesungguhnya. Bondan Winarno menyebutnya sebagai putting all the information in the right contex (Santana:2003), agar pembaca memahami the big picture dari peristiwa atau fenomena yang sedang terjadi.  

Pada akhirnya, persaingan media cetak dengan televisi, radio dan media internet bukan melulu urusan kecepatan melaporkan berita, tapi  lebih dari itu adalah soal  kredibilitas informasi. Kepercayaan publik terhadap kebenaran dan keakuratan berita sebuah media menjadi taruhan utama. Dan kredibilitas media akan teruji dari kemampuannya menyuguhkan informasi-informasi yang bertumpu pada profesionalisme kerja jurnalistik dengan disiplin verifikasi dan pendekatan riset. Jurnalisme investigatif adalah kata kuncinya.   

Saya optimis, ke depan jurnalisme investigatif akan menjadi budaya baru dalam tradisi jurnalisme di Medan. Saat ini, kalangan NGO pers tengah menyemai benih-benih jurnalisme investigatif di kalangan jurnalis muda di daerah ini. Upaya membangun kesadaran baru untuk mengaplikasikan jurnalisme investigatif juga semakin intens di Medan melalui pelatihan-pelatihan, peluncuran buku dan forum-forum diskusi. Kelak akan ada masa di mana  jurnalis-jurnalis muda yang potensial dan profesional ini akan memimpin atau mengelola media di kota ini. Saat itulah, benih-benih jurnalisme investigatif yang telah bertahun-tahun disemai mulai mekar dan berkembang, menghiasi ruang-ruang suratkabar lokal Medan. Kapan persisnya, wallahualam. Yang jelas, proses ke arah sana akan berjalan secara alamiah.

Medan, 20 September 2007. Disampaikan pada Diskusi Bedah Buku “Investigasi untuk Media Cetak dan Siaran“, karya William C Gaines, 27 September 2007, di Medan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s