Home

Minggu, 17 Juni 2007

SENYUM mengulas di bibir Khairia Husna (40). Warga Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe ini sibuk menganyunkan sendok kayu sepanjang satu meter k kuali yang berisi adonan pembuatan saos. Kompor merek Hock 28 sumbu meliukkan api memanaskah saos merek Qurma itu.

Tangan yang mulai keriput terlihat lincah mengayunkan sendok kayu itu. Ibu dua orang putra ini mulai bekerja di Badan Pengembangan Kawasan Industri Agri Karya (BP-KIAT) sejak awal Februari 2007. Saat itu, dirinya kebingungan membiayai biaya sekolah putranya di SMA Negeri 1 Dewantara Kabupaten Aceh Utara. Biaya sekolah saat itu masih tinggi sebesar RP. 10.000 per bulan. Namun, itulah rezeki tak lari ke mana. Wanita berperawakan sedang dan fasih berbahasa Indonesia ini di terima di perusahaan yang memproduksi saos, sirup dan aneka penganan khas Aceh itu. Perusahaan ini sejenis Usaha Kecil Menengah (UKM).

Sejak itu pula, rezekinya bertambah. Sebelumnya, Khairia bekerja sebagai penjual pisang goreng di pinggir Jalan Medan-Banda Aceh, tepat di depan rumahnya di Desa Blang Pulo Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe. Penghasilannya sangat terbatas. Maklum, ibu yang selalu ramah dan murah senyum ini telah ditinggal suaminya sepuluh tahun lalu. Suaminya pergi tanpa berita. “Saya sangat sedih saat itu. Namun, inilah takdir. Langkah, rezeki, pertemuan dan maut sudah di atur oleh Allah,” ujarnya sore itu, Rabu (30/5). Terakhir, dia mengetahui suaminya telah menjadi kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Waktu terus berlalu. Pilu ditinggal suami dan menanggung beban keluarga sendiri, membuat Khairia harus bekerja keras. Saban Dzuhur dan Ashar setelah mendengar ceramah singkat dari Muhammad Nasir Arafat pemilik BP-KIAT, Khairia turut meneruskan ceramah dengan gayanya sendiri. Bergaya santai dan menggunakan bahasa Aceh saat menyampaikan pesan-pesan perdamaian pada 65 janda korban konflik lainnya di unit usaha itu. Khairi terbilang bukan perempuan biasa. Pola yang digunakan Khairia terbilang unik. Dia memberikan tauziah agama dengan bahasa Aceh fasih. Pesan yang disampaikan terbilang sederhana. Pesan-pesan itu seperti, menjaga hati, jangan berburuk sangka pada ornag lain dan menerima informasi yang benar. Sehingga tidak salah terima pesan dan mudah terpropokasi oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya.

Dia terlahir dari keluarga petani miskin yang terus memimpikan damai Aceh berlangsung sepanjang napas di tubuh manusia. “Saya kapok dengan perang dan konflik. Saya tidak bisa berjualan, sedangkan anak-anak terus membutuhkan uang sekolah dan keperluan rumah tangga,” kenangnya.

Karena terbiasa mentauziahi kawan-kawannya di BP-KIAT, kebiasaan itu pula menular saat dia berada di lingkungan kampungnya. Dia acap kali menyampaikan pesan pada tetangga rumahnya. Tetangga (jiran) yang dimaksud Khairia adalah 40 rumah di sebelah kiri-kanan dan muka-belakang rumahnya. Upaya yang dilakukannya untuk menyemai bibit-bibit perdamaian ini tidak terlepas akibat efek konflik yang di rasakannya.

“Saya sangat sadar kehilangan suami dan harus membiayai hidup anak-anak. Untuk itu, saya tidak ingin Aceh ini berdarah lagi,” paparnya sambil membenarkan jilbab kuning yang membalut kepalanya. “Untuk itu saya terus berusaha agar masyarakat yang korban konflik tetap lapang dada menerima apa yang telah menjadi takdir Allah. Tentunya, agar pemerintah juga memberikan hak-hak mereka,” katanya diplomatis.

Khairia memang berhati baja. Meskipun kehilangan suami tercinta, yang sampai saat ini tidak diketahui rimbanya, tidak ada secuil dendam pun melekat di dadanya. “Tidak ada gunanya dendam. Saya pesan berulang kali pada anak-anak agar tidak dendam akibat kepergian abunya,” ketusnya.

Kini bersama putranya yang kini duduk di bangku Kelas III, Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Dewanatara dan putrinya yang masuk SLTP tahun ini, Khairia membina dan menatap masa depan yang lebih baik. Damai di hati Khairia diharapkan juga damai di seluruh hati insan Nanggroe Aceh Darussalam ini. [M.Sambo]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s