Home

Sumber: Harian GLOBAL

Saturday 29 September 2007

Investigatif reporting adalah “barang baru” yang tidak baru bagi pers Indonesia.27092007333.jpg Walau tak asing bagi telinga jurnalis dalam negeri, namun pada hakikatnya investigatif reporting sejati belumlah terlaksana dengan sempurna.

Berbagai persoalan yang terjadi di dalam negeri belum tergali sempurna dalam sajian berita dan tulisan jurnalistik di berbagai media massa nasional, apalagi media lokal di daerah. Persoalan yang sering terjadi adalah ketidakakuratan informasi yang diterima dan tanpa dukungan dokumen serta data yang bernilai penting untuk ditulis.

Persoalan lainnya, dasar-dasar jurnalisme serta keterampilan sebagai jurnalis belumlah mendarah daging bagi insan pers Indonesia umumnya. Umumnya hanya mengandalkan kebiasaan menulis di media massa. Hasilnya, banyak berita yang disajikan seadanya saja dengan muatan isi yang hanya menyentuh kulit luar persoalan.

“Kebiasaan jurnalis mengutip ucapan pejabat atau narasumber tanpa mengonfirmasi dan mengkroscek data serta menggali inti persoalan dari banyak sumber. Atau lebih memilih menulis ulang rilis pers… Ini kami sebut dengan istilah jurnalisme beo,” ucap Sherry Ricchiardi, penulis senior untuk American Journalism Review.

Memahami kondisi tersebut, ISAI dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat melakukan serangkaian kegiatan peluncuran dan bedah buku “Laporan Investigasi untuk Media Cetak dan Siaran. Sebuah buku terjemahan dari judul asli “Investigatif Reporting for Print and Broadcast” karangan William C Gaines, seorang jurnalis peraih dua kali penghargaan Pulitzer untuk kategori investigatif reporting. Yang setidaknya bisa memberikan semacam sekelumit “pencerahan” bagi para jurnalis tentang investigatif reporting.

Acara workshop di Medan, yang bekerja sama dengan Kippas (Kajian Informasi, Pendidikan dan Penerbitan Sumatera), berlangsung Kamis (27/9), di Novotel Soechi Jalan Cirebon No 76A Medan.

Pada workshop yang berlangsung dari pukul 10 WIB-13 WIB itu, empat narasumber dihadirkan. Tiga di antaranya jurnalis Indonesia yang punya pengalaman dengan investigatif reporting yakni Ayi Jufridar (Jurnal Nasional), Eddy Iriawan (Indosiar) dan Andre Taufandan (Radio Cindy FM Langsa) serta Sherry Ricchiardi (dosen investigatif reporting di Indiana University School of Journalism, juga spesialis isu internasional).

“Sherry Ricchiardi pernah memenangkan penghargaan National Press Club untuk karyanya dalam mengkritisi dunia pers, termasuk tulisannya mengenai kekerasan yang terjadi pada jurnalis di Tepi Barat Libanon, Afganistan, dan Irak,” terang Edward HP Sinaga, Program Manajer Kippas.

Pada intinya, mereka menekankan bahwa peliputan jurnalistik apalagi investigatif reporting memang harus dilakoni untuk mengungkap “borok” yang selama ini jarang “dikupas” media secara akurat. Sebuah investigatif reporting memang harus membumi dan dilakoni para jurnalis yang memang ingin mendedikasikan profesinya bagi kepentingan publik yang berpihak pada kebenaran sebuah realita.

Usai Workshop, acara dilanjutkan dengan kegiatan bedah buku dan peluncuran buku “Laporan Investigasi untuk Media Cetak dan Siaran”. Yang dibedah oleh pembahas utama Sherry Ricchiardi dan Erwinsyah (Wapemred/Redpel Harian Medan Bisnis). Menurut Edward, Workshop tersebut mengundang sekitar 25 jurnalis di Medan, sementara untuk acara buku yang dirangkai dengan buka bersama itu, mengundang 200-an peserta.

Evin Bakara >> Global | Medan

One thought on “Membumikan Investigasi bagi Jurnalis

  1. Pingback: tugas uts « Pinkprincessofme’s Weblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s