Home

Oleh: Munawardi Ismail
Harian Waspada, 21 Februari 2007

RUDINI baru saja selesai shalat Magrib. Senyum tipis mengembang dibibirnya ketika disapa Waspada, pekan lalu. Dia ditemani, ’ayah’ sekaligus gurunya; Tgk H Bulqaini Tanjongan. Kisah hidupnya memang kelam, tapi jiwanya yang besar.

Namanya memang sama dengan bekas menteri Orde Baru di zaman Soeharto. Rudini, si Menteri Dalam Negeri itu kini sudah uzur. Tapi Rudini yang satu ini usianya masih 13 tahun. Dia salah satu korban dari pertikaian panjang yang memberangus Aceh.

Rudini kecil lahir di Desa Cot Geureudong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Kulitnya sedikit gelap, segelap kisah hidupnya. ”Ayah saya dibunuh GAM,” kata putra kedua dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Yusmadi dan Nazimah.

Itu kata terakhir yang keluar dari anak berdarah Jawa dan Aceh itu. Lalu, seketika bola mata lembab. Bulir bening menetes satu… satu. Kemudian tangis pun tak dapat dibendung. Dia sesegukan.

Kedukaan Rudini amat dalam. Sampai-sampai dia tak kuasa melanjutnya kisah hidupnya. Hanya sepenggal yang sempat dia utarakan. Temannya Amrizal,13, dan Lukman,12, berusaha menenangkan Rudini.

Ketiga menetap di Markaz Al Ishlah Aziziyah. Amrizal dan Lukman sama-sama warga Desa Batee Pila, Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Kedua orang tuanya tewas digasak peluru panas aparat keamanan.

Rizal pun bercerita. Suatu hari di tahun 2000, mendekati lebaran, ayahnya sedang shalat di surau (Aceh: Meunasah) kampung setempat. Kabarnya ada gerombolan bersenjata yang melarikan diri ke kawasan itu.

Tak lama kemudian, peluru pun menyalak ke dalam meunasah. ”Pada rakaat kedua ayah meninggal setelah ditembak,” kata pelajar Kelas 1 SMP Islam Ibnu Khaldum Lueng Bata ini.

Amrizal anak ke-5 dari tujuh bersaudara dari pasangan Ismail dan Nuraini. Ibunya kita menetap di kampung halamannya. Setahun sekali di menjenguk orang tuanya di sana. Tapi dia sudah betah tinggal Lueng Bata.

Kisah Lukman juga tak jauh beda. Anak ke-8 Usman dengan Syamsiah itu bercita-cita menjadi pilot Angkatan Udara. ”Awalnya saya dendam, tapi Tu mengajari kami supaya tak dendam lagi,” katanya.

Bukan hanya mereka, Husnul Makhyar, Nur Fatimah dan sikembar Mufazar dan Mufazir asal Desa Pinta Rimba, Trumon Aceh Selatan juga bernasib sama. ”Selama di sini kami sudah bersaudara, makanya kami tak dendam lagi,” sambung Lukman.

Cerita Harisman lain lagi. Dia anak tentara. Ayahnya Jufri MS, bertugas di Kodim 0105 Aceh Barat. Haris tinggal di Asrama Kodim tersebut. Dia anak kedua dari empat bersaudara. Ibunya Nurajiati.

Menurut Haris, ayahnya diculik di Simpang Empat Jeuram, Kabupaten Nagan Raya ketika berbelanja di sana. Dia tak ingat lagi kapan persisnya peristiwa yang merenggut nyawa ayahnya? Namun yang pasti pada suatu hari di tahun 2000. Kemudian dia dibawa ke sebuah lokasi. Sekira satu jam kemudian dia sudah menjadi mayat.

”Saat itu saya masih di sekolah. Waktu dibilang ayah meninggal saya tak percaya. Saya asyik main-main dengan teman-teman di sekolah,” cerita siswa SMP Islam Ibnu Khaldun, Lueng Bata ini.

Sama halnya dengan Amrizal, Haris pun mengaku tak lagi menyimpan rasa untuk menuntut balas pelakunya. ”Kami di sini sudah seperti saudara, main dan bakar ikan bersama. Tak ada lagi dendam dihati saya. Awal-awalnya iya, saya dendam juga, tapi ustazd di ini bilang kita tak boleh dendam. Kita harus ikhlaskan saja,” kata

Keikhlasan itu juga diungkapkan Nurbaiti,45, janda Ayah Sofyan, jurubicara GAM Aceh Besar. Kini dia hidup dengan lima anaknya yang sedang beranjak remaja. Untuk membiaya kebutuhan hidup dia terpaksa kerja apa saja asalkan halal.

”Saya sudah bilang ke mereka untuk rajin-rajin mengaji dan sekolah. Ikhlaskan kepergian orang tuanya,” kata ibu Haris Munandar, Syukrina, Muhammad Iqbal, Zulkarnen, dan Edi Kurniawan itu.

Namun, dia mengeluhkan kurangnya perhatian. Dia pun merasa kesulitan membiaya sekolah anak-anaknya. Apalagi bantuan sangat minim. Meski demikian, Nurbaiti berhasrat tak membiarkan anak-anaknya terlantar.

Tapi, tapi tak tahu harus bagaimana. Lantas siapa yang akan bertanggungjawab dengan pendidikan dan masa depan mereka nanti, jika bukan kita.

Hasil Liputan ini merupakan hasil kegiatan “Liputan Mendalam” yang didukung KIPPAS – Uni Eropa

One thought on “Sepenggal Kisah Rudini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s