Home

img_2394-copy.jpg

img_2389-copy.jpg

Pelikkah Reintegrasi Aceh?


UDARA dingin menusuk Ball Room Sibayak Internasional Hotel, Brastagi, Senin (21/5). Di ruang ini berkumpul 15 jurnalis asal Aceh yang mengikuti Pelatihan Jurnalisme Damai Untuk Meliput Proses Reintegrasi Aceh. Acara itu dibuat oleh Yayasan KIPPAS Medan bekerjasama dengan Uni Eropa. Sapaan hangat antar mereka sangat terasa. Bahasa pengantar pun kental; bahasa Aceh. Di ruangan itulah, mereka mengupas masalah reintegrasi Aceh.

Reintegrasi lahir dari kesepakatan damai antara Pemerintah Republik Indonesia-GAM di Helsinki, 15 Agustus 2005 lalu. Satu tahun proses reintegrasi telah berlangsung. Namun, banyak kalangan menilai, reintegrasi Aceh masih mengalami kendala. Sosiolog Aceh, Humam Hamid pun menyebut hal yang sama. Menurut dosen Universitas Syah Kuala ini, integrasi di Aceh patut dipikirkan secara matang. “BRA perlu membuat rencana besar. Meskipun pekerjaan reintegrasi sebagian besar tanggung jawab pemda, namun, BRA harus mencari model yang baik untuk proses ini,” ujarnya di depan lima belas wartawan yang bakal meliput proses reintegrasi di Aceh.

Dia menyebutkan, banyak sekali potensi konflik di Serambi Makkah. Salah satunya, sebut anak ulama Aceh ini yaitu tadi, reintregrasi. “Aturan hukum yang berlaku di Aceh juga menjadi salah satu faktor pemicu konflik,” tambahnya. Ketua Dewan Pengurus Yayasan Peduli HAM ini memaparkan, faktor hukum yang dimaksud seperti Peraturan Pemerintah dan Putusan Presiden tentang Aceh mengacu pada pemerintah Republik Indonesia. Sedangkan Qanun (peraturan daerah) berpegang pada pemerintah Aceh. “Jika tidak teliti ini akan menimbulkan konflik. Hati-hati dengan pasal-pasal peraturan itu,” ujarnya.

Saat disinggung tentang reintegrasi Aceh, Humam menyebutkan, reintegrasi Aceh harus di lakukan dengan pendekatan multisektor. Katanya, reintegrasi bukan hanya mengurus dana diyat untuk kombatan, korban konflik, namun juga akar rumput yaitu masyarakat sipil. Sejauh ini, Badan Reintegrasi Damai Aceh telah menyalurkan bantuan untuk 6.200 masyarakat non kombatan, 3.000 kombatan GAM, 535 dari 2.035 tahanan dan narapidana politik, 2.500 dari 6.500 anggota Pembela Tanah Air (PETA) 1.408 dari 28.912 penerima dana diyat dan 3.050 dari 3.600 untuk korban cacat fisik akibat konflik.

Meskipun dana telah di kucurkan, beberapa wartawan media cetak yang meliput Aceh menyebutkan, masih ada masyaraka korban konflik yang tidak ingin menerima dana diyat, yang mereka inginkan hanya keadilan. Menjawab pertanyaan ini, Humam menggambarkan, pasti ada masyarakat yang seperti itu, dalam daerah pasca-konflik, harus dicari format damai yang seperti apa? “Dalam sebuah daerah konflik, damai yang terwujud seperti dalam surga. Ini harus di cari damai yang seperti apa?” tanya Humam. “Reintegrasi bukan masalah bagi-bagi uang. Dana yang sebesar Rp. 7 Triliun untuk reintegrasi itu akan menimbulkan konflik barukalau tidak hati-hati dalam pengelolaannya,” papar Direktur Aceh Recovery Forum ini.

Masalah lainnya, tambah Humam, menuntut keadilan kejahatan HAM masa lalu juga menjadi faktor yang harus dipikirkan. “Saya setuju masalah kejahatan HAM harus diperhatikan. Namun, kawan-kawan penggerak HAM harus memikirkan momen yang tepat,” sebutnya. Saat ini, ujar Humam, Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang tercantum dalam UUPA harus mengacu pada KKR Nasional.

“Ditingkat nasional belum ada KKR, ini masalah juga. Di negara manapun, seperti Palestina, Bosnia, sampai hari ini belum ada penyelesaian yang tuntas masalah HAM ini,” ujarnya. Untuk, itu arif menjadi kata bijak untuk menjaga perdamaian di Aceh. Semua pihak, harus arif menyikapi masalah. [M. Sambo]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s