Selingkuh Pers Medan

Riset Berita Perkosaan LJ pada Surat Kabar Waspada, Analisa,
Sinar Indonesia Baru dan Radar Medan

Oleh: Pemilianna Pardede
Analis Media KIPPAS

Peranan media massa dianggap sangat penting bagi kemajuan perempuan karena media ini dipercaya sangat efektif untuk mempromosikan debat-debat mengenai pembangunan dan Hak Azasi Manusia, termasuk hak-hak perempuan dan posisi perempuan dalam masyarakat. Media Massa juga merupakan sumber daya bagi perempuan untuk menyebarkan jenis-jenis informasi alternatif, pencitraan dan analisis, serta membangun jaringan.

Selain itu media massa dipercaya mempunyai banyak titik kekuatan, diantaranya adalah liputan yang luas, efektivitas yang tinggi dalam meningkatkan kesadaran, terhormat dan terpercaya. Tetapi dalam kenyataan, titik kekuatan yang diagungkan itu tidak sepenuhnya bermanfaat untuk kemajuan perempuan. Ini terbukti masih banyak media massa khususnya media surat kabar yang tidak perduli terhadap ketidakadilan yang diderita perempuan. Malah media surat kabar sadar atau tidak kerap menjadi alat melecehkan perempuan melalui produk –produk berita mereka. Khususnya berita-berita mengenai pelecehan dan kekerasan seksual. Dalam laporan atau tulisan-tulisannya, media sering menonjolkan aspek sensasi peristiwa pemerkosaan itu sendiri, daripada mengungkap profil pelakunya. Kiat atau tips untuk terhindar dari kekerasan dan pelecehan seksual, malahan jarang ditulis.

Menurut Ana Nadhya Abrar, Media surat kabar amat sering memberitakan adegan pelecehan dan kekerasan seksual tanpa berusaha mengaitkannya dengan kondisi objektif masyarakat. Padahal menurut Doris A. Graber, berita pelecehan dan kekerasan seksual harus ditulis secara profesional, artinya berita yang dihasilkan wartawan harus ditulis dengan ketrampilan jurnalistik yang tinggi, yang memadukan unsur benar, penting dan bermanfaat bagi pembaca. Berita seperti ini diyakini Graber dapat membantu khalayak mengenali gejala pelecehan dan kekerasan seksual dan cara menghindarinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan menurut persfektif kebudayaan, pemberitaan kasus pelecehan dan kekerasan seksual harus mampu memberdayakan (empowering) khalayak yang membacanya, mulai dari mengkonservasikan budaya lokal yang menentang pelecehan dan kekerasan seksual, mengekpresikan nilai-nilai yang dominan dalam masyarakat tentang pelecehan dan kekerasan seksual sampai menonjolkan sanksi moral bagi orang yang melakukan pelecehan dan kekerasan seksual. Dari proses pemberdayaan (empowerment) inilah diharapkan khalayak memiliki keberanian untuk menentang dan menghambat pelecehan dan kekerasan seksual. Dan untuk bisa menulis sebuah berita pelecehan dan kekerasan maka wartawan harus melakukan empat langkah yaitu: mengumpulkan fakta untuk menjawab pertanyaan 5 W+ 1H tentang peristiwa yang diliput, menghubungkan fakta dengan prinsip-prinsip penyelamatan korban, menilai fakta tersebut dengan kriteria nilai berita, dan harus memandang fakta tersebut lebih dari satu sudut pandang.

Bagaimanakah pers Sumatera menyiarkan berita pelecehan dan kekerasan seksual? Apakah mereka sudah menulis sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalisme profesional?
Berita yang dianalisis

Riset ini meneliti tentang berita perkosaan terhadap gadis LJ (14 tahun) yang dilakukan kekasihnya (SB) dan salah seorang dari 8 pemuda (preman) yang mencegat dan memaksa SB memperkosa LJ di Stadion Teladan, Medan. Peristiwa tersebut dimuat pada 4 (empat) surat kabar Medan, yaitu Sinar Indonesia Baru, Waspada, Radar Medan dan Analisa mulai tanggal 7 Juli 2001. Dari empat surat kabar tersebut, diperoleh 8 (delapan) item berita yaitu: Sinar Indonesia 2 item, Waspada 4 item, Analisa 1 item dan Radar Medan 1 item. Berita-berita tersebut dianalisis dengan analisis wacana. model persfektif feminis yang dikemukakan Sara Mills dan critical lingusitics yang dikemukakan Roger Fowler, Robert Hodge dkk. Persfektif feminis digunakan untuk melihat bagaimana wanita ditampilkan dalam teks berita. Karena menurut Sara Mills, teks berita selalu bias menampilkan wanita. Wanita cenderung ditampilkan dalam teks sebagai pihak yang salah, marjinal dibandingkan dengan pihak laki-laki.

Sedangkan critical lingusitics digunakan untuk melihat bagaimana pengalaman dan politik media yang berbeda dapat dilihat dari bahasa yang dipakai, artinya bagaimana sebuah peristiwa yang sama dapat dibahasakan media dengan bahasa yang berbeda. Pada saat menulis berita perkosaan, media pers selalu membahasakan suatu peristiwa secara halus dalam jurnalisme maskulin. Sehingga apa yang menjadi tragedi bagi kaum wanita tidak direkontruksi secara utuh dalam bahasa pers, dan sebaliknya ia justru cenderung berubah menjadi hiburan semata. Sejumlah Pers menggunakan permainan bahasa (diksi) yang secara tidak langsung menjauhkan pembaca dari fakta yang sesungguhnya.

Fenomena Kekerasan
Kekerasan pada dasarnya adalah bentuk perilaku, baik verbal maupun non verbal yang dilakukan perorangan atau sekelompok orang sehingga menyebabkan efek negatif secara fisik, emosional dan psikilogis terhadap orang yang menjadi sasaran. Batasan yang lebih khusus tentang kekerasan terhadap perempuan telah disebutkan dalam deklarasi PBB tahun 1993 pada pasal 1 yang berbunyi “Kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindak kekerasan yang berbasis gender, yang mengakibatkan rasa sakit atau penderitaan terhadap perempuan, termasuk ancaman, paksaan, pembatasan kebebasan baik yang terjadi diarea publik maupun di domestik”.

Salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan seksual dalam bentuk pemerkosaan (rape). Perlu diketahui bahwa fenomena pemerkosaan dapat ditinjau dari cara melakukannya. Pemerkosaan tidak semata-mata dilakukan dengan pemaksaan atau ancaman tetapi juga bujukan, janji-janji dan juga penggunan obat terlarang yang membut korban tidak sadarkan diri. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi didepan umum atau dalam kehidupan pribadi.

Sedangkan dalam pasal 285 KUHP makna perkosaan dipersempit menjadi “setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan-kekerasan, memaksa seorang perempuan untuk melakukan hubungan seksual dengannnya diluar nikah. Karena telah melakukan perkosaan, akan dihukum dengan hukuman penjara untuk selama-lamanya 12 tahun.
Dari pengertian diatas jelas disebutkan bahwa setiap tindakan pemaksaan yang dilakukan siapapun terhadap perempuan untuk melakukan hubungan seksual adalah pemerkosaan.

Temuan
Sepasang kekasih, LJ (14) dan SB (18) pada 4 Juli malam melintas di daerah Stadion Teladan, Medan. Mereka kemudian dihadang 8 orang preman yang mengaku tekab polisi dan digelandang masuk kedalam stadion. Di bawah ancaman kedelapan orang preman tersebut, SB dipaksa untuk memperkosa pacarnya LJ. Dan setelah pemerkosaan itu selesai dilakukan, salah seorang dari 8 preman tersebut juga memperkosa korban, sedangkan 7 orang lainnya ikut melakukan pelecehan terhadap korban.

Berita tersebut dimuat secara serentak oleh Sinar Indonesia Baru, Analisa, Waspada dan Radar Medan pada tanggal 7 Juli 2001. Keempat surat kabar yang diriset merekontruksi peristiwa perkosaan tersebut dengan berbeda-beda. Dan menariknya tidak ada satupun judul berita dari empat surat kabar tersebut yang memunculkan istilah perkosaan. Padahal faktanya gadis LJ telah diperkosa 2 kali. Pertama oleh pacarnya, kedua dilakukan oleh salah seorang dari 8 preman tersebut, sedangkan 7 orang preman lainnya melakukan pelecehan seksual terhadap korban.

Bahasa Pers
Menurut Van Dijk, pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan semata-mata dipandang sebagai cara berkomunikasi, tetapi dipandang sebagai politik berkomunikasi, suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi dan menyingkirkan lawan atau penentang. Kata-kata yang berbeda untuk menggambarkan satu peristiwa menurut Roger Fowler tidaklah semata-mata karena teknis tetapi sebagai praktek ideologi tertentu, karena bahasa yang berbeda itu akan menghasilkan realitas yang berbeda pula ketika diterima oleh khalayak. Bahasa menyediakan alat bagaimana realitas itu dipahami oleh khalayak. Hal ini sesuai dengan pendapat Sara Mills yang mengatakan bahwa teks berita adalah hasil negosiasi antara penulis dan pembaca. Ketika wartawan menulis, wartawan secara tidak langsung memperhitungkan keberadaan pembaca. Kehadiran yang diperhitungkan itu bisa menarik dukungan, menekankan, atau untuk menarik simpati dari pembaca, atau meyakinkan. Disini terjadi negosiasi antara wartawan dan sebagai penulis dengan khalayak pembacanaya.

Sinar Indonesia Baru: “Hubungan Intim dan Menodai”
Sinar Indonesia Baru memuat berita tersebut sebanyak 2 kali yaitu pada terbitan tanggal 7 Juli di halaman pertama dengan judul “Sepasang kekasih Dipaksa 8 Pria Lakukan Hubungan Intim di Medan” dan terbitan tanggal 8 Juli di halaman 2 dengan judul: “SB Mengaku Diancam Akan Dibunuh ke-8 Pria Jika Tak Menodai Pacarnya”.

Kedua judul berita Sinar Indonesia Baru tersebut tidak menggambarkan realitas atau fakta yang terjadi. Perkosaan yang dialami korban, walaupun dilakukan kekasihnya adalah tetap perkosaan (dating rape). Dengan memilih judul seperti di atas, khalayak pembaca tidak mendapat persepsi yang benar tentang peristiwa yang menimpa korban. Bahkan korban juga tidak akan mendapat simpati dan empati khalayak pembaca karena Sinar Indonesia Baru menggunakan istilah-istilah atau bahasa yang menjauhkan pikiran (persepsi) khayalak terhadap fakta yang sesungguhnya terjadi.

Menurut Fowler dkk, bahasa pada dasarnya bersifat membatasi. Kita diajak berfikir untuk memahami seperti itu, bukan yang lain. Klasifikasi menyediakan arena untuk mengontrol informasi dan pengalaman. Kosa kata berpengaruh terhadap bagaimana kita memahami dan memaknai suatu peristiwa. Hal ini karena khalayak tidak mengalami atau mengikuti suatu peristiwa secara langsung. Karena itu ketika membaca suatu kosa kata tertentu, akan dihubungkan dengan realitas tertentu.

“Hubungan intim” adalah penghalusan (eufemisme) dari hubungan seksual yang dilakukan oleh wanita dan pria. Pilihan kata ini akan membatasi khalayak berfikir hal lain. Memang penggunaan bahasa baik berupa pelunakan maupun pengerasan (disfemisme) dapat dilakukan media untuk memojokkan perempuan yang menjadi korban perkosaan. Bahasa yang muncul dalam pemberitaan media dapat dijadikan indikasi bagi konstruksi sosial.

Ketika wartawan menulis bahwa yang dialami korban adalah pemaksaan hubungan intim, maka khalayak akan memahami peristiwa tersebut bukan perkosaan. Hal ini terjadi karena mereka tidak menyaksikan peristiwa tersebut. Dengan pilihan kata seperti itu, maka dalam berita Sinar Indonesia Baru, tidak ada pihak yang disakiti. Bahkan secara tidak langsung Sinar Indonesia Baru juga tidak terlalu menyalahkan ke 8 orang tersebut karena surat kabar tersebut mengkonstruksi kejadian tersebut semata sebagai pemeksaan sepasang kekasih agar melakukan hubungan seksual biasa.

Pilihan kata “menodai” pada judul kedua telah menjauhkan juga bisa menyesatkan khalayak pembaca. Kata “menodai” lebih menggiring pemahaman publik aka tindakan mencemarkan/menjelekkan sesuatu yang masih dapat dibersihkan. Jadi kata “menodai”akan mereduksi fakta perkosaan yang dialami korban yang akan suli dilupakannya.

Selain pemilihan kata dalam judul berita yang tidak menggambarkan fakta yang sesungguhnya, Sinar Indonesia Baru juga cenderung melindungi pelaku perkosaan dengan melakukan transformasi atau pasivasi pada judul beritanya. Pasivasi menurut Roger Fowler dkk adalah mengubah tata susunan kalimat dari bentuk aktif menjadi pasif. Dalam kalimat aktif, aktor sebagai pelaku diletakkan dimuka, digambarkan melakukan suatu tindakan yang mengenai objek.

Tetapi ketika kalimat aktif tersebut diubah kedalam bentuk pasif (pasivasi) pola semacam itu mengalami perubahan. Proses bukan ditujukan kepada subjek tetapi objek, artinya yang menjadi titik perhatian adalah objek atau pihak yang dikenai suatu tindakan. Dengan melakukan trasformasi pada judul berita, maka ke 8 pria pelaku pelecehan akan lolos dari perhatian khalayak. Pusat perhatian khalayak bukan lagi terhadap pelaku melainkan korban pelecehan tersebut. Dengan membentuk kalimat pasif, titik perhatian yang ingin dikomunikasikan kepada khalayak adalah kemalangan sepasang kekasih tersebut bukan kejahatan pelakunya.
Kalau Sinar Indonesia Baru tidak melakukan pasivasi, maka kedua judul seharusnya ditulis seperti berikut: “8 Pria Memaksa Sepasang Kekasih Melakukan Hubungan Intim di Medan.” Dan judul kedua ditulis: “8 Pemuda Mengancam Akan Membunuh SB Jika Tidak Menodai Pacarnya.”
Kekerasan simbolik tidak hanya dilakukan Sinar Indonesia Baru pada judul beritanya saja, tetapi juga dalam tubuh berita. Perkosaan yang dilakukan salah seorang preman terhadap korban juga dihaluskan sebagai ‘hubungan badan’. Hal itu terlihat dalam kalimat berikut:

“Sementara tersangka ES kepada petugas mengakui telah melakukan hubungan badan dengan korban LJ karena tidak tahan melihat dua sejoli itu melakukan hubungan badan. Disaat giliran sayalah korban tidak berdaya lagi.”

Kata “hubungan badan” telah mengaburkan fakta yang sesungguhnya, yaitu perkosaan Es terhadap gadis JL. Pilihan kata “hubungan badan” akan menyakitkan bagi korban dan keluarganya. Karena dengan kata itu korban seakan rela melayani sang pemerkosa tanpa adanya paksaan. Dengan pilihan kata seperti itu, Sinar Indonesia Baru sama sekali tidak berpihak pada penderitaan korban, tetapi justru memihak pada pelaku perkosaan. Pembelaan Sinar Indonesia Baru pada tersangka juga terlihat dengan pemunculan istilah “pria”pada ES yang nyata-nyata adalah preman.

Analisa: “Berhubungan Suami Isteri”
Analisa memuat kasus perkosaan tersebut di halaman 5 dengan judul: “Polisi Ringkus 8 Preman yang Paksa Dua Remaja Berhubungan Suami Istri”. Sama seperti Sinar Indonesia Baru, Analisa juga menulis bahwa apa yang dialami LJ bukan perkosaan, tetapi sekadar “hubungan suami istri” biasa. Dengan memunculkan istilah “hubungan suami isteri”, maka khalayak memiliki pemahaman bahwa LJ tidak keberatan untuk “melakukan hubungan suami istri” alias merasa tidak ada paksaan. Dalam sebuah rumah tangga, hubungan suami istri biasanya dilakukan atas dasar suka-sama suka, bukan atas dasar paksaan sepihak.

Pada tubuh beritanya, Analisa memunculkan istilah “penodaan”. Kata “penodaan” selain menjauhkan pembaca dari fakta sebenarnya, kata ini juga sekaligus digunakan untuk menghilangkan pelaku. Kata “penodaan adalah nominalisasi dari menodai. Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja yang bermakna tindakan /kegiatan menjadi kata benda yang bermakna peristiwa. Dengan nominalisasi tersebut, pemberitaan Analisa akhirnya hanya berusaha menekannkan peristiwanya bukan pelakunya. Kata penodaan akan terlepas dari konteks pelaku, korban, tempat dan waktu. Hal itu terlihat dari kutipan teks berikut:

“Polsekta Medan Teladan mendapat laporan kasus penodaan itu segera melakukan pencarian. Perbuatan penodaan yang dilakukan pacarnya SB dan salah seorang pencegatnya, dilaporkan pihak keluarga LJ ke Polsekta Medan Teladan.”

Kata penodaan akan tetap punya arti walaupun subjek dan objek tidak menyertainya. Karena penodaan sudah menunjuk pada peristiwa yang tidak membutuhkan informasi yang lebih kongkret saat itu juga.

Sedangkan perkosaan yang dilakukan salah seorang pencegat, seperti ditulis Analisa, diumunculkan dengan istilah “melayani kehendaknya”.

“Setelah remaja itu usai berhubungan badan, salah seorang pemuda dari kelompok itu memaksa gadis LJ “melayani kehendaknya”.

Kata “melayani kehendaknya” telah membingungkan pembaca dan sama sekali jauh dari fakta tindak perkosaan itu sendiri. Melayani kehendaknya memiliki arti yang sangat luas, karena melayani kehendaknya tidak harus melayani dalam arti seksual tapi juga bisa hal yang lain. Kata ini hanya kalimat pemaksaan biasa dan tidak harus perkosaan. Dengan pilihan istilah tersebut Analisa akhirnya terkesan melindungi dan tidak menyalahkan pelaku perkosaan.

Radar Medan : “Bersetubuh”
Tidak berbeda dengan Sinar Indonesia Baru dan Analisa, Radar Medan juga menuliskan apa yang dialami gadis LJ bukan pemerkosaan tetapi hanya bersetubuh. Simak judul berita Radar Medan yang dimuat 7 Juli di halaman 1 yang berjudul: “8 Preman Paksa Dua Sejoli yang Pacaran Bersetubuh”.

Kata bersetubuh adalah penghalusan dari hubungan suami istri yang dilakukan tanpa paksaan dan bisanya atas kesepakatan kedua pihak. Dengan memunculkan kata bersetubuh, Radar Medan tidak menyalahkan kekasih korban yang melakukan perkosaan. Padahal korban masih berusia muda dan baru lulus SD. Dalam hal ini Radar Medan tidak mengajak pembaca untuk menaruh simpati pada korban dan menganggap musibah yang dialami korban tidak serius serta terkesan main-main. Simak kutpian teks berita berikut yang mengusung opini wartawannya:

“Entah apa yang ada dibenak delapan pemuda ini. Dua sejoli yang berstatus pacaran digiring kedalam stadion teladan Medan lalu keduanya dipaksa bersetubuh dihadapan kedelapan pria itu.”

Dengan menambah kalimat “entah apa yang ada dibenak delapan pemuda ini”, menimbulkan pemahaman khayalak bahwa Radar Medan tidak menganggap apa yang dilakukan ke 8 pemuda tersebut sebagai kejahatan. Tetapi sekadar tindakan iseng yang memaksa seorang pemuda bersetubuh dengan kekasihnya. Hal ini juga didukung opini lainnya yang menyatakan bahwa perbuatan delapan pemuda itu sekedar aksi gila mereka. Hal itu terlihat dari kalimat berikut:

“Usai menjalankan aksi gila mereka, kedelapan pria itu lalu menyuruh An dan Ful beranjak dari daerah tersebut sambil mengancam untuk tidak memberitahukan kejadian tersebut.”

Dengan kalimat tersebut, wartawan terkesan tidak menyalahkan pelaku, karena tindakan yang dilakukan delapan pemuda itu hanya aksi gila dari keisengan mereka dan ini terkesan lucu serta hanya main-main saja. Ketidak seriusan wartawan dalam menaggapi kasus ini juga terlihat pada opini berikut:

“Ditengah lampu yang remang-remang serta suasana sunyi serta disaksikan kedelapan pria itu, An dan Ful melakukan hubungan suami-isetri. Apakah ke 8 pria itu puas? Belum. Begitu Ful dan An selesai berhubungan, salah seorang dari mereka ES minta jatah. Gadis An pun tak kuasa menolak. Dihadapan kekasihnya, gadis yang baru tamat SMP ini dipaksa memenuhi nafsu bejat ES.”

Kalimat diatas menggambarkan ketidakpedulian wartawan terhadap penderitaan korban. Yang muncul justru upaya wartawan untuk menciptakan kesan romantisme yang mendukung terjadinya pristiwa perkosaan. Istilah “minta jatah” yang digunakan Radar Medan semakin menegaskan ketidaksimpatian wartawan terhadap korban. Pemunculan istilah tersebut membawa pada pemahaman bahwa kesucian korban tidak lebih dari sebuah barang yang bisa dibagi-bagi, dijatahkan dan menjadi hak pacar korban dan kedelapan pemuda tersebut. Akibatnya sah-sah saja jika salah seorang dari kedelapan pria tersebut kemudian minta bagian. Selain itu, surat kabar ini juga melakukan kekeliruan pada saat menyebut status korban lulus SMP padahal kenyataannya korban baru lulus SD.

Waspada: “Berzinah”
Dari empat media yang diteliti, Waspada merupakan surat kabar yang paling banyak memuat berita perkosaan tersebut. Waspada memuatnya pada edisi tanggal 7, 8, 10 dan 12 Juli dengan judul tanggal (7/7) “8 Pria Ngaku Tekab Paksa Dua Insan Berzina di Tengah Lapangan Stadion Teladan”, judul berita tanggal (8/7) Kasus dipaksa zina di stadion teladan. “Saya melakukan karena diancam bunuh” Judul berita (10/7) “ Kasus dipaksa zina di Stadion Teladan, Ros Tetap Ingin Sekolah. Sedangkan judul berita (12 /7) “8 Pria Ngaku Tekab Paksa Pelajar SD Zina Masih Ditahan”

Tidak berbeda dengan tiga media lainnya, pemerkosaan terhadap gadis LJ juga ditulis Waspada sebagai tindakan berzina biasa tanpa ada unsur pemerkosaan. Istilah berzina sangat berbeda dengan perkosaan. Menurut KUBI zina adalah perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat perkawinan atau perbuatan besenggama seorang laki-laki yang terikat perkawinan dengan seorang perempuan yang bukan istrinya, atau seorang perempuan yang terikat perkawinan dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya.

Dari pengertian tersebut, berzina adalah perbuatan yang disetujui kedua pihak tanpa adanya paksaan dan biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Berzina memiliki makna yang lebih jelek dibanding bersetubuh, hubungan suami istri, atau hubungan intim. Zina adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama dan melanggar hukum. Penggunaan kata zina sangat merugikan korban karena telah melibatkan korban sebagai salah seorang pelaku kejahatan. Pada hal faktanya korban telah mengalami tidak kekerasan dua kali: perkosaan dan pelecehan seksual.

Selain dalam judul, Waspada juga banyak menggunakan istilah zina dalam tubuh beritanya. Termasuk pilihan nama samaran untuk korban. Nama samaran yang dipilih Waspada untuk korban adalah Ros. Ros adalah nama lain dari bunga mawar yang bunganya indah dan berbau harum. Pemberian nama ini seakan mengambarkan korban sebagai sebuah mawar yang memang pantas untuk dipetik. Sedangkan perkosaan yang dilakukan salah seorang preman ditulis Waspada dengan istilah “mencicipi” seperti terdapat dalam teks berikut:

“Bahkan salah seorang diantaranya ikut mencicipi kemolekan tubuh siswi yang baru tamat SD itu.”

Kata “mencicipi kemolekan” sangat menyakitkan bagi korban sekaligus merupakam nemtil pelecehan. Mencicipi merupakan istilah yang biasa dipergunakan untuk mencoba/ mengecap masakan atau makanan. Dalam hal ini korban di perlakukan tak lebih dari makanan yang pantas dicicipi pelaku untuk mengetahui rasanya. Diksi ini semakin menempatkan korban sebagai pihak yang tidak berdaya dalam struktur kekerasan laki-laki. Dan diksi ini selalu muncul pada empat item berita yang diproduksi media ini. Selain itu Waspada juga melakukan pemerkosaan kedua dengan menggambarkan ketelanjangan, posisi korban setelah diperkosa. seperti dalam kalimat berikut:

“Saat itulah ES mendekati Ros dan melihat korban dalam keadaan terlentang tanpa memakai pakaian hingga timbul birahinya. Melihat pemandangan dan posisi korban yang cukup menggiurkan, ES kemudian membuka celananya dan melakukan perkosaan terhadap Ros.

Dengan menulis kutipan diatas, Waspada sudah melanggar kode etik Wartawan, khususnya butir ke-4 yang menyatakan, Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis dan cabul.

Selain itu Waspada juga menggunakan konstruksi seksis untuk meletakkan korban sebagai perempuan pada posisi kekerasan gender yang layak diterimanya. Penggambaran berparas cantik dan berkulit putih merupakan “fetihisme seks” yang menyatakan korban layak diperkosa sebagaimana kutipan berikut:

“Dengan ditemani kedua orangtuanya, Ros yang berparas cantik dan berkulit putih serta mengenakan T-Shirt dan celana panjang putih dan baru tamat SD itu hanya menganggukkan kepalanya ketika ditanya Waspada di Mapolsekta Medan Teladan Senin.” (9/7).

Deskripsi gadis cantik dan berkulit putih, serta baru tamat SD adalah wacana yang digunakan Waspada menggiring pembaca pada kesan bahwa kecantikan usia belia dari korbanlah yang membuat ia diperkosa.

Selain itu, Waspada cenderung tidak menyalahkan para tersangka, bahkan melindungi. Waspada melakukan generalisasi untuk melindungi delapan tersangka ini. Caranya dengan menggambarkan apa yang dilakukan kedelapan pemuda tersebut bukan kesalahan mereka, tetapi karena moral masyarakat yang sudah merosot. Selain moral, faktor ekonomi dan politik juga digunakan untuk membenarkan tindakan kejahatan yang terjadi. Hal tersebut tercermin dalam kutipan teks berita Waspada berikut:

“Maraknya kasus pemerkosaan delapan pria terhadap sepasang kekasih, perjinahan antara ayah dengan anak kandung, pelecehan seksual dan mempertontonkan perbuatan mesum terjadi karena dekadensi moral masyarakat sudah merosot.”

Selain membela tersangka Waspada juga cenderung melimpahkan kesalahan kepada korban dan bukan pada pemerkosa. Walaupun tidak menyebut secara spesifik, tetapi dalam pemberitaannya Waspada cenderung menyalahkan orang tua korban yang kurang mengawasi anaknya sehingga terjadi perkosan tersebut. Dan cenderung menyalahkan semua wanita yang suka berpakaian seksi.

Hal ini terlihat dari kutipan berikut:

“Untuk itu diharapkan kepada para orang tua untuk selalu mengontrol atau mengawasi anak dalam bergaul dalam lingkungan sekitar, wanita mengurangi pakaian seksi dijalanan, pihak keamanan agar dapat memberi rasa aman. Kini jamannya super ‘edan’ sehingga perbuatan jelek apapun bisa terjadi.”

Kalimat Waspada diatas tidak menyalahkan kejahatan tetapi orang tualah yang harus menghindari kejahatan itu dengan menjaga anak-anaknya dan secara tidak langsung mengatakan bahwa wanita yang berpakaian seksilah yang menyebabkan kejahatan perkosaan. Sedangkan kalimat “ini jamannya sudah edan sehingga perbuatan apapun bisa terjadi” secara jelas ingin mengalihkan konteks kejahatan dengan mempersalahkan jaman yang memang sudah (serba bisa) saat ini. Padahal kenyataannya bukan karena orang tua yang kurang mengawasi anak-anaknya atau karena wanita berpakaian seksi yang membuat wanita diperkosa, tetapi karena perkosaan adalah kejahatan. Buktinya dalam beberapa kasus, justru orang tua yang menjadi pelaku perkosaan. Sedangkan wanita yang tidak cantik dan berpakaian seksipun banyak yang menjadi korban perkosaan.

Posisi Subjek-Objek
Menurut persfektif feminis, perempuan cenderung ditampilkan dalam teks sebagai pihak yang salah, marjinal dibandingkan dengan pihak laki-laki. Pandangan yang dikemukakan Sara Mills ini sangat relevan karena dalam kenyataannya wanita selalu dimarjinalkan dalam pemberitaan baik oleh pelaku kekerasan itu sendiri maupun wartawan yang menuliskan berita. Media selalu menampilkan laki-laki berbicara sebagai dirinya sendiri, sedangkan perempuan tidak bisa berbicara sebagai dirinya sendiri melainkan melalui tampilan orang lain. Sedangkan tampilan orang lain terkadang lebih sering memojokkan daripada membela. Komentar orang lain dalam menceritakan perempuan sebagai korban justru semakin memarjirnalkan perempuan tersebut dalam media.

Menurut Sara Mills, sebenarnya wartawan hanya berfungsi sebagai pewarta untuk melaporkan pendapat aktor yang terlibat. Dengan demikian setiap aktor pada dasarnya harus diberi kesempatan yang sama untuk menjadi subjek atas dirinya sendiri, menceritakan dirinya sendiri, dan mempunyai kemungkinan atas penggambaran dunia menurut persepsi dan pendapatnya.
Hal inilah yang terjadi pada gadis LJ yang menjadi korban dalam kasus penelitian ini. Dari 4 surat kabar yang diteliti, tidak satupun yang memberikan kesempatan kepada korban untuk bebicara (menjadi subjek). Korban hanya ditampilkan melalui narasi wartawan, kekasih, dan kedua orang tuanya. Sebagai contoh adalah gambaran buruk yang diberikan terhadap korban melalui kalimat berikut:

“Keterangan yang diperoleh menyebutkan, malam itu sepasang sejoli baru pulang dari discotiq hendak kerumah masing-masing.”

Tanpa menyebutkan darimana sumbernya, Sinar Indonesia Baru mengatakan, korban dan kekasihnya baru pulang dari diskotiq. Diskotiq sering diidentikkan sebagai tempat untuk berhura-hura dan bersenang-senang. Dan perempuan yang berkunjung ke diskotiq sering dicap sebagai perempuan tidak baik. Dengan menyebutkan, korban dan kekasihnya baru pulang dari diskotiq, maka yang ada dibenak pembaca adalah bahwa korban adalah wanita tidak baik.

Apalagi usianya masih dibawah umur. Kebenaran berita ini tidak dapat di ketahui karena korban tidak diberi kesempatan untuk memberikan keterangan apakah benar ia baru dari diskotiq atau hanya berjalan-jalan di daerah stadion seperti pengakuan kekasih korban yang dimuat tiga surat kabar lainnya.

Kalau korban tidak diberi kesempatan untuk bicara, sebaliknya kekasih korban dan tersangka lainnya diberi kesempatan untuk membela dirinya. Pacar korban misalnya mengatakan bahwa selama ini ia tidak pernah memperlakukan korban dengan tidak baik. Ancaman kedelapan preman tersebutlah yang membuat ia memperkosa pacarnya. Pembelaan tersebut terlihat pada teks berita berikut:

“SB mengaku, selama berpacaran dengan LJ, SB mengaku selalu berjalan dengan baik dan belum pernah melakukan perbuatan terlanjur. Bahkan ia mengaku hubungan mereka sudah diketahui kedua orang tua masing-masing. Saya terpaksa melakukan hubungan suami-isteri karena diancam kedelapan pria yang sama sekali tidak saya kenal. Apabila permintaan mereka tidak saya penuhi, saya diancam akan dibunuh. Baru pertamakali itulah saya melakukannya terhadap pacar saya.”

Dengan menulis kalimat tersebut Sinar Indonesia Baru menunjukkan pacar korban tidak bersalah, karena perkosaan itu dilakukan secara terpaksa. Kalimat “baru pertama kali itulah saya melakukannya” memperjelas bahwa ia tidak bersalah. Karena selama ini dia sudah berlaku baik terhadap korban. Pembelaan pelaku tidak hanya datang dari dirinya sendiri, tapi juga dari wartawan yang berbicara atas dirinya. Hal itu terlihat dari kutipan Radar Medan berikut:

“Semula Ful menolak, namun setelah salah seorang pemuda itu menghujamkan bogem mentah ke wajahnya, akhirnya Ful terpaksa melakukan perbuatan itu.”

Keberpihakan media ini terhadap pelaku (pacar korban) sangat nyata. Jurnalis mencoba meyakinkan pembaca bahwa pacar korban terpaksa melakukannya karena dia dipukuli. Pembelaan yang sama juga dilakukan Waspada seperti berikut”

“Karena ketakutan dan dipaksa, akhirnya SB dengan terpaksa melakukan hubungan intim dengan pacarnya disaksikan delapan pemuda tersebut. Ironisnya usai melakukan hubungan itu, salah seorang tersangka yang sudah tidak tahan gantian melakukan perbuatan itu. Sedangkan teman-temannya sebagian ada yang memegangi bagian tertentu dari tubuh Ros. Dengan wajah sedih, SB kemudian mengatakan, setelah disuruh berzina, dia ditarik dan disuruh berlari, setelah itu SB tidak mengetahui kalau salah seorang pelaku ada yang mencicipi kemolekan tubuh pacarnya.”

Kalimat “dengan wajah sedih” menunjukkan bahwa pacar korban tidak bersalah. Wajah sedih menunjukkan penyesalan atas kejadian yang menimpa gadis LJ. Bukan hanya pacar korban yang diberi kesempatan untuk membela diri, salah seorang dari tersangka yang memperkosa korban juga membela diri seperti berikut:

“Sementara tersangka ES mengakui, telah melakukan hubungan badan dengan korban LJ karena tidak tahan melihat dua sejoli itu melakukan hubungan badan. Disaat giliran sayalah korban tidak berdaya lagi”.

Tersangka berusaha membela dirinya dengan mengatakan, ia memperkosa korban hanya karena tidak tahan menyaksikan sepasang kekasih itu berhubungan. Bukan karena kejahatannya ia memperkosa, tetapi adegan korban dengan pacarnya membuat ia memperkosa. Sedangkan kalimat “disaat giliran sayalah korban tak berdaya lagi” menunjukkan bahwa dirinya “tidak terlalu” bersalah. Karena yang menyebabkan korban tak berdaya bukan dia, tapi pacar korban sebagai pemerkosa pertama.

Sedangkan penderitaan dan perasaan korban, juga keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke SLTP hanya diwakili orang tua korban dan narasi wartawan. Hal tersebut terlihat dari kutipan tes berita berikut:

“Dikatakan sejak peristiwa itu, anaknya mengalami trauma dan sering termenung. Bahkan selera makanpun tidak ada. Ros 14, korban yang dipaksa berzina dengan pacarnya oleh delapan orang pria mengaku Tekab Polsekta Teladan beberapa hari lalu, tetap berkeinginan melanjutkan sekolahnya ke SLTP. Sedangkan orang tuanya tetap mengharapkan anaknya mau melanjutkan sekolahnya ke SLTP, dan tabah menghadapi cobaan ini.”

Kalimat diatas menunjukkan kepasrahan kedua orang tua korban, yang mengharapkan anaknya bisa tetap sekolah dan melupakan kejadian walaupun sangat menyakitkan. Waspada juga tidak memberi rasa simpati terhadap korban dan keluarga korban tetapi malah memojokkan korban dengan opini yang memperjelas bahwa apa yang dialami korban adalah musibah dan bikin malu seperti kalimat berikut:

“Kasus yang menimpa keluarga Usman ini ternyata telah diketahui masyarakat, sehingga bisa jadi saat ini mereka masih trauma dan malu dengan musibah yang menimpa mereka.”
Dari kalimat diatas, Waspada hanya menyiratkan bahwa yang pantas merasa malu itu hanya korban dan keluarganya. Padahal seharusnya para pelakulah yang semestinya yang merasa malu atas perbuatan mereka itu. Dan kalimat ini juga memperjelas bahwa dalam setiap kasus perkosaan, bagaimanapun peristiwanya wanitalah yang pantas menanggung malu bukan laki-laki.

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: