Home

Harian Medan Bisnis, Selasa, 18-09-2007 *mas khairani

Khusus buat jurnalis pemberani, ingat selalu pesan bijak berikut: Aku tahu apa yang kutulis, tapi aku takkan menuliskan semua yang kutahu (no name/nn).

Adakalanya, seorang jurnalis terjebak dengan laporan yang dituliskannya sendiri. Buat kelompok yang merasa img_2917-copy.jpgdimenangkan,-mungkin-laporan itu akan menjadi pemicu semangat berjuang. Namun, img_2924-copy.jpgbagaimana dengan pihak-pihak yang menjadi rival dalam objek pemberitaan?

Pada titik inilah seorang jurnalis perlu berhati-hati. Bisa jadi laporan itu dianggap telah merugikan pihak-pihak tertentu. Jangan karena salah menyusun kata, lantas badan yang merana.

Prinsip Hati-hati

Harus diakui, masing-masing informasi punya segmen pasar tersendiri. Sifatnya dinamis, mengikuti tren keinginan pembaca. Atau sebaliknya, pembaca yang tergiring mengikuti alur kebijakan redaksi sebuah media penerbitan.

Ketika redaksi mengamati sebuah kejadian di lapangan, polemik antar-kelompok misalnya, atau konflik yang membuahkan perang. Informasi ini menjadi sangat menarik karena dianggap bakal mendatangkan profit bagi perusahaan pers. Nilai beritanya lebih tinggi dibanding berita-berita lain. Tetapi, bila tak bijak-bijak menyusun laporan, bisa jadi sebuah media hanya menciptakan perang dalam perang.

Menanggapi soal ini, Redaktur Pelaksana Harian Medan Bisnis, Erwinsyah, mengamati, kepentingan pasar selalu mengalahkan idealisme jurnalis. Padahal, banyak sisi humanis yang bisa diangkat dari perang yang berlangsung yang juga bisa menaikkan oplah surat kabar. Liputan secara ekonomi, misalnya. “Bukankah perang hanya menimbulkan kemiskinan dan ketidakadilan?”

“Saya pikir, media jangan sampai memperkeruh suasana yang memang sudah kacau. Media bisa menggugah pihak bertikai lewat liputan-liputan ekonomi,” katanya.

Redaktur halaman NAD Waspada, M Zeini Zen, juga mengakui, konflik memang sangat menarik untuk dijual. Tetapi, menurutnya, ada cara lain yang lebih bijaksana hingga media tak perlu memperparah kondisi yang sudah keruh. Bahkan, informasi perang pun bisa disajikan tanpa harus merugikan pihak yang sedang bertikai.” Menurutnya, tampilan berita konflik yang berimbang harus memuat kedua belah pihak yang sedang bertikai. Bila pihak-pihak terkait sudah ditampilkan, “selanjutnya, biarkan pembaca yang akan menilai.”

Dia menceritakan, berita-berita polemik terkadang menjadikan media sebagai ajang berbalas pantun. Masalahnya, meskipun media sudah memberi porsi berbalas pantun, bukan berarti bisa memuaskan pembaca. Soalnya, tidak semua pembaca senang dengan model pemberitaan berbalas pantun. Malah, “mungkin pembaca pun bisa bosan dengan model pemberitaan seperti itu,” urainya. Trik dari Redaktur Pelaksana Harian Rakyat Aceh, Salamuddin, lebih keren lagi. Baginya, wartawan andal harus bandal. Tetapi, bukan berarti wartawan harus bertindak konyol. Perlu azas kehati-hatian menampilkan informasi berisiko tinggi.

Dalam Pelatihan Jurnalisme Damai untuk Liputan Reintegrasi di Aceh yang digelar KIPPAS bekerja sama dengan Uni Eropa awal September 2007 lalu, Salamuddin sempat berbagi pengalaman dengan 19 peserta insan pers yang berasal dari berbagai media asal Aceh dan Sumatera Utara. Beberapa tahun lalu, Harian Rakyat Aceh pernah menaikkan berita yang dianggap tidak berimbang. Pertimbangannya, berita itu penting untuk diketahui massa.

Keesokan harinya, kantor diperintahkan untuk dikosongkan. Karena kemungkinan bakal ada orang yang komplain dan mendatangi penulisnya. “Dan benar saja. Pihak yang merasa tidak senang dengan berita itu, datang. Tapi, di kantor sudah tidak ada orang,” kenangnya. Salamauddin dan teman-teman sekantornya tidak ke mana-mana. Hanya duduk di warung kopi depan kantor. Mereka menyaksikan sendiri kedatangan orang yang ingin komplain dengan berita itu. “Demi upaya penyelamatan wartawan, waktu itu kami memang terpaksa pakai trik kosongkan kantor,” terangnya.

Tetapi, berita tidak berimbang itu harus dilanjutkan. Konfirmasi berita wajib dicantumkan pada pemberitaan di hari berikutnya. Buat wartawan dan redaktur yang berurusan dengan informasi konflik, pesannya, sebaiknya perhatikan tulisan sebelum naik cetak. Misalnya, soal pilihan kata. Sedapat mungkin wartawan harus menghindari kata-kata yang menimbulkan multitafsir. “Terutama pada penulisan judul,” tegasnya. Satu hal lagi yang terpenting. “Ini buat redaktur. Amankah posisi penulis ketika tulisan berbau konflik naik cetak?” katanya. Soalnya, bila ada sedikit saja kata-kata yang kurang pas atau penyampaian yang dianggap tidak pada tempatnya, keselamatan wartawanlah yang terancam.

Menurutnya, 5 W + 1 H saja, tak cukup. Harus ada 1 S (security). Karena menaikkan berita konflik sama artinya dengan memilih risiko mati. Untuk pertimbangan tertinggi, “risiko keamanan wartawan menjadi problem terbesar bagi keputusan redaksi,” tambah Zeini. “Saya pikir, upaya penyelamatan lain untuk menampilkan informasi konflik, feature cukup menarik bila dijadikan sebagai salah satu solusi. Seperti meliput orang-orang yang berhasil keluar dari konflik, itu kan bagian dari liputan konflik juga,” sarannya.

Direktur KIPPAS, Janto, juga menyarankan, untuk pemberitaan reintegrasi, sebaiknya wartawan tidak perlu menyebutkan atribut, ciri-ciri, atau embel-embel dari narasumber. Semisal nama kelompok, TNI, mantan GAM, atau suku dan agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s