Home

Minggu, 17 Juni 2007

MATAHARI menggelinding ke barat Rabu akhir Mei lalu. Perlahan beberapa pekerja Badan Pengembangan-Kawasan Industri Agri Karya (BP-KIAT) Aceh masuk ke salah satu ruangan yang dicat dengan warna kuning pucat. Ya, saban sore, sedikitnya 65 janda korban konflik bekerja di sana mengambil hasil kerja mereka. Semburat senyum gembira terlihat di wajah janda korban konflik ini. Di situlah, sejak November 2006 menimba ilmu dan mencari sesuap nasi untuk keluarga. “Saya sangat senang bekerja di sini. Suasananya ramah, penuh kekeluargaan,” ujar Khairia Husna, janda asal Blang Pulo Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe.

KIAT satu dari sedikit lembaga yang mengupayakan pemberdayaan korban konflik pasca perjanjian damai di Helsinki 15 Agustus 2005. Perjanjian yang disambut senyum oleh seluruh warga Aceh ini, kini hampir dua tahun. Tepat, 15 Agustus 2007 mendatang usia traktat yang mendamaikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia tepat berusia dua tahun. Usia yang masih belia. Bayak kalangan menilai, kampanye menjaga perdamaian harus di lakukan secara terus menerus. Lain lubuk, lain belalang.

Lain lembaga, lain pula cara melakukan kampanye damai Aceh. Lihat saja, Kajian Informasi, Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS) Medan bekerjasama dengan Uni Eropa melakukan pelatihan jurnalisme damai untuk wartawan Aceh yang meliput reintegrasi. Sedikitnya empat angkatan masing-masing angkatan terdiri dari 15 jurnalis Aceh diberi pencerahan untuk menulis dengan gaya Jurnalisme Damai sejak akhir 2006. Tujuannya, agar damai di Aceh terus berlangsung dan ini menjadi warisan sejati buat anak cucu. Tentunya media massa berperan besar untuk melestarikan damai ini.

Sejauh ini, korban konflik yang terdata di Kantor Badan Reintegrasi Aceh (BRDA) Aceh Utara mencapai 10.000 jiwa. Sedangkan janda akibat konflik 3.100 jiwa dan rumah yang dibakar akibat konflik 9.300 unit. Dengan modal Rp 1 miliar dari PT. Arun, KIAT menggeliat di tengah industri rumah tangga dan agro industri yang kian pesat. Usaha yang dirintis oleh Muhammad Nasir Arafat (48) ini mempekerjakan seluruh pekerja berasal dari korban konflik dan masyarakat miskin di 14 desa dalam Kecamatan Muara Satu, Dewantara dan Kecamatan Nisam yang bertetangga dengan PT. Arun NGL-sang penyandang dana. “Istilahnya, Arun menjelang ditutup tahun 2012 nanti ingin membantu masyarakat miskin dan korban konflik di daerah ini,” ujar Nasir memperhatikan pekerja mengisi botol saos dan sirup marqisah.

Sesekali rentak tawa keluar dari mulut-mulut pekerja itu. Suasana bekerja di perusahaan itu terbilang romantis. Sesama pekerja saling membantu dan penuh tawa, namun tetap serius mengerjakan tugas masing-masing. Di balut baju kemeja warna biru yang dilipat sampai lengan. Nasir terus membantu karyawannya bekerja. Dua kompor besar dengan api meliuk memasak dua kuali yang penuh dengan adonan pembuat saos. “Niat saya, saya ingin masyarakat yang telah dilanda kemiskinan dan konflik puluhan tahun dapat hidup layak sebagaimana masyarakat lainnya,” ujar Nasir memperhatikan tiga karyawan lainnya menempel lebel Cap Qurma pada botol saos yang siap dipasarkan.

Bahan baku pembuat saos dibeli di Kecamatan Matang Glumpang Dua Kabupaten Bireuen. “Semua kates (pepaya) di Aceh Utara sudah kita upayakan untuk membeli. Akhirnya kates-kates itu habis dan kita cari ke Matang,” papar Nasir. Di lahan bekas SD 2 Yayasan Pendidikan Arun (Yapena) seluas 2,5 hektare itu, usaha itu mulai bersinar. Ruang kelas yang dulunya dipakai sebagai proses belajar mengajar disulap menjadi ruang produksi, pengemasan, gudang dan ruang kantor. Halaman sekolah itu yang dulu penuh dengan bunga mawar dan bogenvile diubah menjadi kebun papaya yang subur. KIAT terus bergerak. Terlihat dari pemasaran yang lancar dan produksi tidak mengalami kendala. Untuk membeli bahan baku, seperti pepaya, Lada dan tomat, Nasir harus merogoh kocek Rp 10 juta/Minggu.

Dibantu 14 Karyawan yang mengurus bidang pemasaran, administrasi dan keuangan, usaha Nasir tampaknya mulai merangkak ke luar daerah Aceh Utara. Selain memproduksi Saos, KIAT juga memproduksi sirup marqisah, dodol Aceh, keripik ubi dan penganan khas Aceh lainnya. Kini, mereka telah membuka dua otlet, satu di Saree Kabupaten Aceh Besar dan di Lhok Nibong Kabupaten Aceh Timur. “Pemasaran tidak ada masalah. Kita udah mulai hadir ke seluruh kabupaten di Aceh,” ujar pria berbadan gempal ini. “Untuk laba bersih, baru akan dihitung akhir tahun ini,” paparnya yang meraih doktor pertanian dari Univeristas Brawijaya Malang ini.

Gaji Manajemen Prestasi
Bagaimanakah KIAT menerapkan sistem gaji kepada pekerjanya? KIAT menggunakan sistem gaji dengan manajemen prestasi. Gaji pokok para janda korban konflik itu Rp. 50.000 per hari hari. Jika pekerja mendapat prestasi memuaskan maka menjadi Rp 75.000 per hari. Ada empat poin penilaian yakni sangat memuaskan, memuaskan, cukup atau merugikan. Jika dari penilaian cukup sampai sangat memuaskan didapatkan peserta mereka akan mendapat bonus. ”Namun jika poin yang didapat rugi, maka gaji mereka akan di potong sedikit,” ujar Nasir sambil menunjukkan kertas penilaian untuk setiap karyawan. Kertas kecil berwarna putih itu saban sore diisi oleh atasan para janda korban konflik yang bekerja di BP-KIAT. “Kalau saya lihat ada yang kurang benar dalam penilaian, saya panggil atasan para pekerja itu. Saya tanyakan, pekerja itu kenapa? Malas atau bagaimana, kok sampai mendapat nilai buruk dan merugikan,” ujarnya.

Dengan menajemen ini, diharapkan seluruh karyawan akan rajin bekerja. Karena, jika bermalas-malasan, mereka tidak akan mendapatkan bonus kerja per hari. “Kami tidak masalah dengan sistem ini. Bahkan ini menjadi semangat baru,” kata Nur Aini (35) seorang pekerja yang dibenarkan oleh kawan-kawannya.

KIAT memberdayakan korban konflik untuk menatap masa depan dengan caranya sendiri. Ditunggu KIAT-KIAT lainnya – bukan sekedar kiat – untuk memberdayakan korban konflik di Aceh. Agar damai Aceh terus berlangsung dan korban konflik dapat hidup layak sebagaimana masyarakat umumnya. [M.Sambo]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s