Home

senyum-di-wajah-dnong.jpganak-anak-dari-kelompok-putri-di-desa-lambiheue-sedang-gembira.jpgsedang-latihan-rapai.jpgAnak-anak di daerah tsunami itu kini tersenyum kembali. Traumatik akibat bencana dahsyat berganti senyum, lentik jari dan derap kaki berirama dibawah pembinaan Traditional Arts Lecture Organization (Taloe). 

Plastik terpal warna biru digelar begitu saja di halaman Meunasah (surau-red) Desa Lambiheu, Lambaro Angan, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Setelah shalat Ashar, beberapa anak saling kejar mengejar kegirangan. Ada pula yang duduk-duduk di hamparan terpal. “Disini kami akan latihan,” jelas Reni yang masih berusia belasan tahun. Reni bercita-cita menjadi seorang guru, begitu juga dengan Lina adiknya.

Dia tinggal di Leupeung, Lhoknga, Aceh Besar, tapi tsunami pada 26 Desember 2004 lalu, meluluh-lantakkan kampungnya. Ia bersama adiknya bisa selamat setelah diselamatkan adik bapaknya. “Mereka sangat trauma dengan musibah yang telah menghilangkan ayah, ibu dan orang-orang dekatnya, tapi sekarang mereka sudah bisa tersenyum lagi,” ungkap Anggi Pitaloka, salah seorang pelatih tari anak-anak dari Taloe. Anggi bersama kelompoknya menjalankan program pengajaran seni tari bagi anak-anak korban konflik. Salah satunya di Desa Lambiheue, meski desa tersebut bukan daerah pusaran konflik, tapi masyarakatnya ikut merasakan imbas.

“Desa ini hanya kena imbasnya saja,” jelas Pendi personil Taloe lainnya. Kamis, 31 Mei 2007, latihan tari untuk anak-anak dibagi dua kelompok, laki-laki dan perempuan. Kelompok laki-laki dilatih Andika Ujung, sedang kelompok perempuan diasuh Anggi Pitaloka. Meski tempat latihannya sangat sederhana, mereka cukup bersemangat. Diantara anak-anak yang ikut latihan itu, ada Reni Afriani (12) dan Lina Fitria (9), saat tsunami akhir tahun 2004 lalu, mereka kehilangan kedua orang tuanya.

Beban berat akibat traumatik tersebut kini berangsur-angsur hilang, mereka pun bisa tersenyum kembali. Dua bocah itu pun dengan nada pelan mengisahkan peristiwa yang telah memisahkan mereka dengan orang tuanya. Saat gempa terjadi, keduanya sedang bermain dengan teman-temannya agak jauh dari rumah. Setelah gempa, tsunami pun datang. “Kami diselamatkan paman,” katanya datar. Ada kesedihan yang ditahannya. Ia seperti terisak. Reni yang masih duduk di bangku kelas VI SD Negeri Lambaro kemudian melanjutkan kisahnya. Saat tsunami terjadi, ayahnya lari ke gunung, sedangkan ibu bersama adik-adiknya yang berusia empat tahun dan tiga bulan meninggal.  Sementara Lina Fitria, sang adik hanya memandang polos.

Bocah kelas II SD ini hanya memandang hampa. Tapi ia kelihatan gembira dan tidak ada beban, ”Mungkin saat kejadian itu ia masih terlalu kecil, sehingga ia kurang mengerti tentang kejadian yang menimpanya tersebut.” Ujar Pendi salah seorang personil Grup Taloe kepada media ini. Banyak anak-anak seusia Reni dan Lina di bekas desa konflik tersebut, dan mereka sekarang merasa gembira dengan berbagai kegiatan yang dilakukan Taloe. ”Kami tidak mengatakan bisa menyembuh duka dan trauma mereka, tapi dengan berlatih seni atau segala hal yang bisa menghibur, setidaknya bisa meringankan beban mereka,” lanjut Pendi. 

Taloe adalah sebuah Lembaga yang bergerak dibidang Seni dan Budaya khususnya Kesenian Tradisional Aceh. Menurut ketuanya Jamal Abdullah (33 tahun), Taloe berdiri dari rasa keprihatinan terhadap kondisi kesenian tradisional Aceh, yang dikhawatirkan mengalami pergeseran. “Adat budaya leluhur harus kita jaga dan lestarikan, itu adalah benteng terakhir untuk menghindari degradasi moral,” ujar Jamal. 

Karena itu pula, meski dananya sangat minim, mereka terus bersemangat mengajari anak-anak korban tsunami dan korban konflik tersebut. Beberapa jenis tari tradisonal Aceh yang mereka ajarkan diantaranya, likok pulo, rapai geleng, seudati, tari meuseukat, tari laweut, dan tari ranup lam puan. Menurut Jamal, anak-anak butuh sedikit penyegaran, selama ini mereka merasa tertekan dan haus hiburan, barak-barak pengungsian bukan lah tempat yang nyaman untuk anak-anak, baik untuk bermain maupun dalam melakukan aktifitas lainnya. Tetapi, hidup tidak menawarkan pilihan lain untuk mereka, kehidupan di barak-barak terlalu mengekang dan sempit buat anak-anak. Mereka butuh sarana ekspresi diri yang utuh dan wajar, sebagaimana anak-anak lainnya yang sebaya dengan mereka.

Tetapi, pengungsian dan konflik diakui atau tidak telah merenggut hak-hak mereka untuk hidup normal,” lanjut Jamal. Ironisnya kata Jamal, Pemda Aceh terkesan kurang peduli terhadap apa yang mereka lakukan. Malah ketika group tari Taloe diundang ke Malaysia untuk memeriahkan Pesta Gendang Nasional ke X (PGN-X) yang berlangsung tanggal 8–16 April 2007 lalu, pihak PEMDA tidak membantu sama sekali, padahal keberangkatan mereka ke negeri jiran tersebut membawa nama Aceh. 

Meski pun demikian, semangat anak muda yang tergabung dalam Taloe untuk memberi pelatihan tari kepada anak-anak korban konflik dan korban tsunami tidak surut. Manager Program Taloe Khairul Anwar (32 tahun) yang sering disapa “Kaka” mengatakan, anak-anak muda yang bergabung dalam Taloe bergerak hatinya setelah melihat dampak dari konflik yang berkepanjangan dan tsunami yang menyebabkan trauma pada anak-anak. Mereka berusaha mengembalikan rasa percaya diri anak melalui pengajaran tari dan musik tradisonal Aceh, yang berada di desa/barak, sekolah dan panti asuhan.  

Selain itu, Taloe juga ingin mengembalikan Kesenian Tradisional Aceh pada masyarakat yang masih kuat pada budaya tradisi yang berdasarkan pada ajaran agama Islam dan nasehat-nasehat yang baik untuk kehidupan sebagai dasar pijakan bagi anak-anak mengenal budaya mereka, sehingga tercipta kembali komunitas-komunitas seni tradisi di desa-desa bekas konflik, sekolah, dan panti asuhan. Ia menilai seni budaya adalah sarana yang paling mudah untuk membangkitkan semangat dan gairah hidup masyarakat Aceh. Melalui seni dan budaya diyakini masyarakat akan mudah terbuai, dan terhibur untuk melupakan secara pelan-pelan trauma masa lalu.

Khususnya anak-anak yang ikut terlindas pada konflik dan anak-anak korban tsunami. “Kini saatnya memberi ruang buat mereka untuk bisa sedikit bernafas lega sambil menghirup udara perdamaian sepuas-puasnya,” katanya optimis. Hal yang sama juga diungkapkan pelatih tari group Taloe, Muhammad Rasul dan Devi Susanti, mereka adalah dua orang pelatih yang ada di Grup Taloe. Mereka sudah bergabung sejak Taloe dibentuk pada awal tahun 2005 lalu. Mereka mengaku senang melatih anak-anak, “Agar budaya Aceh tetap terjaga,” kata mereka serentak.

Awal bergabung mereka dalam Taloe karena diajak, kemudian setelah melihat kondisi Aceh pasca tsunami yang hancur porak-poranda maka timbul niat mereka untuk menolong Aceh dengan segala  kemampuannya.   

Pasca konflik setelah penandatanganan MOU antara Pemerintah RI dengan GAM di Helsinki Finlandia, kembali menggugah kesadaran muda mereka untuk bisa mengisi proses reintegrasi dengan pendekatan budaya. “Dulu kami mengajarkan anak-anak di barak-barak pengungsian, sekarang kami mengajarkan anak-anak di bekas desa konflik. Hanya ini sumbangan yang bisa kami berikan dalam proses reintegrasi damai Aceh,” lanjutnya.  Untuk membiaya opersional Taloe, Jamal Cs melakukan lobi ke berbagai pihak untuk mendapatkan bantuan. Salah satunya adalah Kinder Not Hilfe (KNH). Pada bulan Februari sampai Desember tahun 2006 lalu NGO asal Jerman tersebut menjalin kerja sama dengan Taloe untuk prorma pelatihan anak-anak korban konflik.  Republik Jerman adalah merupakan bagian dari Uni Eropa, yang mempunyai komitmen menjaga damai dalam proses reintegrasi di Aceh.

Uni Eropa sendiri sangat konsisten dan mempunyai perhatian yang lebih khusus untuk proses reintegrasi damai di Aceh. Keterlibatan mereka sangat intens dalam setiap tahapan menuju proses damai di Aceh, hal ini berlangsung semenjak proses perundingan di Helsinki dan proses Pilkada pada bulan Juni tahun lalu. Di tengah minimnya dana, Taloe juga memberi bantuan semua kebutuhan property dan kostum tari untuk 6 (enam) lokasi pengajaran tari, serta membangun 3 unit balee (balai) latihan tari di tiga lokasi.

Pada bulan Juni sampai Desember tahun 2006, Taloe juga telah melaksanakan program yang sama tetapi hanya di sekolah-sekolah (SD dan SMP) yang berada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Memang, situasi Aceh paska penandatanganan MOU Damai Helsinki pada 15 Agustus 2005 terus bergerak ke arah yang lebih kondusif dan membaik, hal ini terlihat dari mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, masyarakat mulai bergairah dalam berusaha dan bekerja. Seiring dengan suasana yang semakin normal, maka seni dan budaya Aceh juga mulai bergeliat lagi. 

Sosiolog dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Dr Humam Hamid mengatakan, Dalam sebuah daerah konflik, damai yang terwujud seperti dalam surga. “Ini harus dicari damai yang seperti apa? Reintegrasi bukan masalah bagi-bagi uang. Dana sebesar Rp 7 triliun untuk reintegrasi itu, justru akan menimbulkan konflik baru kalau tidak hati-hati dalam pengelolaannya,” papar Humam dalam sebuah kesempatan diskusi di Ball Room Sibayak Internasional Hotel, Brastagi, Senin, 21 Mei 2007 yang dihadiri 13 jurnalis asal Aceh yang sedang mengikuti Pelatihan Jurnalisme Damai Untuk Meliput Proses Reintegrasi Damai di Aceh. Acara itu diselenggarakan oleh Yayasan KIPPAS Medan bekerjasama dengan Uni Eropa.*** 

Hamdani (Lhokseumawe)

Hasil liputan ini merupakan kegiatan “Liputan Mendalam” yang difasilitasi KIPPAS – Uni Eropa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s