Home

Medan Bisnis, Sabtu, 06-10-2007
 

Oleh Freddy Nababan
Dalam suatu kesempatan, penulis merasa beruntung mendapatkan sebuah undangan menghadiri acara diskusi bedah buku Investigasi untuk Media Cetak dan Siaran, karya seorang jurnalis kawakan asal Amerika Serikat, William C Gaines, pada 27 September lalu di Hotel Soechi International, Medan. Forum diskusi ini dihadiri oleh sejumlah jurnalis senior Kota Medan, para redaktur dan jurnalis media cetak dan siaran yang ada di kota ini.

Forum diskusi dan bedah buku itu sendiri membahas perkembangan dan isu-isu termutakhir seputar jurnalisme investigatif di Indonesia umumnya dan Kota Medan khususnya. Dibahas pula sudah sampai sejauh mana kultur jurnalisme investigatif diimplementasikan di kota ketiga terbesar di Indonesia ini, terhitung sejak bergulirnya era reformasi yang diawali oleh lengser ke prabon-nya rezim kekuasaan otoriter Orde Baru pada 1997. Komparasi ini penting dilakukan sebab selama kurun waktu kurang lebih 32 tahun Indonesia dicengkeram oleh sebuah rezim yang absolut, otoriter dan represif, yang membatasi dan mengontrol dengan ketat pergerakan kehidupan pers di Indonesia. Sebagai imbasnya, terjadi pemasungan akan idealisme murni para insan pers di tanah air dalam mengekspresikan karya-karya jurnalistik mereka.
Hasilnya adalah pers “banci” yang hanya menampilkan berita-berita alakadarnya yang bersifat breaking news, straight news, dan “pesanan”, yang hanya menyenangkan segelintir pihak-pihak tertentu, umumnya penguasa, pengusaha dan para kroni-kroninya. Pers tidak berkutik dan berdaya menghadapinya. Sebab jika berani mengusik sanksi yang berat menanti di depan mata dan tak tanggung-tanggung, yaitu berupa pembredelan. Telusuri kasus Tempo yang menginvestigasi kasus pembelian kapal perang bekas Jerman Timur. Hal yang kemudian memicu kontroversi di antara sesama pejabat negara ini akhirnya berbuntut pembredelan majalah bersangkutan. Begitu juga dengan yang terjadi terhadap majalah Tajuk dan Editor. Akibatnya adalah hak publik untuk mengetahui apa, siapa dan bagaimana cerita di balik peristiwa menjadi ternihilkan.
Di Amerika Serikat sendiri berita-berita yang mengetengahkan laporan-laporan investigatif selalu diburu dan ditunggu oleh publik. Publik begitu haus dan sangat menanti berita-berita bergenre investigatif ini. Itulah sebabnya mengapa berita-berita yang mengupas investigasi ini selalu menempati rangking teratas pilihan pembaca. Bahkan para jurnalis yang menempati posisi jurnalis investigatif ini dipandang lebih prestisius ketimbang jurnalis lainnya.
Pekerjaan investigasi jika dianalogikan identik dengan pekerjaan seorang detektif/intel. Seorang detektif/intel memulai pekerjaannya dengan hal-hal yang kecil/sederhana. Ia mencari dan mengumpulkan bukti-bukti permulaan yang ringan untuk kemudian secara berangsur-angsur meningkat hingga akhirnya mendapatkan bukti/petunjuk besar guna menuntaskan pekerjaannya, begitu juga dengan peliputan investigasi yang dilakukan oleh seorang jurnalis investigator. Mereka sam-sama melakukan proses penyamaran (undercover), terjun ke lokasi yang berbahaya (hot spot), mengumpulkan informasi (collecting data), mewawancarai sumber (interviewing), dan menyimpulkan (concluding) semua temuan data dan informasi menjadi sebuah rekonstruksi kejadian guna menemukan kebenaran sejati yang sesungguhnya terjadi. Menjadi seorang jurnalis investigatif tidak saja membutuhkan nyali, semangat pantang menyerah, kemampuan analisis masalah yang akurat, horison yang baik, jejaring yang luas, namun juga membutuhkan kemampuan dan keberanian untuk mengambil risiko (risk taking) dan mengeksekusinya. Untuk itu diperlukan komitmen, integritas dan kesungguhan hati dari sang investigator.
Lalu bagaimana sebenarnya perkembangan dan kemajuan jurnalisme investigatif di kota ini? Adakah hal itu sudah menjadi kultur sehari-hari pada media-media mainstream di daerah ini?
Berdasarkan amatan penulis, masih belum ada media mainstream di daerah ini yang “berani”dan mau mengembangkan tradisi jurnalisme penyidikan ini. Kebanyakan berita-berita yang ditampilkan adalah berita-berita yang bersifat breaking news, straight news, dan berita-berita konvensional lainnya. Malah di beberapa suratkabar terkesan berita-berita yang ditampilkan adalah berita berupa “pesanan” dari pihak-pihak tertentu demi kepentingan pribadi ataupun golongannya. Apa alasan di balik ini semua, penulis tidak tahu pasti.
Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dikatakan menjadi penyebab mengapa kultur jurnalisme investigatif tidak “bertindak” di kota ini. Pertama, keberadaan iklan.
Sudah sama-sama kita mahfumi bersama bahwa sekarang ini kebanyakan media di Indonesia terlebih di Medan khususnya, baik cetak maupun elektronik, berlomba mengejar pemasukan sebesar-besarnya dari iklan. Setidaknya bila dipersentasekan kurang lebih 70% pemasukan media-media itu berasal dari iklan. Dominasi dan “intervensi”iklan begitu kentara dan seakan-akan menjadi satu-satunya urat nadi kehidupan bagi eksistensi industri pers. Pahitnya bisa dikatakan No Advertisement, No News. Bahkan saking menggiurkannya “kue” iklan ini ada satu media yang khusus menayangkan iklan saja sebagai jualannya, dan jelas hal ini sebenarnya telah melanggar ide-ide dasar sebuah media, di mana media adalah penyampai berita bukan iklan semata.
Artinya, industri pers sekarang benar-benar sudah mengadopsi dan menyerap bulat-bulat prinsip-prinsip kapitalisme, yang bereinkarnasi menjadi kapitalisme media, di mana uang (kapital) adalah tujuan terutama yang hendak diraih dan dicapai. Meminjam istilah Saudara Erwinsyah, iklan sekarang adalah tuhan bagi industri pers, iklanlah yang harus dipuja-puja.
Kalau sudah begini jangan harap idealisme murni para insan pers yang ingin menyuarakan kebenaran dan fakta apa adanya kepada publik sebagai pembaca dapat terpenuhi dan tersalukan sebagaimana mestinya. Karena hal ini pasti akan mendapat resistensi dari penanggung jawab redaksi dan owner media yang menganggap liputan investigatif tidak merupakan keharusan (necessity), tidak urgent dan cenderung berisiko besar. Ini dikarenakan liputan investigasi di satu sisi bisa membuat orang yang menjadi objek penyidikan “kebakaran jenggot”, sementara di sisi lain pembaca atau pemirsa merasa mendapatkan informasi terkini yang “terselubung” yang mungkin selama ini tertutupi. Seorang jurnalis Chicago, Finley Peter Dunne, menyebut pekerjaan investigasi sebagai sebuah pekerjaan yang “menyenangkan orang susah dan menyusahkan orang senang”. Karena itu, alih-alih merestuinya, para penanggung jawab redaksi dan owner cenderung akan menolaknya, dan lebih memilih prinsip play safety.
Hal tersebut dilakukan guna memelihara relasi baik yang sudah terjalin sebelumya antara si penanggung jawab redaksi, owner media, mitra kerja dan pemasang iklan. Tidaklah heran apabila kita melihat banyak para jurnalis yang semula begitu idealis dan kritis dalam menjalankan profesinya, tiba-tiba berubah menjadi begitu permisif (taken for granted), pragmatis dan cenderung suka menempuh jalur singkat (short cut).
Kedua, kesejahteraan pekerja pers. Rendahnya tingkat kesejahteraan para pekerja pers juga menjadi penyebab mengapa para pekerja pers tersebut enggan terjun sebagai jurnalis investigatif. Memang benar masalah kesejahteraan bukan hanya domain industri pers semata. Namun bagaimana mungkin dengan pendapatan yang rata-rata masih di bawah UMR tersebut, seorang jurnalis merasa tertarik menjadi seorang jurnalis investigatif, yang notabene penuh dengan risiko. Tentu dengan nominal-nominal yang begitu rendah tersebut sulit bagi mereka untuk tetap menjadi jurnalis yang idealis, kritis, dan independen. Logika sederhananya adalah jika masalah “sejengkal perut” itu tidak bisa teramankan,bisakah kita berpikir dengan tenang? Jangan dulu kita berpikir kritis dan analitis.
Barangkali masalah tingkat kesejahteraan yang rendah inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa para lulusan perguruan tinggi banyak yang enggan menjadi seorang jurnalis. Kalaupun mereka memilih menjadi jurnalis, mereka ujung-ujungnya menjadi jurnalis amplop (wartawan amplop) dikarenakan desakan kebutuhan ekonomi. Bisa saja ini menjadi pro dan kontra dan tidak gampang untuk membuktikannya. Namun hal ini sudah menjadi rahasia umum.
Ketiga, masalah sumber daya manusia. Ketersediaan sumber daya manusia yang memadai menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pers yang concern terhadap peliputan investigatif. Menjadi seorang jurnalis investigatif (investigator) memerlukan keterampilan dan daya juang yang tinggi untuk dapat menembus berita dengan tingkat kesulitan yang juga tinggi. Perlu dilakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) menyangkut kegigihan, keberanian (nyali), keuletan, ketekunan, kepercayaan diri dan kecerdasan si investigator.
Keempat, masalah komitmen dan support dari penanggung jawab redaksi dan owner media. Dukungan moral dan moril berupa perlindungan hukum dan bantuan finansial dari penanggung jawab redaksi dan owner media sangat diperlukan guna mengembangkan kultur jurnalisme investigatif di kota ini.
Negeri ini adalah “ladang subur” bagi jurnalis-jurnalis muda yang investigative minded,terutama bagi para jurnalis mudanya. Negeri ini membutuhkan para jurnalis yang mau berkeringat dan bersusah payah membanting tulang untuk membongkar, membersihkan kotoran-kotoran yang ada di dalamnya untuk kemudian mengolah dan menyemai bibit-bibit kebenaran dan kebaikan di atasnya, yang pada akhirnya akan diperoleh panen kejujuran dan kemakmuran bagi bangsa dan negara kita tercinta. Semoga.
(Penulis adalah pemerhati sosial dan pengamat pendidikan bermukim di Medan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s