Home

nasir-arafat.jpg

Minggu, 17 Juni 2007

DIA dilahirkan di daerah terpencil Desa Dayah Blang, Kabupaten Pidie, Nasir Arafat tumbuh dengan kepribadian sederhana. Pria kelahiran 12 Desember 1959 menghabiskan masa kecil bersama ibunda tercinta di Desa Kembang Tanjong Kabupaten Pidie. Tepat 48 tahun lalu, almarhum ibunya membesarkan Nasir dengan berjualan terasi di kota kabupaten itu. “Saat itu, ayah saya sudah meninggal dunia. Ibu yang membesarkan saya dengan berjualan terasi,” ujarnya dengan mata berlinang kepada Aceh Magazine akhir Mei silam.

Tumbuh dan besar dari keluarga miskin membuat Nasir sadar dan perduli terhadap sesama anak Adam. Anak pasangan Abdullah Ubit dan Fatimah ini sehari-hari bergelut di tengah masyarakat. Meskipun menyandang gelar doktor, Nasir tidak segan mencelupkan tangannya ke lumpur sawah atau memakul cangkul. Setiap hari, pria berjenggot lebat ini menghabiskan delapan jam untuk mendampingi masyarakat miskin dan korban konflik di Aceh Utara. “Saya ini sudah terbiasa dengan lumpur sejak kecil, kenapa mesti gengsi kalau sekarang juga pegang lumpur,” ujarnya yang juga Ketua Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRDA) Aceh Utara ini.

Kini, Nasir Arafat memimpin Badan Pelaksana-Kawasan Industri Agri Karya (BP-KIAT). Usaha yang dirintisnya sejak Nopember 2006 memproduksi saos dengan merek Qurma, kripik ubi KIAT, mescut (dalam bahasa Aceh meuseukat) dan penganan khas Aceh lainnya. Tujuannya untuk memberdayakan masyarakat korban konflik dan masyarakat miskin di daerah itu. “Agar hidup mereka yang porak poranda akibat konflik dapat pulih dan tidak ada dendam lagi di hati mereka,” ajak Nasir sambil memperhatikan lima karyawan yang sibuk membersihkan botol-botol tempat saos dan sirup.

Awalnya, Nasir sempat kebingungan mencari modal usahanya. Pengalaman memberdayakan masyarakat transmigrasi selama dua tahun di Cot Girek Aceh Utara dan tiga tahun menguatkan posisi masyarakat sebelum pembukaan PT. Ubertraco di Aceh Singkil yang bergerak di bidang Perkebunan Kelapa Sawit membuat semakin optimis untuk terus membela masyarakat kalangan bawah. Akhir tahun lalu, dirinya mengajukan program pemberdayaan masyarakat miskin dan korban konflik ke Aknasio Sabri, General Manager PT. Arun NGL. Gayung bersambut. Aknasio setuju dengan ide briliannya dan mengucurkan dana awal Rp 1 miliar. “Saya berusaha membantu orang lain. Termasuk janda korban konflik dan masyarakat miskin yang kini bekerja di sini (BP-KIAT),” katanya yang menamatkan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas di Pidie.

Pimpin Usaha
Siang itu, Rabu (30/5) Nasir memperhatikan proses pengemasan saos. Bahan baku untuk pembuatan saos seperti tomat dan lada di beli dari para pedagang di Pasar Batuphat dan Lhokseumawe. Sedangkan untuk papaya, perusahaan yang beralamat di Jalan Cilacap Komplek Perumahan PT. Arun ini mendatangkannya dari Matang Glumpang Dua Kabupaten Bireuen. Perusahaan itu sekitar dua puluh kilometer arah barat Kota Lhokseumawe.

Sesekali senyum dan tawa keluar dari mulutnya. Tidak ada batasan formal yang diterapkan Nasir untuk karyawannya. Bahkan, tidak jarang pekerjanya memanggilnya bos sambil memberi hormat layaknya seorang militer memberi hormat pada komandannya. Jika itu terjadi maka pekik tawa pun membuncah dari seluruh pekerja. “Tidak ada batasan formal di sini. Saya tidak ingin ada batasan, saya mahu ala kekeluargaan,” katanya sambil menuangkan botol sirup ke dalam ember hitam di depannya.

BP-KIAT yang dipimpin Nasir juga memproduksi sirup dengan merk markisah. Saat disinggung ide awal untuk pemberdayaan masyarakat korban konflik dan masyarakat miskin ini, dirinya menyebutkan hanya karena ingin membantu masyarakat semata. Kemeja biru yang di kenakannya dilipat ke atas dan tanpa canggung sedikit pun, Nasir langsung memegang botol-botol sirup dan saos yang ada di depannya.

Buang Dendam dengan Tauziah
Untuk menghilangkan dendam di hati para korban konflik di perusahaannya, Nasir menerapkan pola tauziah agama. Tiap usah Shalat Duhur dan Ashar, dia menjadi penceramah tunggal untuk pekerjanya. “Istilahnya begini menjaga kesatuan hati. Tanyoe beumangat hate (Kita harus lapang dada) dan tidak membenci sesama. Semua yang kita jalani telah ditakdirkan Allah, itulah penghilangan dendam yang saya lakukan,” katanya.

Sebagai salah seorang dai, Nasir memang selalu mengkampanyekan damai Aceh harus dilestarikan. Setiap dakwah di mesjid-mesjid dan pengajian di lingkungan usahanya dirinya selalu menyampaikan pesan untuk menjaga perdamaian di Aceh kepada publik pendengarnya.

Dahulu, saat awal memulai usaha pembuatan saos untuk masyarakat miskin dan korban konflik, hampir setiap hari ada pertengkaran antara sesama pekerja. “Setelah saya terapkan sistem tauziah setiap selesai Shalat Duhur dan Ashar, kini tidak ada lagi. Mereka harmonis dalam bekerja dan ini yang membuat saya senang sekali,” ungkapnya. [M. Sambo]

3 thoughts on “Nasir Arafat, “Dari Terasi ke Saos” (2)

  1. Pingback: Pabrik Pembuatan Saos dari Kurma di SD 2 Yayasan Pendidikan Arun | Wahyu Reza Prahara

  2. ass.pa kbr pak saya rahmatullah saudara antum yang ada di lombok, ana minta no hp nya tolong segera dikirim ya, sukron katsiran. skrg bapak maqomi dmn? ana rahmatullah hp 081917233900

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s