Home

MUASAL. Salah satu agen-da penting paska disarmament (pelucutan senjata) dan demobi-lization (penarikan pasukan TNI maupun TNA) di Aceh, adalah proses reintegrasi. Untuk merealisasikan tahapan tersebut, sesuai MOU Damai Helsinki 2005, telah dibentuk Badan Reintegrasi Aceh (BRA) yang kemudian berubah nama menjadi Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRDA). Secara bertahap, pemerintah telah mengucurkan dana ratusan miliar yang diberikan kepada mantan TNA, mantan napol dan warga korban konflik. Pada tahun 2006, BRDA telah mengucurkan dana reintegrasi sebesar Rp 200 miliar. Pada 2007 ini, direncanakan akan ada Rp 700 miliar dana reintegrasi yang akan dikucurkan.

Rakyat Aceh memang telah mereguk kedamaian. Pilkada raya Desember 2006 lalu adalah bukti terakhir. Walau sempat diwarnai insiden kekerasan, baik pada masa kampanye maupun paska perhitungan suara, namun secara umum pilkada Aceh berjalan damai. Rakyat Aceh berbondong-bondong datang ke bilik-bilik suara tanpa dihantui teror atau perasaan takut. Tak heran jika angka partisipasi pemilih mencapai 80% lebih.

Situasi Aceh yang kondusif memberikan kesempatan bagi rakyat untuk bangkit menata kehidupan mereka yang lebih baik lagi. Denyut pembangunan kini memang terlihat dimana-mana. Tidak terkecuali yang dilakukan ribuan mantan TNA dan warga korban konflik. Sejumlah Ornop, badan-badan organisasi dunia, dan para aktivis kemanusiaan aktif terlibat mendukung proses reintegrasi. Misalnya yang dilakukan IOM (International of Migration). Melalui program Makmu Gampong Kareuna Damç (Desa Makmur Karena Damai), mereka menyediakan proyek kerja komunitas berdampak cepat senilai Rp 50 juta (AS$5.500) kepada setiap 230 masyarakat yang terkena dampak konflik. Tiap desa juga menerima satu juta rupiah (AS$110) untuk mengadakan sebuah peusijeuk (upacara selamatan tradisional) sebagai kegiatan rekonsiliasi dan selamatan atas selesai-nya proyek. IOM juga mengembangkan program pelatihan kerja dan peluang pendidikan hingga penyediaan perlengkapan bertani dan bahan-bahan untuk memulai usaha kecil.
Pemerintah Jepang juga memberikan hibah senilai US$ 357.494 atau sekitar Rp 3 miliar pada bekas TNA, khususnya yang mukim di Pidie.

Melalui bantuan dana reintegrasi, pemerintah, organisasi-organisasi badan dunia dan ornop (nasional maupun internasional), kini tengah bahu-membahu membangun talisi laturahmi untuk merekatkan kembali rakyat Aceh yang sempat terkoyak akibat konflik bersenjata. Namun medianya bukan melulu lewat bantuan ekonomi, tapi juga menyentuh aspek psikologi, kebudayaan, pendidikan, kesehatan, politik dsb. Berbagai usaha untuk membangun trust building agar terbangun nilai-nilai kebersamaan diantara warga yang terbelah, sudah selayaknya untuk didukung.

Pers memiliki peran strategis untuk menginfor-masikan dan memperkuat usaha-usaha membangun tali silaturahmi diantara mantan kombatan dan warga (korban konflik). Untuk itu, pers harus mampu mentransformasikan peran mereka agar tidak sekadar sebagai pewarta informasi yang mengutamakan nilai konflik. Konflik yang mengiringi proses reintegrasi, seharusnya dipahami sebagai bagian dari proses resolusi konflik menuju perdamaian yang sejati.
Pers karenanya harus berperan aktif dan pro aktif dalam ikut mendorong para pihak untuk membangun tali silaturahmi. Tentu saja pers, atau jurnalis tidak dituntut sebagai mediator. Namun mereka dapat “memprovokasi” para pihak yang terlibat dalam proses reintegrasi untuk mengedepankan upaya-upaya penyelesaian konflik secara damai lewat fakta media (berita) yang mereka produksi.

Hal ini mengingat daya persuasi pemberitaan pers yang dipercaya ikut memperkuat pola pikir dan pola tindak seseorang. Untuk itu dibutuhkan perubahan perspektif dan ketrampilan teknis untuk mengimplemen-tasikan jurnalisme damai dalam meliput berbagai isu atau peristiwa yang muncul di Aceh, tidak terkecuali dalam meliput proses reintegrasi.
Untuk itu, KIPPAS bekerjasama Komisi Eropa menyelenggarakan “Pelatihan Jurnalisme Damai untuk Meliput Proses Reintegrasi” sebagai bagian dalam Program “Peningkatan Kapasitas Profesio-nalisme Jurnalis untuk Mengawal Proses Perdamaian di Aceh”.

Tujuan
1. Meningkatkan pemahaman konsep dan teknik jurnalisme damai bagi para jurnalis media cetak dan radio yang berguna bagi jurnalis ketika mereka melakukan liputan reintegrasi di Aceh;
2. Meningkatan ketrampilan menulis straight news dan (news) features berperspektif jurnalisme damai untuk liputan reintegrasi di Aceh;
3. Memberikan informasi tentang proses, tahapan, kegiatan, dan potensi-potensi konflik yang mungkin selama proses reintegrasi di Aceh;
4. Mempersiapkan rencana liputan mendalam proses reintegrasi di Aceh, mulai dari latar belakang masalah, angle, daftar pertanyaan, narasumber, lama liputan dan pelaporan.
Bentuk Kegiatan
– Ceramah, diskusi, liputan, praktek menulis. Memproduksi berita, dan simulasi

Peserta Kegiatan
1. Peserta kegiatan terdiri dari 15 (lima belas) jurnalis cetak dan radio di Aceh;
2. Peserta adalah jurnalis yang pernah memiliki penga-laman menulis (news) feature (topik apapun). Bukti tulisan, baik dalam bentuk klipping atau rekaman suara, harus disertakan ke panitia (dapat dibawa pada saat pelatihan);
3. Peserta harus membuat rencana liputan (ToR), yang nantinya akan dikompetisikan dalam kegiatan pelati-han untuk diberikan fasilitas pendanaan oleh panitia. Panitia hanya akan memberikan 5 ToR Liputan terbaik untuk difasilitasi dalam bentuk kegiatan “Liputan Mendalam”. Pengaturan hak dan kewajiban secara detil, akan diatur dalam sebuah ikatan perjanjian antara KIPPAS dengan peserta yang terpilih ToR liputannya.

Kegiatan Liputan Mendalam
Kegiatan liputan mendalam adalah sebuah upaya untuk memfasilitasi peserta pelatihan untuk melakukan liputan-liputan seputar isu pelaksanaan pilkada dan hasil-hasilnya. Melalui kegiatan ini, diharapkan akan lahir karya-karya jurnalistik dalam bentuk features berperspektif jurnalisme damai, yang dimuat (disiarkan) pada institusi pers dimana jurnalis bekerja atau berkon-tribusi. Pada akhir tahun program, karya-karya jurnalistik terpilih akan dipadukan dengan seperangkat materi pelatihan lain, dan diterbitkan dalam bentuk buku.

Jangka Waktu dan Pendanaan Kegiatan Liputan Mendalam
Kegiatan liputan mendalam dilakukan selama 2 minggu (12 hari efektif) sejak ditandatanganinya kontrak dengan jurnalis terpilih. KIPPAS hanya memberikan paket bantuan dana liputan sebesar Rp 1.200.000 (satu juta duaratus ribu rupiah) per orang. Biaya-biaya lain yang ditimbulkan dari kegiatan liputan mendalam, tidak menjadi tanggungan KIPPAS.

Mentoring
Mentoring dilakukan dengan menggunakan sarana milis, yang akan dibentuk secara khusus untuk mewadahi komunikasi diantara para peserta kegiatan liputan mendalam. Untuk mengkoordinasikan proses mentoring, fasilitator bersama pelatih akan melakukan monitoring untuk mendiskusikan kemungkinan terjadinya hambatan-hambatan pada saat liputan. Mentoring juga dilakukan ketika jurnalis hendak menulis dan atau tengah melakukan kegiatan penulisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s