Home

Kisah bisnis mantan Inong Balee yang bangkit setelah konflik

mutia.jpg

MATA perempuan itu terus menatap layar handphone. Jari-jari tangannya gesit memijit tombol- tombol telepon. Bibir tipisnya kerap menebar senyum meski peluh membasahi wajah. Kulit jari-jari itu menebal, seperti terbiasa melakukan pekerjaan kasar.

Usianya 21 tahun. Mutia, demikian panggilan perempuan itu. Ia mantan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Desa Cot Keueung, Aceh Besar. Di daerah ini kerap terjadi kontak senjata selama konflik.

Tahun 2000, Mutia bergabung di bawah komando Teungku Abang, Panglima Sagoe Wilayah Cot Keueung Aceh Besar. Mutia diterima sebagai anggota pasukan Inong Balee. “Kebetulan saat itu mereka ada di kampung kami,” katanya kepada Aceh Magazine, Mei silam

Kala itu anak ketiga dari enam bersaudara ini masih pelajar SMA. Tapi untuk bisa bergabung syaratnya tak gampang. Mutia mesti mendapat persetujuan orangtua. Jika tidak, ia tidak akan bisa bergabung. Abdullah dan Ainiah tak melarang niat anak perempuan satu-satunya itu angkat senjata. Kedua orangtua Mutia itu mendukungnya untuk menjadi Inong Balee.

Bersama sepuluh anggota Inong Balee yang lain, Mutia dilatih baris-berbaris. Ia juga diajar menembak. Ketika konflik makin panas, gerak-gerik para kombatan makin terbatas. Mutia bertugas membantu turun gunung memasok logistik kepada 80 gerilyawan.

Beberapa kali ia nyaris tewas dan tertangkap. Tapi ia licin seperti belut. Ia selalu bisa lolos. Sedang enam rekannya bernasib lain. Ada yang tewas saat kontak senjata. Ada yang tertangkap. Tapi ada juga yang menyerah.

Kegiatan menjadi Inong Balee tak membuat Mutia meninggalkan bangku sekolah. Begitu lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Serambi Mekkah di Banda Aceh. Ia mengambil jurusan Matematika. Sayang, itu tak berlangsung lama. Gerak-geriknya mulai terbatas. Bangku kuliah hanya bisa dirasakan hingga semester satu.

“Setelah itu tidak bisa melanjutkan karena dicari-cari TNI,” kenang Mutia.

Setelah penandatanganan damai disepakati Pemerintah Indonesia dan GAM pada Agustus 2005 lalu, hidup Mutia berubah. Berbagai macam masalah baru muncul.

“Ada beberapa keluarga yang tidak suka dengan gerakan kita,” ujarnya.

Ia belum sepenuhnya bisa diterima masyarakat dan keluarganya sendiri. Persoalan lain, setelah tak lagi di Inong Balee ia tak punya pekerjaan.

“Saya ingin kembali melanjutkan kuliah, namun saya tidak tahu biayanya dari mana,” keluhnya.

Modal Rp 9 Juta
Di tengah kegalauan, International Organization for Migration (IOM) datang ke kampungnya. Lembaga ini punya program mendukung reintegrasi dan pemberdayaan ekonomi para bekas kombatan usai perjanjian damai.

Mutia mendapat modal usaha Rp 9 juta. Lembaga ini juga memberikan dana yang sama kepada 32 eks kombatan yang ada di kampungnya. Selain dana, IOM mengadakan pelatihan singkat untuk jenis usaha yang akan dipilih masing-masing.

“Saya memilih usaha penjualan aksesoris handphone dan pulsa untuk menyambung hidup,” kata Mutia.

Ia menyewa ruangan ukuran 4×4 meter sebagai gerai usahanya. Pelan-pelan kerja kerasya membuahkan hasil. Kini ia bisa mengantongi antara Rp 400 ribu hingga Rp 450 ribu setiap hari.

Hidup Mutia berubah. Tak ada lagi kontak senjata atau rapat-rapat terselubung. Jari-jarinya kini mahir memijit tombol handphone sembari menebar senyum kepada pelanggan.

“Dengan bantuan ini, rasa trauma kami sewaktu konflik sudah mulai sedikit hilang. Dan kami akan terus berusaha bangkit untuk menghilangkan rasa takut itu, walau tidak mungkin bisa kami lupakan,” kata Mutia.

Bahruna juga mendapat bantuan dana dan pelatihan usaha dari IOM. Lelaki berusia 24 tahun ini mantan anggota Teuntara Neugara Aceh yang beroperasi di wilayah Cot Keueung.

Berbeda dengan Mutia, pemuda yang bergabung dengan GAM pada 1999 ini memilih membuka toko kelontong yang menjual aneka macam barang. Tokonya berada di Lambaro. Untungnya lumayan. Sehari-hari pendapatan Bahruna bisa mencapai Rp 500 ribu.

Information Officer IOM Indonesia untuk Post-Conflict and Reintegration Programme, Marianne Kearney mengatakan, konflik yang berlangsung lama di Aceh telah menggerakkan IOM untuk membantu menyukseskan proses reintegrasi damai di Aceh.

” Konflik telah membuat penderitaan dan trauma yang mendalam bagi masyarakat Aceh. Sebelumnya IOM tidak tahu konflik di Aceh sangat berat dan dampaknya sangat besar,” ungkap Marianne.

Ketua Pelaksana Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Islahuddin mengungkapkan, proses reintegrasi eks kombatan dan tapol/napol memang sangat sulit dan butuh waktu.

“Reintegrasi tidak hanya memberikan bantuan uang, namun juga mengembalikan harga diri, independensi, dan keahlian kepada mereka yang dulunya terdisintegrasi,” katanya.

Butuh keterlibatan berbagai pihak untuk melakukan proses ini. Sehingga, kata dia, empati lebih muncul dan pemahaman dari kondisi lapangan lebih dapat dirasakan bersama-sama. “Itu dapat lebih mempercepat proses reintegrasi,” ujar Islahuddin.

Niat Mutia untuk melanjutkan pendidikan juga tengah diupayakan BRA. Lembaga ini berencana membuat program pendidikan diploma satu yang bersertifikat dan layak kerja bagi para mantan kombatan.

“Kita telah membicarakan dengan pihak Universita Syiah Kuala. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik telah menyetujui rencana kami ini,” jelasnya.

Komite Peralihan Aceh (KPA) menyambut rencana BRA. Bantuan pendidikan tak kalah penting bagi eks kombatan saat ini.

”Kalau bantuan modal cepat habis, tapi pendidikan tidak akan pernah habis,” ujar juru Bicara KPA Pusat, Yahya Mu’ad.

Sedang Mutia kini berharap agar kesuksesannya berbisnis bisa dinikmati oleh rekan-rekannya yang lain.

“Saya mengharapkan dari lembaga-lembaga seperti IOM untuk memberikan kesempatan berusaha kepada kawan-kawan kami yang belum mendapatkannya,” ujarnya.

Akhirukallam, reintegrasi tetap sebuah pekerjaan besar yang harus kita jaga bersama. Sedikit tersenggol ia akan marah, dan konflik baru akan kembali mengancam. [Rizky Fechrizal]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s