Home

Oleh: Erwinsyah 

Wapemred/Redpel Hr Medan Bisnis

Dalam sebuah training jurnalisme investigasi di Jakarta belum lama ini, wartawan Majalah Tempo Metta Dharmasaputra yang tampil sebagai pembicara tamu mengisahkan pengalamannya dalam membongkar kasus dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agrie Group (AAG). Atas dukungan pemimpin redaksinya, ia terbang ke Singapura untuk melakukan pertemuan rahasia dengan saksi kunci, Vincentius Amin Sutanto alias Vincent.

Pertemuan memang harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan ekstra hati-hati, sebab Vincent sendiri selaku financial controller AAG yang menjadi tokoh kunci dalam skandal pajak di perusahaan perkebunan sawit terbesar di Indonesia itu pada saat yang sama juga merupakan buronan Polri dalam kasus pembobolan rekening AAG senilai US$ 3,1 juta. Metta perlu beberapa hari di Singapura untuk melakukan wawancara, observasi dan mempelajari dokumen-dokumen pajak AAG yang diberikan narasumbernya, sebelum kemudian bertolak ke Hongkong untuk mengendus lebih jauh jejak aliran dana hasil penggelapan pajak AAG di negeri koloni Inggris itu.

Berapa besar dana yang harus dikeluarkan Tempo untuk menghasikan sebuah karya jurnalisme investigatif itu; mulai dari ongkos pesawat terbang sampai biaya akomodasi wartawannya selama beberapa hari di luar negeri? Metta tak menyebut angka, tapi sipapun bisa mereka-reka bahwa angka Rp 10 juta terlalu kecil untuk urusan perjalanan investigasi semacam itu.

Dana yang dikeluarkan Tempo untuk reportase membongkar skandal pajak itu sebenarnya belum berarti apa-apa dibanding perkiraan besaran anggaran liputan yang harus dikorbankan sebuah radio siaran di Amerika Serikat saat menugaskan wartawannya, Kelly McEvers, untuk membongkar keterlibatan aparat keamanan Rusia di balik peristiwa berdarah (peledakan gedung sekolah) dalam insiden penyanderaan sebuah sekolah di Beslan oleh militan Cechnya pada tahun 2004. Mantan wartawati BBC berparas cantik itu butuh waktu enam bulan untuk menuntaskan hasil investigasinya, yang membuktikan bahwa pemerintah Rusia bertanggung jawab atas tewasnya 300 orang sandera, di antaranya 186 anak-anak.

Meski tak menyebut besaran anggaran liputan selama berbilang bulan menetap di Rusia, Kelly mengaku institusi medianya memberi anggaran terbatas. Karena itu, saat anggaran dari kantor dihentikan ketika investigasi belum tuntas, Kelly mengaku rela mengorbankan penghasilannya sebagai wartawan dan penulis lepas. Ia bukan cuma berkorban secara materil, tapi juga pengorbanan moril. Itu dibuktikannya ketika nekat mengendap dan menembus blokade penjagaan tentara Rusia di perbatasan Rusia-Chechnya. Aksinya itu dipergoki dan selama tiga hari dia diinterogasi dan mendekam dalam tahanan militer karena dicurigai sebagai mata-mata. Kelly akhirnya merasa pengorbanan materi dan keletihan moril itu “terbayarkan” manakala reportase investigasinya disiarkan dan banyak media mengagumi hasil investigasinya yang cemerlang.

Bertolak belakang dengan dua kisah di atas adalah pengalaman yang pernah dihadapi beberapa wartawan dari sebuah koran lokal di negeri ini. Ceritanya, tim indepht reporting diturunkan ke beberapa daerah. Tapi persoalan serius muncul ketika tim liputan menyodorkan anggaran ke pemimpin redaksi. Meski anggaran masih di bawah Rp 700 ribu, namun institusi media keberatan dan menganggap liputan mendalam bukan sesuatu yang urgen.

Setelah melalui diskusi argumentatif yang alot, akhirnya anggaran yang disetujui pihak managemen hanya Rp 500 ribu. Itu pun disertai pesan dari top management agar liputan mendalam tidak sering-sering dilakukan. Alasannya, selain perusahaan media harus menghemat pengeluaran, tenaga wartawan juga masih lebih dibutuhkan untuk mengisi rutinitas breaking news dan berita berkala yang sangat ketat dengan disiplin deadline. Artinya, liputan mendalam yang menuntut wartawannya untuk bekerja kerja full time selama berbilang pekan dikhawatirkan dapat menggangu ritme kerja redaksi yang sudah terbiasa dengan tradisi mengejar target setoran berita.

Ada juga banyak pengalaman wartawan lainnya yang tak memerlukan biaya besar dan waktu yang tidak terlalu lama dalam membuat laporan mendalam ataupun reportase investigatif. Namun tidak jarang pula hasil liputan batal dilaporkan ketika bertabrakan dengan kepentingan pemilik media. Atau kalaupun dilaporkan, diupayakan sedemikian rupa agar kepentingan pemodal maupun mitra bisnisnya jangan sampai terusik. Laporan yang kekurangan daya kritis ini diakui pernah dihadapi oleh mantan Koordinator Tim Investigasi Majalah Tajuk, Dadi Sumaatmadja. Ceritanya, hasil investigasi sudah cukup matang dalam membongkar ketidakberesan dalam pengumpulan dana Sea Games melalui stiker. Berita itu tidak jadi diturunkan, karena pemilik media tidak berkenan dengan pemberitaan itu, sebab yang menjadi penyandang dana Sea Games antara lain Bambang Trihatmojo, rekan bisnis owner Tajuk. (Dadi Sumaatmadja:2005).

Beragam cerita di atas sesungguhnya ingin menegaskan bahwa dibutuhkan komitmen yang kuat untuk bisa membangun tradisi jurnalisme investigatif. Komitmen itu tak cukup datang dari wartawan, tapi juga dari penangung jawab redaksi dan pemilik media.

Wartawan, penangung jawab redaksi dan pemilik media adalah sebuah satu kesatuan sistem dalam menentukan terbangunnya tradisi jurnalisme investigatif. Kelemahan komitmen di salah satu elemen, akan meruntuhkan bangunan jurnalisme investigatif.

Di level wartawan, media tidak hanya membutuhkan calon-calon investigator yang ulet dan gigih dalam menembus berita, detil dan tajam dalam wawancara, tekun dan teliti dalam melakukan observasi, atau cermat dalam cerdas dalam memungut dokumen dan merangkai fakta-fakta, tapi lebih dari itu adalah komitmen pada integritas. Tanpa kejujuran, independensi, dan idealisme, sia-sialah membangun jurnalisme investigatif. Integritas adalah fondasi yang menyanggah bangunan jurnalisme investigatif. Manakala pondasinya lemah, ambruklah seluruh bangunan itu.

Tersedianya sumber daya wartawan investigatif yang memenuhi seluruh persyaratan di atas, tidak serta merta menumbuhkan tradisi jurnalisme investigatif di ruang redaksi. Kebijakan redaksi sangat menentukan tersedianya ruang dan waktu bagi terbangunnya jurnalisme investigatif. Untuk itu, diperlukan komitmen penangung jawab redaksi yang mendorong tumbuhnya tim khusus investigasi, melepaskan wartawan investigasi dari kewajiban target setoran berita harian atau berkala, ketersediaan ruangan atau rubrikasi bagi reportase investigatif, dan kesiapan moral untuk ikut bertanggung jawab atas risiko penyiaran laporan investigatif.

Wartawan investigatif dan penangung jawab redaksi yang investigative minded, hanyalah fondasi dan tembok dalam bangunan jurnalisme investigatif. Pada akhirnya diperlukan kubah atau atap bangunan yang berfungsi sebagai pemberi perlindungan dan kenyamanan dari cuaca panas, dingin atau hujan. Kubah itu adalah pucuk pimpinan tertinggi (pemimpin umum) atau pemilik media. Komitmen dari elite perusahaan ini antara lain konsistensi dalam pengalokasian anggaran liputan investigatif (financial support) dan sikap tidak mengintervensi terlalu jauh newsroom management.

Beranjak dari komitmen sistemik dari tiga elemen penting redaksi itu, pertanyaannya kemudian adalah di mana tempat jurnalisme investigatif dalam kultur redaksi surat kabar harian di Medan? Bagaimana sesusungguhnya tradisi dan nilai-nilai jurnalisme yang berkembang di kota ini? Dan mengapa penting bagi surat kabar harian lokal di daerah ini untuk menghidupkan jurnalisme investigatif? (Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s