Home

Oleh: Mas Khairani, Wartawan Medan Bisnis

Pengantar: Mas Khairani adalah salah seorang jurnalis Peserta “Pelatihan Jurnalisme Damai Liputan Reintegrasi Aceh Damai”, yang ToR Liputannya memperoleh dukungan pendanaan dari KIPPAS – Uni Eropa. Tulisan ini dimuat di Harian Medan Bisnis, edisi 1 Oktober 2007.

 Langit  mendung. Sejak pagi hujan turun. Loket CV Mentari yancv-mentari.jpgg beralamat di Jalan Gajahmada nomor 34 Medan itu, terlihat masih sepi. Hanya ada tiga orang dalam ruang kantor, Meli, dan kedua Temannya. Ketiga remaja itu, terlihat asik bersenda gurau. Tawa mereka sesekali meledak. Sesaat kemudian,  senda gurau yang menggunakan bahasa Aceh, berlanjut kembali. Rasa kantuk akibat mendung pun menjadi sirna.

Meli tetap setia menanti kedatangan pemesan tiket. Dia duduk di sebuah kursi plastik dekat meja, persis di sebelah kanan pintu masuk kantor. Sesekali, telepon berdering. Kali ini, dia menyambut suara di seberang sana dengan bahasa Indonesia yang kental dengan aksen Aceh. Sementara, tangan kanannya sibuk mencoret-coret secarik kertas pesanan tiket dengan sebuah pulpen bertinta hitam. Beberapa menit kemudian, gagang telepon diletakkan kembali.  

Penjualan Meningkat

Belia berumur 17 tahun yang kini duduk di kelas 2 salah satu SMA di Kota Medan itu, menyongsong kedatangan Medan Bisnis (MB) dengan pertanyaan. “Mau berangkat ke mana, Kak?” Meli menjelaskan kalau loket biasanya ramai mulai jam dua sore. Sedangkan jam di hari kedua September 2007 ini, masih menunjukkan pukul 11 siang.

Seseorang tiba-tiba memanggilnya dari rumah makan yang bersebelahan dengan ruang loket. Dia tak harus berjalan ke pintu samping untuk memenuhi panggilan itu. Ada pintu yang menghubungkan kedua ruangan. Sekitar 10 menit kemudian, dia kembali duduk di posisinya semula dan mengangkat telepon yang berdering sekali lagi.

Di menit berikutnya, dia mulai punya waktu bercerita. “Loket ini, baru satu tahun setengah di sini.” Sebelumnya, CV Mentari berada di seberang jalan yang juga masih di Jalan Gajahmada.

Dulu, usaha itu milik seorang teman ayah Meli. Ayah Meli, Edi, sejak lama berprofesi sebagai  sopir Medan-Banda Aceh. “Kata Ayah, Aceh sudah aman.” Tidak ada lagi razia keluar masuk tanah rencong. Maka, sejak Aceh damai, ayah Meli meneruskan usaha di bidang transportasi itu.

Ayahnya memperkirakan masa depan usaha mereka bakal cerah. Soalnya, ketika konflik masih berlangsung, jumlah sewa yang menggunakan jasa CV Mentari tidak seramai sekarang. “Sesudah Aceh aman, penumpang kami meningkat hampir 100%,” ungkap Meli.      

Penumpang lebih ramai lagi menjelang lebaran. “Puncaknya beberapa hari sebelum lebaran,” katanya. Pas liburan sekolah juga banyak yang pakai jasa mereka.  Jika hari-hari biasa seperti sekarang ini, “kadang banyak, sering juga sedikit,” akunya.

Dia menunjukkan peta kursi dalam satu unit L-300. Setiap mobil 12 kursi. Yang diberi tanda pakai pulpen, berarti penumpang diberangkatkan dari terminal. Para penumpang bisa membeli tiket langsung ke loket atau lewat telepon. Tiket-tiket seperti itu, katanya, pakai asuransi. Untuk penumpang yang naik dari tempat lain, misalnya naik di pinggir jalan, “nggak pake asuransi.” Kwitansi pembayarannya lain lagi. Meli menunjukkan contoh lembaran kwitansi yang tidak menggunakan asuransi.  

Layanan Khusus

Servis CV Mentari juga memberikan pelayanan khusus buat penumpang line jauh. Ada servis antar jemput. Tetapi, yang perjalanannya hanya sampai Kuala Simpang atau Langsa, “kalau antar jemput juga, hitungannya jadi rugi,” kata Meli lagi. Mereka biasanya datang sendiri ke loket atau naik di pinggir jalan.  

Servis-servis seperti ini, bukan hanya dilakukan CV mentari. Unit-unit jasa angkutan lain juga melakukan hal yang sama. Sebutlah semisal CV Abdya Travel bertrayek Tapak Tuan, Blang Pidie, Meulaboh, dan Banda Aceh yang beralamat di Jalan Laksana nomor 33 Medan. Para penumpang yang memesan tiket keberangkatan, dijemput di lokasi tinggal kemudian diantar sampai ke tujuan.

Sedikit berbeda dengan pelayanan yang diberikan unit jasa angkutan Kurnia Anugerah Pusaka Group. Bagi penumpang yang jarak tempat tinggalnya jauh dari loket utama jasa angkutan group yang beralamat di Jalan Binjai Medan, loket pembantu di Jalan Gajahmada Medan, bisa menjadi tempat transit. Soalnya, pihak perusahaan menyediakan layanan mobil antar ke loket utama.

“Ini mini bus untuk ke arah Kampung Lalang (red: loket utama Kurnia Anugerah Pusaka Group) sana. Bukan brangkat langsung ke Aceh,” terang Farizal, penumpang yang bakal berangkat ke Takengon, Aceh. 

Dari Jalan Gajahmada, para penumpang diantar dengan minibus ke Jalan Binjai. Dimualai dari titik inilah bus besar akan mengangkut seluruh penumpang sampai ke terminal atau loket masing-masing daerah yang dituju. 

Berharap Tetap Aman

Jika CV Mentari mencatat terjadinya kenaikan penumpang usai konflik, CV Kurnia beda. Angkutan umum berbadan bongsor (bus besar) itu, tak merasakan adanya kenaikan angka penumpang. “Sama saja dulu dengan sekarang,” ungkap petugas tiket CV Kurnia, Taufiq Aiyub. Tetapi, katanya, bagian ekspedisi mengalami peningkatan hingga 25%.   

Meski buah dari perdamaian Aceh tak membuat keuntungan CV Kurnia menanjak, Taufiq merasa kalau aman seperti saat ini jauh lebih baik ketimbang terus-terusan berperang. Begitu juga dengan keinginan Agam, pencatat ekspedisi CV Kurnia yang mangkal di loket Gajahmada. “Ngapain ribut-ribut. Aman begini, kan bagus.”Grafik Abdya Travel tak jauh beda dengan dokumen penumpang dan ekspedisi CV Kurnia. Menurut pengakuan salah seorang tiketing bernama Sari Siregar, Abdya Travel tak mengalami perubahan berarti pasca konflik Aceh.

“Mau konflik atau tidak, jumlah penumpangnya sama saja,” ungkap Sari dengan nada cuek. Namun, katanya, untuk bagian ekspedisi atau pengiriman barang, angkanya menunjukkan tren yang meningkat dari hari ke hari.

Seperti pada suatu malam di minggu ke tiga September, masih tahun ini. Abdya Travel sedang memuat barang ke sebuah pick up. Bak mobil pengangkut barang itu, dipenuhi barang yang dibungkus dengan goni bermuatan super jumbo. Ada juga menggunakan kotak kardus. Bahkan, satu unit sepeda motor pun terlihat sudah dipacking, tetapi masih dicagak persis di samping pick up. Sementara, barang-barang yang belum dimuat, bertebaran di lantai dasar gedung bertipe ruko itu.

Tinggi susunan barang malah mencapai tiga meter. Seutas tali nilon sebesar jemari orang dewasa mulai diikatkan pada bibir-bibir bak untuk menahan barang agar tak jatuh. “Sebentar lagi mo brangkat,” terang seorang pemuda berperawakan Aceh.

Di samping kanan pick up, mini bus terakhir untuk malam itu sudah berisi penumpang. “Yang ini, untuk pengangkut orang. Sebentar lagi juga mo brangkat,” terang pemuda itu lagi. Dia menunjukkan sopir mini bus yang bakal mengemudikan L 300 itu. Adi namanya. 

Adi sudah sembilan tahun menjadi sopir di usaha jasa angkutan itu. Dalam amatannya, angin damai aceh membuat jumlah penumpang semakin ramai. “Kenaikan jumlah penumpang, bisa dibilang 90%-lah,” katanya.

Warga Aceh yang berasal dari Blang Pidie ini, mengaku setelah aceh aman, perjalanan ke bumi serambi menjadi lebih menyenangkan. Di sepanjang jalan, tidak ada lagi pungli. “Pokoknya, mobil masuk ke wilayah aceh, sepanjang jalan sampai Banda Aceh sana, tidak ada lagi pungli. Semoga Aceh aman terus,” ungkapnya bersemangat. 

Hanya saja, yang membuatnya kecewa, meski mobil yang dibawanya berflat Sumut, di beberapa tempat sebelum memasuki wilayah Aceh, “banyak pungli,” imbuhnya manahan geram. “Mau makan apa kami lagi kalau mobil yang dibawa distop-stop saja, trus dimintai uang,” keluhnya. Adi berharap jangan ada lagi pungli. “Mengapa Aceh yang baru saja aman bisa tanpa pungli,” gugahnya.                          

One thought on ““Berkah dari Aceh Damai”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s