Home

produksi.jpgimage001.jpgMinggu, 17 Juni 2007

PENGANTAR: Liputan ini berawal dari sebuah pelatihan Jurnalisme Damai yang diselenggarakan Yayasan Kajian Informasi, Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS) pada 20-25 Juni lalu di Brastagi, Sumatra Utara. KIPPAS bekerja sama dengan Uni Eropa memilih lima Term of Reference (ToR) liputan yang diusulkan oleh para jurnalis Aceh yang menjadi peserta dalam pelatihan itu untuk mendapat beasiswa. Wartawan Aceh Magazine, Masriadi Sambo terpilih sebagai salah satu di antarnya dengan tema liputan semangat janda korban konflik menatap masa depan di Aceh Utara.

Reportase ini merupakan liputan yang mengusung genre “jurnalisme damai”. Tulisan ini, kami pilah ke dalam empat tulisan, yaitu pertama, liputan yang bercerita tentang puluhan janda korban konflik yang bekerja di perusahaan pembuatan Saos di dalam komplek PT. Arun NGL Aceh Utara, kedua, bercerita tentang semangat pendiri Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk meredam bara dendam dalam benak para korban konflik melalui tauziah agama, ketiga kami mencoba mengedepankan sisi humanis dari salah seorang korban konflik yang menyampaikan kampanye damai Aceh dengan caranya sendiri. Terakhir, kami menutup tulisan ini dengan mengajak semua orang di Aceh menjaga perdamaian di bumi Iskandar Muda ini. Berikut hasil liputannya. Selamat membaca. [redaksi] *****

SIANG merangkak perlahan, Selasa (29/5). Perlahan matahari mulai lewat di atas kepala, pertanda sore tiba.Ya, saat itu tepat pukul 17.00 Wib Aceh Magazine menuju lokasi pembuatan saos meek Qurma di Komplek Perumahan PT. Arun NGL Batuphat, Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe. Dari luar, gedung berwarna kuning pucat itu terlihat biasa saja. Tidak tampak karyawan yang hilir mudik, layaknya industri raksasa di sebelahnya, PT. Arun dan PT. Pupuk Iskandar Muda.

T. Hamdan salah seorang karyawan menyapa ramah. Senyuman lelaki berambut ikal semakin merekah saat sebuah mobil L-300 berisi puluhan buah pepaya segar masuk ke pekarangan gedung yang juga bekas SD 2 Yayasan Pendidikan Arun (Yapena) itu . Gedung itu terletak di Jalan cilacap Komplek Perumahan perusahaan Minyak dan Gas tersebut. Untuk menuju gedung itu, terlebih dahulu harus melewati pemeriksaan dari security perusahaan di depan gerbang utama perumahan tersebut.

Pihak keamanan kompleks perumahan itu sangat mudah membedakan warga komplek Arun atau bukan. Jika warga komplek maka, mereka akan menghidupkan lampu kendaraan. Jalan menuju gedung tersebut tepat berada di samping kiri pintu grbang utama komplek, tepatnya melewati Pos Pemadam Kebakaran komplek perumahan itu. Alasan pemilihan gedung menurut Nasir Arafat dikarenakan PT. Arun tidak menggunakan gedung sekolah tersebut. Dahulu, perusahaan itu memiliki tiga gedung sekolah dasar. Namun, seiring sedikitnya jumlah murid, perusahaan hanya mengaktifkan SD 1 dan SD 2 Yapena.

“Ini logistik kami datang,” ucapnya girang menyambut kedatangan mobil tersebut. Kegiarangan Hamdan, bukan tidak beralasan. Sejak beroperasi November 2006, puhan ton buah papaya dipasok saban minggu ke perusahaan tersebut. Pepaya, tomat dan lada memang menjadi bahan pokok untuk pembuatan saos itu. Disitulah enam bulan lalu dimulai kegiatan ekonomi berbasis kerakyatan. Uniknya, di perusahaan ini, seluruh pekerjanya adalah korban konflik di Kecamatan Dewantara, Muara Satu dan sebagian Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara.

Semangat korban konflik untuk menatap masa depan itulah yang tersirat dari raut wajah pekerja di sana. Sedikitnya 65 janda korban konflik kini menggantungkan hidupnya pada Badan Pemberdayaan-Kawasan Industri Agri Karya (BP-KIAT)-pengelola pembuatan saos tersebut.

Sore terus meredup menyambut senja. Satu-satu janda korban konflik mulai mempersipkan diri kembali ke rumah masing-masing. Senyum gembira terlihat jelas di wajah Siti Aminah,(40) janda korban konflik yang bekerja di kawasan industri tersebut. Lelah seharian bekerja rasanya hilang seketika begitu uang puluhan ribu di terima dari bagian keuangan perusahaan itu. Ya, mereka dibayar Rp 50.000 per hari untuk gaji pokok. Sedangkan untuk bonus gaji harian tergantung prestasi kerja para janda. Warga Batuphat Timur ini menyebutkan sangat gembira bekerja di kawasan industri tersebut. “Sesama pekerja ramah-ramah, saling membantu,” ungkapnya sambil tersenyum.

Menurut Ibu dua anak ini, dirinya sudah dapat melupakan kenangan masa lalu. Masa-masa pahit di saat sang suami Sulaiman pergi dan tidak pernah kembali. “Saya enggan membicarakan abu anak-anak. Saya sudah melupakan kenangan buruk itu. Bahkan, saat suami saya pergi entah ke mana, kata orang-orang diculik, tidak tahu siapa yang culik, saya mulai melupakannya. Yang terpenting sekarang saya dapat menghidupi anak-anak dengan baik. Dan jagan perang lagi di Aceh. Saya senang Aceh aman,” ujarnya dengan logat Aceh fasih.

Saat disinggung tentang perdamaian Aceh, dirinya berharap perdamaian saat ini berlangsung abadi. Tidak ada lagi letusan dan dirinya dapat mencari nafkah untuk dua buah hatinya. Penandatangan Memorandum of Undestanding (MoU) antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 15 Agustus 2005 menjadi awal semangat baginya untuk menata kehidupan yang lebih baik. Sebelum bekerja di perusahaan itu, Siti bekerja serampangan. Apa yang ada yang penting halal. Dirinya mengaku pernah bekerja sebagai tukang cuci pakaian sampai upahan menanam padi saat musim tanam tiba.

Senada dengan Siti, Khaira Husna (45) menyebutkan dirinya sangat takut bila perdamaian Aceh diganggu-gugat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Di balut baju kaos bergaris merah dan jilbab kuning, wanita ini menuturkan dirinya selalu berdoa agar perdamaian Aceh abadi sepanjang usia bumi. “Saya berharap Aceh ini aman sampai kiamat nanti,” katanya dengan logat Aceh yang tidak ketara.

Kini, 65 janda korban konflik merajut kembali masa depan dengan bekerja dan menyebarkan “virus” perdamaian dengan caranya masing-masing. Semangat menatap masa depan dan semangat untuk mewujudkan damai abadi sepanjang usia bumi di Nanggroe Aceh Darussalam. [M. Sambo]

5 thoughts on “Menatap Masa Depan dari Qurma (1)

  1. Pingback: Pabrik Pembuatan Saos dari Kurma di SD 2 Yayasan Pendidikan Arun | Wahyu Reza Prahara

  2. Assalamu’alaikum Wr.Wb
    saya alumni SD 2

    saya sangat senang melihat perkembangan ekonomi untuk rakyat2 aceh smakin baik…, apa lg dengan adanya Badan Pemberdayaan-Kawasan Industri Agri Karya (BP-KIAT)… sangat banyak membantu warga sekitar …

    smoga ini terus berlanjut..
    amin..

  3. assalamualaikum warrahmatullah..

    saya juga salah satu dari alumni SD 2 itu..

    alhmdlillah y skrg sekolah yang semula saya pikir tidk bisa lagi d gunakan, malah jadi lahan untuk pembuatan saos kurma..

    moga usahanya sukses dan berkembang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s