Home

Pengantarplthn-radio-internews-059-copy.jpgplthn-radio-internews-059-copy.jpg

plthn-radio-internews-059-copy.jpgSejak 1 Januari 2006 –  31 Januari 2007 KIPPAS menjalin kerjasama dengan INTERNEWS Indonesia. Kontrak kerjasama  tertuang dalam: Subgrant F1175-KIPPAS-01 in support of Building on the Foundation in Indonesia” perjanjian kerjasama No. F1175-KIPPAS-01.

 Secara garis besar, program yang dilakukan KIPPAS sepanjang tahun 2006 adalah melakukan pelatihan di kelas dan in house training untuk jurnalis radio di Aceh dan Sumatera Utara. Kegiatan pelatihan jurnalisme dilakukan secara berseri dengan titik tekan untuk meningkatkan kapasitas teknis meliput dan memproduksi berita, dan peningkatan perspektif jurnalis untuk meliput isu lingkungan, kesehatan dan pendidikan, dan pelatihan mengenalkan bentuk penulisan radio (dasar, feature dan eksplanatori). Sedangkan untuk memperdalam materi-materi yang telah diterima selama mengikuti pelatihan di kelas, ditindaklanjuti dengan kegiatan in house training. Walau sejak awal Internews Indonesia sudah menetapkan ada 10 stasiun radio di Aceh yang akan diberikan in haouse training, namun berdasarkan masukan-masukan dari KIPPAS, akhirnya ada beberapa staisun yang diuusulkan untuk dijadikan target in house training. Berikut adalah gambaran pelaksanaan jalannya kegiatan pelatihan.

 

Gambaran Pelaksanaan Pelatihan Jurnalisme Dasar Radio

Pelatih: Ronny Hengst (Mantan jurnalis Radio BBC), Bahrul Witjaksana (Internews Indonesia)

Tempat/Waktu: Sumatra Village Hotel, Medan 27 – 31 Maret 2006

Senin, 27 Maret 2006. Peserta pelatihan, pelatih, dan fasilitator berkumpul untuk acara pembukaan, perkenalan, dan mendiskusikan kontrak belajar yang berisi kesepakatan bersama aturan pelatihan, dimana dihasilkan ketentuan untuk memulai pelatihan pukul 07.50 (seperti terdapat dalam jadwal). Malam harinya, pukul 17.00 peserta menonton film “Our America”, yang ternyata sangat mampu menstimulasi dan membuka wacana peserta tentang jurnalisme radio serta mengaitkannya dengan kondisi dan kebutuhan radio di daerahnya masing-masing. Kegiatan diskusi ini berakhir pada pukul 22.00 WIB.

          Selasa, 28 Maret 2006.  Peserta diberi berbagai materi dasar jurnalisme radio, yang mencakup pemahaman jurnalisme radio, nilai berita radio, teknik menentukan angle berita, teknik mengumpulkan dokumen, observasi dan teknik wawancara berita radio, serta pembahasan tentang etika jurnalisme dengan memdiskusikan contoh-contoh kasus yang sering terjadi di lapangan.

          Peserta juga diberi simulasi/latihan membuat/menentukan konsep berita dengan menggunakan berbagai koran lokal (harian Analisa, Sinar Indonesia Baru, Waspada, Serambi Indonesia, Sumut Pos, Medan Pos, Rakyat Aceh) sebagai sumber berita. Latihan ini diberi secara berkelompok (terdiri dari 3 kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 5 orang) dan hasil simulasi dipresentasikan serta dievaluasi oleh pelatih maupun peserta. Kegiatan berakhir pukul 22.00 WIB.

          Rabu, 29 Maret 2006. Peserta dibagi dalam 3 kelompok dan diminta membuat perencanaan liputan. Objek liputan yang akan direportase letaknya harus tidak terlalu jauh dari lokasi pelatihan, yakni RSU Adam Malik, warung bakso Padang Bulan, dan tempat mangkal taxi Padang Bulan. Setelah selesai reportase, tiap kelompok mulai melakukan proses produksi berita, mulai dari penulisan script, memasukkan insert, mengisi suara, serta memadukannya sehingga menjadi sebuah berita radio (dispatch). Melalui praktik lapangan ini peserta menghasilkan 3 berita dengan format dispatch, dengan topik “nasib pedagang bakso pasca isu formalin”, “8 orang bayi tertular HIV/AIDS”, serta ”dampak kenaikan BBM bagi supir taxi”.

         

          Hasil berita ini kemudian dipresentasikan dan dievaluasi oleh pelatih, sehingga masing-masing peserta dapat mengetahui kesalahan, kekurangan dan saran-saran agar berita yang dihasilkan menjadi lebuh baik dan tajam. Pada hari yang sama, masing-masing peserta diberi tugas individual untuk membuat berita radio dengan format newscopy (bahan materi diambil dari koran lokal) dan melakukan praktik stand-up. Masing-masing beritadipresentasikan oleh pserta dan dievaluasi oleh trainer. Kegiatan berakhir pukul 22.00 WIB.

          Kamis, 30 Maret 2006. Pelatih bersama peserta serta fasilitator membicarakan lokasi liputan yang berada di tengah kota, yaitu lokasi Lapangan Merdeka Medan. Lokasi ini memiliki akses ke banyak tempat  penting di Medan seperti kantor pemerintahan (Pemko), bangunan bersejarah, mall, dll. Sayangnya hari ini tanggal merah dimana kantor-kantor birokrasi tidak buka.

         

          Peserta dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing terdiri dari 3 orang. Setiap kelompok bebas menentukan topik liputan dan jumlah insert yang dimasukkan. Target praktik lapangan kali ini adalah membuat berita dispatch yang agak panjang ( memiliki 2 insert) ataupun paket.

         

          Selesai reportase peserta mulai memproduksi berita dan menghasilkan 5 berita dengan topik “pengemis kota Medan”, “jembatan penyeberangan”, “pedagang asongan”, “penjual buku bekas”, dan “tata kota medan”. Masing-masing kelompok mempresentasikannya dengan menampilkan scriptnya juga. Penekanan yang diberikan pelatih pada sesi ini adalah perbaikan pada penulisan script. Kegiatan berakhir pukul 23.00 WIB.

          Jumat, 31 Maret 2006. Sesuai dengan kebutuhan, pelatih (Ronny Hengst) memberikan latihan perorangan menulis dan merangkai berita dengan memberikan clip pidato dua narasumber untuk dijadikan satu berita. Hasil jadi berita masing-masing peserta kemudian didiskusikan oleh peserta dan pelatih. Dalam sesi ini peserta lebih mendalami berbagai hal menyangkut penulisan berita, bagaimana “menjahit” pernyataan narasumber menjadi sebuah berita, memahami konten berita, dan menjadikan berita menarik dengan unsur “konflik”nya.

         

          Selanjutnya, peserta, pelatih dan fasilitator melakukan share mengenai  tantangan dan peluang jurnalisme radio, terutama dalam konteks peningkatan kapasitas radio daerah. Berbagai pengalaman yang disampaikan mampu memarnai wacana dan wawasan para peserta untuk dijadikan bekal menjadi jurnalis. Peserta menceritakan hambatan-hambatan yang mereka lalui sebagai jurnalis radio daerah, seperti program news yang belum berkembang, pemasukan (iklan) perusahaan yang berekses terhadap penghasilan pribadi mereka yang minim. Acara diakhiri dengan mengisi lembar evaluasi selama pelatihan berlangsung.

4 thoughts on “Berita Pelatihan Jurnalisme Radio Dasar

  1. di tunggu deh ke lampung khususnya kotabumi,
    yang msih banyak membutuhkan banyak pengetahuan tentang jurnalistik radio,,,
    .
    salam manis dari basuma,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s