Home

 Oleh: Erwinsyah, Wapemred/Redpel Hr Medan Bisnis

Jurnalisme Sopir Angkot

Bagaimana kultur jurnalisme investigatif dalam sejarah surat kabar harian lokal di Medan dan apa-apa saja variabel yang menghambat perkembangannya? Pertanyaan ini menarik sebagai riset akademis. Saya sendiri tidak punya cukup kapasitas untuk melakukan analisis itu. Namun secara kasat mata, dari membaca beragam surat kabar harian terbitan Medan setiap hari di ruang redaksi, bolehlah saya berasumsi bahwa era reformasi yang memunculkan eforia kebebasan pers tidak banyak berarti mendorong terbangunnya jurnalisme investigatif. Sulit sekali menemukan media mainstream di kota ini yang giat menyajikan reportase investigatif. Alih-alih laporan investigatif, pembaca pun jarang disuguhkan dengan sajian in-depht reporting 

Ruang publik di koran lokal Medan masih dijejali dengan dominasi berita-berita berpola stright news atau—meminjam istilah Carl Jensen (Q-Press; 2006)—berita-berita ala makanan cepat saji. Saya lebih suka mengistilahkannya sebagai “jurnalisme sopir angkot”.  

Sopir angkot memiliki karakater membawa kendaraan dengan grusah-grusuh; tergesa-gesa,  saling kebut dengan angkot lainnya dan acapkali melanggar rambu lalulintas; bahkan cenderung ceroboh dan kerap menyeruduk kendaraan lain di depannya. Karakater itu muncul karena sang sopir terbebani dengan target setoran harian yang dituntut oleh juragan angkot.  

Mengamsal pada sopir angkot, wartawan koran harian juga berkeja cenderung grusah-grusuh. Target setoran dua-tiga berita per hari dan diburu deadline menjadi pola kerja sehari-hari. Budaya kerja ini menghasilkan produk jurnalisme yang tergesa-gesa, sehingga produk berita yang dihasilkan cenderung mengabaikan verifikasi dan menabrak etika jurnalistik. Artinya, sang wartawan hanya memungut fakta apa adanya atau merekonstruksi fakta dengan sekadar mengutip omongan orang (talking news). Celakanya, fakta yang diperoleh sering sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan, sehingga subjek berita yang terzalimi melakukan kontra-opini melalui somasi sampai gugatan pidana dan perdata. 

Dengan budaya kerja jurnalisitik yang grusah-grusuh, maka produk jurnalisme yang  muncul di koran lokal Medan dalam memberitakan skandal, kejahatan atau penyelewengan adalah model jurnalisme sensasional, jurnalisme gosip, jurnalisme pembusukan atau fitnah (libel jurnalism).  

Cover both side acapkali diartikan cukup dengan memberi kesempatan kepada objek pemberitaan atau masing-masing pihak yang menjadi subjek berita untuk berbicara. Sempitnya tenggat waktu penerbitan menjadi alasan yang dimahfumi untuk menunda kewajiban verifikasi (uji informasi). Pola kerja jurnalisme yang ideal, yakni check and richeck, cross check, multi check, observasi, riset dokumen dan konfirmasi cenderung diabaikan. Yang penting, beritakan dulu. Kalau pihak yang diberitakan tak sempat diwawancarai karena dikejar deadline, masih ada kesempatan dalam follow-up berita esok harinya. Di ruang redaksi, semua itu merupakan konvensi dan tumbuh menjadi tradisi. 

Bermasalah di Tiga Lini 

Tidak terbangunnya kultur jurnalisme investigatif di media lokal Medan, bisa ditelisik dengan pendekatan analisis terhadap komitmen masing-masing lini strategis di institusi media, yakni wartawan, penangung jawab redaksi, dan pemilik media.  

Di lini wartawan, problem terbesar menurut saya adalah minimnya ketersediaan sumber daya  manusia yang  memiliki semangat dan keterampilan sebagai jurnalis penyidik (investigator). Minimnya jurnalis yang berkarakter penyidik bisa jadi disebabkan proses awal rekrutmen dan penyaringan jurnalis yang tidak ketat, terutama dalam psikotest menyangkut kegigihan, keberanian (nyali), kepercayaan diri, kecerdasan dan ketekunan.  

Mencari SDM jurnalis yang tidak saja bisa menulis tapi juga memiliki karakter investigator sebenarnya bukan sesuatu yang sulit. Persoalannya, bekerja di media lokal yang umumnya memberikan gaji rendah bukanlah sesuatu yang menarik bagi banyak pencari kerja jebolan perguruan tinggi. Artinya, syarat-syarat keunggulan untuk mendapatkan seorang wartawan yang berbakat menulis, berkepribadian tangguh dan memiliki integritas tinggi, tidak berbading lurus dengan tingkat upah yang diberikan.   

Namun dari banyak jurnalis-jurnalis muda yang menganggap pekerjaan wartawan sebagai pilihan akhir, sedikit di antaranya masih ada yang serius menekuni dunia jurnalistik dan memiliki komitmen idealisme yang terjaga.  Mereka tidak saja sangat mobile dalam memburu berita, tapi juga sangat antusias mengikuti perkembangan dunia jurnalistik baik melaui forum-forum diskusi maupun melalui internet. Pelatihan-pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan NGO pers umumnya disikapi pula sebagai sebuah kesempatan emas mengembangkan reputasi. Sebut saja misalnya, training jurnalisme investigatif.  

Keikutsertaan jurnalis mengikuti jurnalisme investigatif hanyalah sebuah awal membangun semangat jurnalisme membongkar kejahatan dengan disiplin verifikasi. Sayangnya, keterampilan yang diperoleh sang jurnalis dari hasil training yang intensif belum sepenuhnya bisa diimplementasikan di medianya. Persoalannya ada pada tataran kebijakan redaksi.  

Bagaimana kebijakan redaksi dan apresiasi top manajemen redaksi terhadap jurnalisme investigatif bisa dipahami dari tinjauan historis. Saat ini, banyak media lokal di Medan tidak memiliki editor atau pemimpin redaksi yang menjadi panutan dan teman diskusi dalam membedah isu-isu jurnalisme investigatif. Ini bisa dimahfumi, karena mereka yang menjadi editor atau pemimpin redaksi saat ini dulunya adalah wartawan-wartawan lapangan yang gigih namun sangat tertekan oleh rezin orde baru (Orba) yang represif. Seperti kata Stanley, akibat rezim yang kian represif, selama puluhan tahun wartawan Indonesia terlanjur tak terbiasa dengan pola penyelidikan. (Gaines: 2007).  

Meski kini rezim represif sudah berakhir, namun kebebasan pers yang menjadi salah satu agenda politik rezim reformasi tidak serta merta memompa adrenalin pengelola media massa lokal di Medan untuk mengusung jurnalisme investigatif. Itu terindikasi dari tidak tersedianya waktu yang longgar dan ruang bagi wartawan untuk meliput dan menyuguhkan laporan investigatif.  

Di ibukota RI, Jakarta, berapa media nasional memang sudah memulainya. Majalah berita mingguan Tempo bahkan menyediakan ruang atau rubrikasi investigatif dan tim khusus investigasi.  Surat kabar nasional terbitan ibukota seperti Media Indonesia dan Kompas sesekali juga menurunkan reportase investigatif.  

Penggiat pers Hasudungan Sirait bilang, wartawan yang berkerja di media-media besar seperti Tempo dan Media Indonesia, sedikit beruntung dibanding wartawan media daerah. Di media-media besar itu, umumnya mereka mempunyai tradisi investigasi yang dibangun oleh editor berpengalaman sebagai wartawan investigator pada masa orde baru, sehingga pengalaman itu bisa ditularkan dan menjadi panutan wartawan-wartawan mudanya. Editor atau pemimpin redaksi yang men-support  reportase investigatif itu umumnya berasal dari eks majalah yang sudah almarhum seperti Tempo, Editor dan Tajuk. Beberapa media televisi nasional yang memiliki program liputan investigasi, umumnya juga digawangi oleh orang-orang yang memiliki pengalaman liputan investigasi atau setidaknya telah mendapat bekal pelatihan jurnalisme investigatif, seperti produser di Metro Realitas (Metro TV), Sigi (SCTV), Investigasi (Trans TV), dll.  

Intinya, sikap moderat, progresivitas dan kemauan moral penangung jawab redaksi cukup memiliki andil dalam menghidupkan ruh jurnalisme investigatif di ruang redaksi. 

Kendala lain yang tidak mendorong terbangunnya kultur jurnalisme investigatif di Medan adalah komitmen perusahaan atau pemilik media dalam mengalokasikan anggaran liputan, in-house training dan  kemauan moral.  

Seperti halnya in-depth reporting, reportase invesigatif masih dilihat sebagai produk jurnalisme yang mahal alias barang mewah. Sementara setiap pemberitaannya cenderung mengundang risiko besar, sehingga tidak aman bagi keberlangsungan hidup media. Karena itu pula, reportase investigatif dan peningkatan kompetensi wartawan melalui in-house training jurnalisme investigatif dianggap belum merupakan hal yang urgen. Alih-alih menyelenggarakan sendiri, meng-up grade keterampilan jurnalisnya untuk mengikuti training jurnalisme investigatif yang diselengarakan oleh pihak luar pun, perusahaan media masih enggan atau setengah hati. (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s